Skip to main content

Peringatan wiladah Imam Ali as di Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta diselenggarakan pada hari Sabtu, 3 Januari 2026. Acara diawali dengan pembacaan Doa Ziarah Jamiah Kabirah yang dipimpin oleh Direktur ICC, Syaikh Mohammad Sharifani. Sesi selanjutnya adalah pembukaan oleh Ustaz Ali Husain Alatas yang menyampaikan bahwa hari ini bertepatan dengan tanggal 13 Rajab, yaitu hari memperingati kelahiran Imam Ali as, sosok teladan dalam keimanan, keberanian, dan ilmu pengetahuan. Beliau menekankan bahwa Imam Ali as adalah satu-satunya sosok sepanjang sejarah dunia ini yang lahir di dalam Ka’bah. Banyak sekali keutamaan Imam Ali as, bahkan sebuah buku mencatat terdapat 500 ayat di dalam Al-Qur’an yang menuliskan keutamaan beliau, salah satunya di dalam surah Asy-Syura ayat 23:

dzâlikalladzî yubasysyirullâhu ‘ibâdahulladzîna âmanû wa ‘amilush-shâliḫât, qul lâ as’alukum ‘alaihi ajran illal-mawaddata fil-qurbâ, wa may yaqtarif ḫasanatan nazid lahû fîhâ ḫusnâ, innallâha ghafûrun syakûr
“Itulah (karunia) yang (dengannya) Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh. Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Aku tidak meminta kepadamu suatu imbalan pun atas seruanku, kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.’ Siapa mengerjakan kebaikan, akan Kami tambahkan kebaikan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”

Acara kemudian dilanjutkan dengan tilawah Al-Qur’an oleh Ustaz Usep Irawan dan pembacaan puisi oleh Sayyid Albar. Ceramah utama disampaikan oleh Ustaz Husein AlKaff yang mengawali dengan ucapan selamat atas kelahiran mulia dan manusia agung setelah Rasulullah saw. Beliau menyatakan bahwa pada hari semacam ini kita patut memperingati dan membesarkan hari kelahiran Imam Ali as merujuk pada surah Ibrahim ayat 5:

wa laqad arsalnâ mûsâ bi’âyâtinâ an akhrij qaumaka minadh-dhulumâti ilan-nûri wa dzakkir-hum bi’ayyâmillâh, inna fî dzâlika la’âyâtil likulli shabbârin syakûr
“Sungguh Kami benar-benar telah mengutus Musa dengan (membawa) tanda-tanda (kekuasaan) Kami (dan Kami perintahkan kepadanya), ‘Keluarkanlah kaummu dari berbagai kegelapan kepada cahaya (terang-benderang) dan ingatkanlah mereka tentang hari-hari Allah.’ Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sangat penyabar lagi banyak bersyukur.”

Ustaz Husein AlKaff menjelaskan bahwa ayat ini dengan tegas memerintahkan kita untuk mengingat hari-hari besar atau “Hari-Hari Allah” swt, yaitu peristiwa besar yang terjadi di alam ini, seperti saat umat Islam memenangkan peperangan atau hari kelahiran Rasulullah saw. Hari kelahiran Imam Ali as yang sangat fenomenal di dalam Ka’bah tentu termasuk Hari Allah swt. Beliau bersyukur para jemaah dapat hadir dalam suasana tahun baru dengan semangat baru tahun 2026 untuk mengawali tahun dengan memperbaharui dan meningkatkan kualitas diri melalui pengenangan sosok Imam Ali as.

Ustaz Husein AlKaff kemudian memaparkan beberapa masalah berkaitan dengan Imam Ali as, dimulai dengan hakikat Allah swt sebagai Zat yang Maha Indah. Karena Allah Maha Indah, maka segala hal yang berasal dari Allah swt adalah indah. Karena Allah swt adalah Zat yang abstrak, ghaib, tidak bisa diukur, dan tidak bisa dilihat oleh pancaindera serta akal kita, maka Allah memanifestasikan diri-Nya melalui ciptaan-Nya. Salah satu ciptaan Allah swt adalah alam semesta ini, di mana kita diperintahkan agar merenungkan, mengamati, dan menghayati ciptaan-Nya sebagaimana tertuang dalam surah Al-Jatsiyah ayat 13:

wa sakhkhara lakum mâ fis-samâwâti wa mâ fil-ardli jamî‘am min-h, inna fî dzâlika la’âyâtil liqaumiy yatafakkarûn
“Dia telah menundukkan (pula) untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”

Di dalam sebuah ayat lain, Allah swt juga berfirman:

alladzîna yadzkurûnallâha qiyâmaw wa qu‘ûdaw wa ‘alâ junûbihim wa yatafakkarûna fî khalqis-samâwâti wal-ardl, rabbanâ mâ khalaqta hâdzâ bâthilâ, sub-ḫânaka fa qinâ ‘adzâban-nâr “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka.’ (Ali ‘Imran ayat 191).”

Ustaz Husein AlKaff menekankan bahwa pengamatan terhadap alam semesta akan melahirkan ketakjuban pada ciptaan Allah swt, termasuk ketika memperhatikan hewan semacam unta, semut, dan unggas untuk mengamati keindahan ciptaan-Nya. Orang yang berakal dan berhati jernih pasti akan mengagumi ciptaan Allah swt tersebut. Karena manusia secara fitrah menyukai keindahan, maka Allah menampakkan wujud-Nya dalam ciptaan yang indah agar manusia mengagumi dan mencintai keindahan, yang kemudian dilanjutkan dengan kecintaan kepada Allah swt. Alam yang kaya raya dan mengagumkan ini adalah ciptaan yang bersifat materi, yang oleh Allah swt disebut sebagai tanda-tanda kebesaran-Nya.

Tanda kedua dari kebesaran Allah swt adalah ayat Al-Qur’an. Ustaz Husein AlKaff menjelaskan bahwa manusia ketika berakal dan fitrahnya menyala pasti akan mengagumi Al-Qur’an. Beliau menceritakan kisah seorang kafir Quraisy yang membenci Rasulullah saw namun ingin mengetahui Al-Qur’an, lalu meminta beliau membacakan surah Thaha. Setelah mendengarkan surah tersebut, ia kembali kepada kaumnya dan mengakui telah mendengar ungkapan yang begitu indah, tidak berasal dari manusia maupun jin. Ayat Al-Qur’an merupakan ayat yang indah isinya dan indah pula bacaannya. Sebagai umat Muslim, kita mendapatkan kenikmatan besar beriman kepada Allah swt, terlebih dengan mengakui wilayah Ahlul Bait as. Keindahan Allah swt yang lain terpancar pada para Nabi dan Ahlul Bait as yang merupakan manifestasi Allah swt yang sangat indah. Para nabi dari mulai Nabi Adam as sampai Nabi Muhammad saw adalah pribadi yang indah baik secara fisik maupun akhlak karena sebagai utusan pilihan Allah swt, mereka haruslah indah. Hal ini terekam dalam surah Yusuf tentang Zulaikha yang terpesona dengan ketampanan Nabi Yusuf as. Termasuk dari manifestasi Allah swt yang indah adalah Imam Ali as, di mana orang yang berakal dan memiliki fitrah bersih pasti akan mengagumi sosok beliau.

Ustaz Husein AlKaff membacakan beberapa pernyataan tokoh yang mengagumi keindahan Imam Ali as. Pertama, dari ulama terkenal Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafii yang mengungkapkan kekagumannya terhadap seseorang yang kakinya diletakkan di sebuah tempat bersamaan dengan berkah dari Allah swt; beliau merasa akal melarangnya menyebut Imam Ali as sekadar manusia biasa, namun beliau juga takut melampaui batas dalam memuji. Kedua, al-Khalil ibn Ahmad al-Farahidi, seorang ahli gramatika bahasa Arab, menyatakan bahwa meskipun musuh-musuh Imam Ali as menyembunyikan keutamaannya karena hasad dan para pecintanya menyembunyikan karena takut, namun keutamaan beliau tetap tampak memenuhi alam semesta. Kekaguman ini bahkan sampai kepada orang-orang Kristen di Lebanon, seperti Mikhail Na’imah yang menganggap Ali sebagai pemimpin bangsa Arab secara mutlak setelah Muhammad saw dan menyamakan ucapan-ucapan beliau dengan permata indah yang dikeluarkan oleh lautan. Adapun George Jordac mengatakan bahwa tidak ada manusia di tengah bangsa Arab yang mata hatinya sebersih Imam Ali as hingga mampu menangkap peristiwa dengan bahasa yang sangat indah. Bahkan musuh beliau, Muawiyah, menangis saat mendengar Dhirar bin Dhamrah menceritakan berbagai kemuliaan Imam Ali as dan mengakui bahwa begitulah sosok Abul Hasan.

Namun, Ustaz Husein AlKaff mengingatkan bahwa terkadang kekaguman saja tidak cukup untuk menjadi pengikut; diperlukan hidayah yang merupakan kenikmatan besar. Beliau mengutip perkataan Imam Ali as mengenai kedekatan beliau dengan Rasulullah saw: “Kalian mengetahui kedudukanku di samping Rasulullah saw sebagai kerabat yang dekat. Beliau meletakkanku di pangkuannya, memelukku, dan menempelkan jasadnya kepada jasadku. Aku di hadapan Nabi saw seperti anak unta bagi induknya yang tidak pernah terpisah kemanapun ia pergi aku menyertainya.” Imam Ali as juga menceritakan pendampingannya di Gua Hira, menyaksikan Jibril turun, dan mendengar rintihan setan karena wahyu.

Sebagai pengikut, Imam Ali as menjelaskan bahwa setiap makmum pasti ada imam yang diikuti, dan beliau sendiri cukup dengan dua pakaian saja di dunia. Meskipun beliau berada pada puncak zuhud, beliau tidak mengharuskan pengikutnya hidup se-ekstrem beliau, namun beliau meminta bantuan melalui empat perkara: berhati-hati menjalankan agama (wara’), bersungguh-sungguh dalam kebaikan, memiliki harga diri, dan kelurusan. Setelah ceramah usai, acara dimeriahkan dengan penampilan Hadrah Al-Mutazhar, dilanjutkan dengan pembacaan Doa Ziarah yang dipimpin oleh Ustaz Umar Shahab. Peringatan diakhiri dengan prosesi pemotongan kue wiladah oleh Syaikh Mohammad Sharifani dan pembagian hadiah kepada para hadirin.

Leave a Reply