Melanjutkan ulasannya mengenai ayat-ayat yang turun berkaitan dengan Imam Ali bin Abi Thalib as dalam kajian Majelis Taklim Akhwat ICC Zainab Al-Kubro pada Rabu, 31 Desember 2025, Ustaz Umar Shahab membedah beberapa penggalan ayat suci. Beliau mengawali dengan surah Ar-Ra’d ayat 7: wa yaqûlulladzîna kafarû lau lâ unzila ‘alaihi âyatum mir rabbih, innamâ anta mundziruw wa likulli qaumin hâd (Orang-orang yang kufur berkata, “Mengapa tidak diturunkan kepadanya [Nabi Muhammad] suatu tanda [mukjizat] dari Tuhannya?” Sesungguhnya engkau [Nabi Muhammad] hanyalah seorang pemberi peringatan dan bagi setiap kaum ada pemberi petunjuk).
Terkait ayat ini, beliau merujuk pada riwayat At-Thabari, seorang ulama tafsir terkenal dari kalangan Ahlussunnah, yang meriwayatkan dari Ibnu Abbas. Dikisahkan bahwa ketika ayat ini turun, Rasulullah saw meletakkan tangannya di dada dan bersabda bahwa yang dimaksud sebagai pemberi peringatan adalah diri beliau sendiri. Kemudian, sambil memegang pundak Imam Ali as, Nabi saw berkata: “Engkaulah sang pemberi petunjuk.”
Ustaz Umar Shahab kemudian beralih pada surah Al-Haqqah ayat 12: linaj‘alahâ lakum tadzkirataw wa ta‘iyahâ udzunuw wâ‘iyah (agar Kami jadikan [peristiwa] itu sebagai peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar). Ayat ini merupakan pujian dari Allah swt kepada sekelompok orang yang memiliki kesadaran, yang disebut sebagai “telinga-telinga yang mendengar”. Beliau mengontraskan hal ini dengan kondisi penghuni neraka dalam surah Al-Mulk ayat 10: wa qâlû lau kunnâ nasma‘u au na‘qilu mâ kunnâ fî ash-ḫâbis-sa‘îr (Mereka juga berkata, “Andaikan dahulu kami mendengarkan atau memikirkan [peringatan itu], tentulah kami tidak termasuk ke dalam [golongan] para penghuni [neraka] Sa‘ir [yang menyala-nyala]”).
Artinya, untuk masuk ke dalam surga, seseorang harus mau mendengar, tidak menutup diri, dan mau berpikir. Dalam menjelaskan ayat tentang “telinga yang sadar” tersebut, Imam Ali as berkata bahwa Rasulullah saw telah memohon kepada Allah swt agar Ali dijadikan sosok yang memiliki pendengaran yang sadar, dan doa tersebut dikabulkan. Imam Ali as menegaskan bahwa beliau selalu mendengar Rasulullah saw dan tidak pernah melupakan satu pun hal yang beliau dengar dari Nabi saw.
Beliau memaparkan bahwa Al-Qur’an lebih mengedepankan kriteria dan jarang menyebut sosok secara spesifik, kecuali dalam kasus tertentu. Contohnya pada surah Al-Kafirun ayat 1: qul yâ ayyuhal-kâfirûn (Katakanlah: Wahai orang-orang kafir), yang menekankan kriteria kekafiran. Begitu pula peringatan tentang bahaya orang munafik dalam surah Al-Munafiqun ayat 1: idzâ jâ’akal munâfiqûna qâlû nasy-hadu innaka larasûlullâh, wallâhu ya‘lamu innaka larasûluh, wallâhu yasy-hadu innal-munâfiqîna lakâdzibûn (Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, “Kami bersaksi bahwa engkau adalah benar-benar utusan Allah.” Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar utusan-Nya. Allah pun bersaksi bahwa orang-orang munafik itu benar-benar para pendusta).
Pada ayat 4 surah yang sama disebutkan: wa idzâ ra’aitahum tu‘jibuka ajsâmuhum, wa iy yaqûlû tasma‘ liqaulihim, ka’annahum khusyubum musannadah, yaḫsabûna kulla shaiḫatin ‘alaihim, humul-‘aduwwu faḫdzar-hum, qâtalahumullâhu annâ yu’fakûn (Apabila engkau melihat mereka, tubuhnya mengagumkanmu. Jika mereka bertutur kata, engkau mendengarkan tutur katanya. Mereka bagaikan seonggok kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa setiap teriakan ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh yang sebenarnya. Maka, waspadalah terhadap mereka). Ustaz Umar Shahab menjelaskan bahwa Al-Qur’an tidak menyebut nama tokoh munafik seperti Ubay bin Salul agar umat memahami kriterianya, bukan sekadar tertuju pada individu.
Pola kriteria ini juga muncul dalam surah Al-Baqarah ayat 274: alladzîna yunfiqûna amwâlahum bil-laili wan-nahâri sirraw wa ‘alâniyatan fa lahum ajruhum ‘inda rabbihim, wa lâ khaufun ‘alaihim wa lâ hum yaḫzanûn (Orang-orang yang menginfakkan hartanya pada malam dan siang hari, baik secara rahasia maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak pula mereka bersedih). Yang dimaksud memiliki kriteria tersebut adalah Imam Ali as. Beliau mengisahkan riwayat saat Imam Ali as hanya memiliki uang empat dirham; beliau menginfakkannya masing-masing satu dirham pada malam hari, siang hari, secara diam-diam, dan secara terang-terangan karena mengharap ganjaran dari Allah swt.
Sebagai penutup, Ustaz Umar Shahab mengulas surah Al-Bayyinah ayat 7: innalladzîna âmanû wa ‘amilush-shâliḫâti ulâ’ika hum khairul-bariyyah (Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itulah sebaik-baik makhluk). Beliau merujuk pada riwayat Ibnu Asakir dari Jabir bin Abdullah, bahwa suatu hari saat para sahabat sedang bersama Rasulullah saw, datanglah Imam Ali as. Nabi saw kemudian bersabda sambil menunjuk Ali: “Demi jiwaku yang ada di tangan Allah, orang ini dan syiahnya (pengikutnya) merekalah orang-orang yang beruntung di hari kiamat.” Setelah turunnya ayat ini, para sahabat senantiasa menyambut kehadiran Imam Ali as dengan ucapan: “Telah datang manusia terbaik.”



