Pada hari Jumat, 2 Januari 2026, Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta menggelar pertemuan ketiga belas Kelas Tafsir Tartibi bersama Syaikh Mohammad Sharifani. Dalam kajian kali ini, beliau memberikan ulasan mendalam mengenai kebenaran diutusnya Rasulullah saw serta berbagai bentuk pengingkaran kaum Yahudi yang terekam dalam surah al-Baqarah. Beliau mengawali pembahasan dengan merujuk pada ayat 76 yang menyingkap tabiat munafik di kalangan mereka:
wa idzâ laqulladzîna âmanû qâlû âmannâ, wa idzâ khalâ ba‘dluhum ilâ ba‘dling qâlû a tuḫadditsûnahum bimâ fataḫallâhu ‘alaikum liyuḫâjjûkum bihî ‘inda rabbikum, a fa lâ ta‘qilûn
“Apabila berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata, ‘Kami telah beriman.’ Akan tetapi, apabila kembali kepada sesamanya, mereka bertanya, ‘Apakah akan kamu ceritakan kepada mereka apa yang telah diterangkan Allah kepadamu sehingga mereka dapat menyanggah kamu di hadapan Tuhanmu? Apakah kamu tidak mengerti?’” (QS. al-Baqarah [2]: 76)
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan kelicikan kaum Yahudi munafik yang berpura-pura beriman di depan Muslimin, namun saat kembali ke kelompoknya, mereka saling memperingatkan agar tidak membocorkan hakikat kitab Taurat yang membenarkan kenabian Muhammad saw. Mereka khawatir informasi tersebut menjadi senjata bagi kaum mukmin untuk menyanggah argumen mereka di hadapan Tuhan kelak. Terhadap perilaku ini, Al-Qur’an memberikan jawaban telak pada ayat berikutnya:
a wa lâ ya‘lamûna annallâha ya‘lamu mâ yusirrûna wa mâ yu‘linûn
“Tidakkah mereka tahu bahwa Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka nyatakan?” (QS. al-Baqarah [2]: 77)
Beliau menyimpulkan bahwa kesalahan fatal mereka adalah menyangka Allah swt tidak mengetahui perbuatan mereka. Penyimpangan ini mencakup penolakan terhadap keinginan masyarakat untuk mengetahui hakikat kitab asli serta upaya menyembunyikan isi asli Taurat dengan berbagai alasan guna menghindari diskusi tentang kewajiban mengikuti Rasulullah saw. Lebih lanjut, beliau membedah ayat 78 mengenai adanya kelompok yang tidak memahami kitab suci mereka sendiri:
wa min-hum ummiyyûna lâ ya‘lamûnal-kitâba illâ amâniyya wa in hum illâ yadhunnûn
“Di antara mereka ada yang umi, tidak memahami Kitab (Taurat), kecuali hanya berangan-angan dan mereka hanya menduga-duga.” (QS. al-Baqarah [2]: 78)
Syaikh Mohammad Sharifani mempertegas makna kata Ummiyyûna yang dapat dinisbatkan pada dua hal: ibu (um) yang melahirkan, atau kota Makkah (Ummul Qura) di mana banyak kaum Yahudi tinggal dalam kondisi buta huruf. Beliau menekankan perbedaan konteksnya; jika dinisbatkan pada kelompok jahil yang merasa tahu, itu merupakan penghinaan atas kebebalan mereka. Namun, jika dinisbatkan kepada Rasulullah saw, gelar Ummi adalah kemuliaan, karena tanpa diajari manusia, beliau mampu menerima mukjizat Al-Qur’an yang mengandung jutaan ilmu pengetahuan secara langsung dari Allah swt. Adapun kata amâniyya bermakna keinginan yang tidak benar atau harapan kosong yang dimasukkan setan ke dalam jiwa manusia, sehingga ia justru jauh dari hakikat Ilahi dan menyebabkan ia tidak memahami realita; bahkan ketika ia tidak tahu, ia merasa tahu. Puncak kecaman Allah swt terdapat pada ayat 79, di mana Syaikh Mohammad Sharifani menyoroti kata Wailul:
fa wailul lilladzîna yaktubûnal-kitâba bi’aidîhim tsumma yaqûlûna hâdzâ min ‘indillâhi liyasytarû bihî tsamanang qalîlâ, fa wailul lahum mimmâ katabat aidîhim wa wailul lahum mimmâ yaksibûn
“Celakalah orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka (sendiri), kemudian berkata, ‘Ini dari Allah,’ (dengan maksud) untuk menjualnya dengan harga murah. Maka, celakalah mereka karena tulisan tangan mereka dan celakalah mereka karena apa yang mereka perbuat.” (QS. al-Baqarah [2]: 79)
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa Wailul bisa bermakna celaka, buruk, kasar, azab yang pedih, kehancuran, kematian, hingga merujuk pada nama sumur di dasar neraka Jahanam. Kata ini diulang secara unik sebanyak tiga kali dalam satu ayat karena mereka telah melakukan dosa paling besar menurut Allah: menyelewengkan ajaran Ilahi, berbohong, dan mencari nafkah dari kebohongan tersebut. Kesombongan ini berlanjut pada keyakinan bahwa neraka tidak akan menyentuh mereka kecuali beberapa hari saja:
wa qâlû lan tamassanan-nâru illâ ayyâmam ma‘dûdah, qul attakhadztum ‘indallâhi ‘ahdan fa lay yukhlifallâhu ‘ahdahû am taqûlûna ‘alallâhi mâ lâ ta‘lamûn
“Mereka berkata, ‘Neraka tidak akan menyentuh kami, kecuali beberapa hari saja.’ Katakanlah, ‘Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan mengingkari janji-Nya ataukah kamu berkata tentang Allah sesuatu yang tidak kamu ketahui?’” (QS. al-Baqarah [2]: 80)
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian memaparkan klaim-klaim superioritas mereka yang merasa sebagai “kekasih Tuhan”. Beliau merujuk pada surah al-Ma’idah ayat 18 untuk menunjukkan betapa jauhnya mereka dari realitas kebenaran:
wa qâlatil-yahûdu wan-nashârâ naḫnu abnâ’ullâhi wa aḫibbâ’uh, qul fa lima yu‘adzdzibukum bidzunûbikum, bal antum basyarum mim man khalaq, yaghfiru limay yasyâ’u wa yu‘adzdzibu may yasyâ’, wa lillâhi mulkus-samâwâti wal-ardli wa mâ bainahumâ wa ilaihil-mashîr
“Orang Yahudi dan orang Nasrani berkata, ‘Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.’ Katakanlah, ‘(Jika benar begitu,) mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu? Sebaliknya, kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang Dia ciptakan. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan menyiksa siapa yang Dia kehendaki (pula). Milik Allahlah kerajaan langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya, dan kepada-Nya semua akan kembali.’” (QS. al-Ma’idah [5]: 18)
Keyakinan ini sering kali memunculkan anggapan eksklusif bahwa hanya kelompok mereka yang berhak masuk surga. Al-Qur’an membantah klaim tersebut secara gamblang melalui surah al-Baqarah ayat 111:
wa qâlû lay yadkhulal-jannata illâ mang kâna hûdan au nashârâ, tilka amâniyyuhum, qul hâtû bur-hânakum ing kuntum shâdiqîn
“Mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, ‘Tidak akan masuk surga kecuali orang Yahudi atau Nasrani.’ Itu (hanya) angan-angan mereka. Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu orang-orang yang benar.’” (QS. al-Baqarah [2]: 111)
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa klaim eksklusivitas tersebut hanyalah angan-angan (amâniyyuhum) yang tidak berdasar. Terhadap klaim-klaim tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa Al-Qur’an mengajarkan jalan keselamatan yang bersifat universal dan adil melalui ayat 81 dan 82:
balâ mang kasaba sayyi’ataw wa ‘aḫâthat bihî khathî’atuhû fa ulâ’ika ash-ḫâbun-nâr, hum fîhâ khâlidûn
“Bukan demikian! Siapa yang berbuat keburukan dan dosanya telah menenggelamkannya, mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. al-Baqarah [2]: 81)
walladzîna âmanû wa ‘amilush-shâliḫâti ulâ’ika ash-ḫâbul-jannah, hum fîhâ khâlidûn
“Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka itulah penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. al-Baqarah [2]: 82)
Sebagai penutup kajian, Syaikh Mohammad Sharifani mengulas ayat 83 mengenai janji (Mîtsâq) yang diingkari oleh Bani Israil. Beliau menyoroti bagaimana Al-Qur’an menggunakan metode pendidikan yang lembut dengan mengingatkan komitmen yang telah disepakati:
wa idz akhadznâ mîtsâqa banî isrâ’îla lâ ta‘budûna illallâha wa bil-wâlidaini iḫsânaw wa dzil-qurbâ wal-yatâmâ wal-masâkîni wa qûlû lin-nâsi ḫusnaw wa aqîmush-shalâta wa âtuz-zakâh, tsumma tawallaitum illâ qalîlam mingkum wa antum mu‘ridlûn
“(Ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari Bani Israil, ‘Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuatbaiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Selain itu, bertutur katalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah salat, dan tunaikanlah zakat.’ Akan tetapi, kamu berpaling (mengingkarinya), kecuali sebagian kecil darimu, dan kamu (masih menjadi) pembangkang.” (QS. al-Baqarah [2]: 83)
Syaikh Mohammad Sharifani memuji cara Al-Qur’an mendidik manusia yang lupa janji melalui frasa wa idz akhadznâ, yang mengingatkan tanpa menghina atau menggunakan perintah kasar. Beliau menekankan betapa tingginya maqam orang tua karena perintah berbakti diletakkan langsung setelah kewajiban tauhid. Selain itu, beliau merinci hirarki prioritas kebajikan dalam berinfak: untuk Allah, orang tua, kerabat, anak yatim, baru kemudian orang miskin. Beliau mengakhiri kajian dengan menjelaskan bahwa penggunaan kata tawallaitum (berpaling) yang diperkuat dengan mu‘ridlûn (pembangkang) menunjukkan karakter kaum tersebut yang sudah sangat keras kepala dan tidak dapat dipercaya lagi.



