Skip to main content

Dalam kajian Majelis Taklim Akhwat Zainab Al-Kubro yang diselenggarakan oleh ICC Jakarta pada Rabu, 31 Desember 2025, Ustaz Umar Shahab menyampaikan materi mengenai ayat-ayat Al-Qur’an yang turun berkaitan dengan Imam Ali bin Abi Thalib as. Sebelum membedah ayat-ayat tersebut, beliau memberikan pengantar penting bahwa ayat Al-Qur’an ada yang turun secara langsung sebagai perintah, peringatan, atau penjelasan, namun ada pula yang turun sebagai respons atas sebuah peristiwa atau pertanyaan yang dikenal sebagai asbabun nuzul.

Ustaz Umar Shahab memberikan contoh pada surah Al-Baqarah ayat 189: yas’alûnaka ‘anil-ahillah, qul hiya mawâqîtu lin-nâsi wal-ḫajj, wa laisal-birru bi’an ta’tul-buyûta min dhuhûrihâ wa lâkinnal-birra manittaqâ, wa’tul-buyûta min abwâbihâ wattaqullâha la‘allakum tufliḫûn (Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah, “Itu adalah penunjuk waktu bagi manusia dan ibadah haji.” Bukanlah suatu kebajikan memasuki rumah dari belakangnya, tetapi kebajikan itu adalah kebajikan orang yang bertakwa. Masukilah rumah-rumah dari pintu-pintunya, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung).

Beliau juga menyebutkan surah Al-Ikhlash ayat 1: qul huwallâhu aḫad (Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa), sebagai respons atas pertanyaan mengenai Allah swt, serta surah Al-Kautsar ayat 1: innâ a‘thainâkal-kautsar (Sesungguhnya Kami telah memberimu nikmat yang banyak), yang merespons ejekan kaum musyrik karena Nabi saw tidak memiliki keturunan laki-laki sekaligus menjadi jawaban atas doa Nabi saw yang meminta keturunan pelanjut keluarga.

Lebih lanjut, Ustaz Umar Shahab menjawab persoalan mengapa nama Imam Ali as tidak disebutkan secara spesifik dalam Al-Qur’an dan mengapa tidak dinyatakan secara tegas sebagai pelanjut risalah. Beliau menekankan bahwa tidak disebutnya nama secara spesifik tidak mengurangi sedikit pun kaimaman beliau. Beliau menganalogikannya dengan ibadah salat sebagai tiang agama dan amal yang pertama kali ditanya di akhirat. Meskipun Al-Qur’an memerintahkan salat berulang kali, tidak ada penjelasan rinci mengenai tata caranya. Hal ini terjadi karena rincian tersebut memang perlu dijelaskan oleh Nabi Muhammad saw. Maka, peran Rasulullah saw sangat menentukan karena perintah Al-Qur’an ada yang bersifat global dan ada yang rinci; agama seseorang tidak akan sempurna jika menafsirkan sendiri tanpa mengikuti sunnah Rasul.

Urusan imamah pasca-Rasulullah saw pun ditegaskan secara global dalam surah Al-Ma’idah ayat 55: innamâ waliyyukumullâhu wa rasûluhû walladzîna âmanulladzîna yuqîmûnash-shalâta wa yu’tûnaz-zakâta wa hum râki‘ûn (Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang menegakkan salat dan menunaikan zakat seraya rukuk). Ustaz Umar Shahab menggarisbawahi bahwa meski nama Imam Ali as tidak disebutkan secara khusus, namun saat ayat tersebut diturunkan, yang dimaksud oleh Allah swt pada pihak ketiga tersebut adalah Imam Ali bin Abi Thalib as.

Terdapat hikmah mengapa Allah swt tidak menyebutkan nama secara langsung, salah satunya untuk menghindari penolakan dari umat. Ustaz Umar Shahab merefleksikan kisah Nabi Musa as dan Nabi Harun as. Saat Nabi Musa as pergi ke Bukit Tursina dan menunjuk Nabi Harun as sebagai pengganti yang adil, Bani Israil tetap tidak mau patuh dan justru menyembah patung meskipun Nabi Musa as telah terang-terangan memerintahkan mereka untuk mematuhi Nabi Harun as. Hal ini menunjukkan bahwa penyebutan nama secara langsung pun tidak menjamin kepatuhan jika hati umat belum siap.

Urgensi imamah ini kemudian dideklarasikan secara terbuka oleh Rasulullah saw di Ghadir Khum pada 18 Dzulhijjah tahun 10 Hijriah, tak lama sebelum wafat. Deklarasi ini dilakukan setelah turunnya peringatan keras dalam surah Al-Ma’idah ayat 67: yâ ayyuhar-rasûlu balligh mâ unzila ilaika mir rabbik, wa il lam taf‘al fa mâ ballaghta risâlatah, wallâhu ya‘shimuka minan-nâs, innallâha lâ yahdil-qaumal-kâfirîn (Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika engkau tidak melakukan apa yang diperintahkan itu, berarti engkau tidak menyampaikan risalah-Nya. Allah menjaga engkau dari gangguan manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang kafir).

Ustaz Umar Shahab menekankan bahwa selama 23 tahun dakwah, perjuangan Rasulullah saw dianggap tidak ada artinya jika masalah imamah ini tidak dijelaskan. Maka dalam deklarasi Ghadir Khum, Nabi saw menegaskan, “Barangsiapa yang menjadikan aku ini pemimpinnya, maka tuannya sesudah aku adalah Ali bin Abi Thalib as.” Hal ini menunjukkan bahwa imamah menjadi sangat penting dan harus berdasar pada penjelasan Rasulullah saw agar orang tidak menafsirkan kepemimpinan secara sembarangan.

Leave a Reply