Kelas Tafsir Al-Qur’an Maudhu’i ICC Jakarta pada Kamis, 27 November 2025 kembali menghadirkan kajian tematik bersama Ustaz Hafidh Alkaf. Pada pertemuan kali ini, beliau mengangkat topik yang sangat dekat dengan kehidupan manusia: konsep pertemanan dalam Al-Qur’an. Menurutnya, seseorang yang hidup tanpa teman adalah kondisi yang tidak lazim karena pada dasarnya manusia diciptakan untuk saling berinteraksi.
Ustaz Hafidh Alkaf menjelaskan bahwa hubungan pertemanan sering kali membentuk kepribadian seseorang. Jika ingin mengetahui karakter seseorang, lihatlah siapa teman-temannya. Beliau mengutip syair Arab klasik: siapa berteman dengan orang mulia akan menjadi mulia, dan siapa berteman dengan orang hina tidak akan mencapai kemuliaan. Bahkan kulit yang tampak hina akan dicium manusia ketika menjadi sampul mushaf Al-Qur’an, menggambarkan betapa lingkungan dapat mengangkat atau merendahkan seseorang.
Karena itu Al-Qur’an menggambarkan bahwa pertemanan yang dibangun di dunia akan mencerminkan akibatnya di akhirat. Ustaz Hafidh Alkaf mengutip firman Allah:
“Al-akhillā’u yauma’idhim ba‘dluhum liba‘dlin ‘aduwwun illal-muttaqīn.”
“Teman-teman akrab pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Az-Zukhruf [43]: 67)
Beliau kemudian membawakan sebuah kisah pada masa Nabi Muhammad SAW tentang seseorang dari Quraisy yang bersikap baik kepada Nabi SAW. Orang itu tidak memiliki persoalan dengan Nabi dan suatu hari mengundang beliau ke rumahnya. Namun sahabat-sahabat dekatnya adalah Abu Jahal, Umayyah bin Khalaf, dan Abu Lahab. Ketika orang itu berbicara sopan kepada Nabi SAW, teman-temannya menantangnya: apakah ia telah masuk Islam? Ia menjawab tidak, hanya bersikap baik sebagai sesama Quraisy. Mereka kemudian meminta agar ia meludahi dan menghina Nabi SAW sebagai bukti bahwa ia tidak mengikuti ajaran Islam. Karena tekanan pertemanan, ia pun melakukannya. Peristiwa ini menjadi sebab turunnya ayat:
“Yā wailatā laitanī lam attakhidz fulānan khalīlā.”
“Celakalah aku! Sekiranya dulu aku tidak menjadikan si fulan sebagai teman setia.”
(QS. Al-Furqan [25]: 28)
“Laqad adlallani ‘anidz-dzikri ba‘da idz jā’anī, wa kānasy-syaithānu lil-insāni khadzūlā.”
“Sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan ketika peringatan itu datang kepadaku. Setan adalah makhluk yang sangat ingkar dalam menolong manusia.”
(QS. Al-Furqan [25]: 29)
Melalui kisah ini, Ustaz Hafidh Alkaf menekankan bahwa Al-Qur’an hanya mengisahkan pelaku keburukan apabila memang tidak ada lagi peluang baginya untuk kembali kepada kebaikan, atau jika ia telah tiada. Artinya, kasus itu menjadi pelajaran mendalam tentang pengaruh lingkungan yang salah.
Beliau kemudian memaparkan bahwa Al-Qur’an memberikan kriteria teman yang baik. Pertama, teman yang benar dan jujur, sebagaimana firman Allah:
“Yā ayyuhalladzīna āmanut-taqullāha wa kūnū ma‘ash-shādiqīn.”
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tetaplah bersama orang-orang yang benar.”
(QS. At-Taubah [9]: 119)
Kedua, teman yang selalu mengingat Allah dan tidak terpengaruh gemerlap dunia:
“Washbir nafsaka ma‘alladzīna yad‘ūna rabbahum bil-ghadāti wal-‘asyiyyi yurīdūna waj-hahū. Wa lā ta‘du ‘aināka ‘anhum turīdu zīnat al-hayāt ad-dunyā. Wa lā tuthi‘ man aghfalnā qalbahū ‘an dzikrinā wattaba‘a hawāhū wa kāna amruhū furuthā.”
“Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pagi dan petang untuk mencari keridaan-Nya. Janganlah pandanganmu berpaling dari mereka demi mengharapkan perhiasan dunia. Jangan ikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami dan hanya menuruti hawa nafsunya.”
(QS. Al-Kahf [18]: 28)
Ketiga, teman yang menambah keimanan:
“Huwa alladzī anzala as-sakīnata fī qulūbil-mu’minīna liyazdādū īmānan ma‘a īmānihim.”
“Dialah yang menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang beriman agar mereka bertambah iman di atas iman mereka.”
(QS. Al-Fath [48]: 4)
Keempat, teman yang menjaga akhlak dan lisannya:
“Wa ‘ibādur-Rahmānilladzīna yamsyūna ‘alal-ardli haunā wa idzā khāthabahumul-jāhilūna qālū salāmā.”
“Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah mereka yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila disapa orang-orang bodoh, mereka mengucapkan kata-kata yang damai.”
(QS. Al-Furqan [25]: 63)
Ustaz Hafidh Alkaf juga mencontohkan keteladanan para sahabat Nabi SAW, khususnya kaum Ansar, yang menjadikan iman sebagai fondasi utama hubungan mereka. Ketulusan itu terekam dalam firman Allah:
“Walladzīna tabawwa’ud-dāra wal-īmāna min qablihim yuhibbūna man hājara ilaihim, wa lā yajidūna fī shudūrihim ḥājatan mimmā ūtu, wa yu’tsirūna ‘alā anfusihim walau kāna bihim khaṣāṣah.”
“Orang-orang Ansar mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Mereka tidak merasa iri terhadap apa yang diberikan kepada kaum Muhajirin dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas diri mereka sendiri meskipun kebutuhan mereka mendesak.”
(QS. Al-Hasyr [59]: 9)
Beliau menegaskan bahwa pertemanan seseorang tidak berhenti di dunia, melainkan akan dikenang di akhirat. Al-Qur’an menggambarkan seseorang yang mencari temannya di akhirat:
“Faththala‘a farāhu fī sawā’il-jahīm.”
“Lalu ia melihat temannya berada di tengah-tengah neraka Jahim.”
(QS. Ash-Shaffat [37]: 55)



