Majelis Taklim Akhwat Zainab Al-Kubro yang diselenggarakan oleh Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta kembali mengadakan kajian rutin pada Rabu, 7 Januari 2026. Dalam kesempatan tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani hadir sebagai narasumber utama untuk melanjutkan penjelasan mendalam mengenai firman Allah swt dalam surah Al-Anfal ayat 24:
yâ ayyuhalladzîna âmanustajîbû lillâhi wa lir-rasûli idzâ da‘âkum limâ yuḫyîkum, wa‘lamû annallâha yaḫûlu bainal-mar’i wa qalbihî wa annahû ilaihi tuḫsyarûn
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul (Nabi Muhammad) apabila dia menyerumu pada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu! Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dengan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.”
Syaikh Mohammad Sharifani menekankan bahwa ayat tersebut memberikan penegasan bahwa setiap seruan Allah swt dan Rasul-Nya senantiasa bermuara pada sesuatu yang menghidupkan manusia, baik berupa pelajaran maupun nilai-nilai luhur yang diajarkan demi memberikan manfaat serta kehidupan yang hakiki. Beliau menjelaskan bahwa agar manusia dapat mencapai posisi “hidup” tersebut, terdapat tiga jalan utama yang harus ditempuh secara beriringan. Jalan pertama adalah memiliki pengetahuan atau yang dikenal dengan istilah makrifat. Jalan kedua adalah kemampuan untuk berpikir rasional dengan memaksimalkan penggunaan akal. Sedangkan jalan ketiga adalah seseorang harus senantiasa berpikir memanfaatkan pengetahuan serta kekuatan akal dengan cara menjalankan kerja pikir yang nyata.
Dalam pandangan Syaikh Mohammad Sharifani, Al-Qur’an sangat kaya akan seruan bagi manusia untuk senantiasa berpikir. Beliau memaparkan bahwa banyak ayat yang memerintahkan manusia melakukan sesuatu, namun kemudian menjelaskan tujuannya agar manusia menggunakan nalar mereka. Hal ini dapat ditemukan dalam surah Ali ‘Imran ayat 190:
inna fî khalqis-samâwâti wal-ardli wakhtilâfil-laili wan-nahâri la’âyâtil li’ulil-albâb
Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.”
Perintah untuk merenungi tanda-tanda kebesaran Pencipta ini dipertegas kembali pada surah Ali ‘Imran ayat 191:
alladzîna yadzkurûnallâha qiyâmaw wa qu‘ûdaw wa ‘alâ junûbihim wa yatafakkarûna fî khalqis-samâwâti wal-ardl, rabbanâ mâ khalaqta hâdzâ bâthilâ, sub-ḫânaka fa qinâ ‘adzâban-nâr
Artinya: “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka.”
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, ayat-ayat ini merupakan bentuk pujian Allah swt kepada orang-orang yang senantiasa menggunakan nalarnya dalam setiap aspek kehidupan. Al-Qur’an secara konsisten menjelaskan perlunya manusia melakukan aktivitas intelektual tersebut, sebagaimana yang tertuang dalam surah Al-Jatsiyah ayat 13:
wa sakhkhara lakum mâ fis-samâwâti wa mâ fil-ardli jamî‘am min-h, inna fî dzâlika la’âyâtil liqaumiy yatafakkarûn
Artinya: “Dia telah menundukkan (pula) untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”
Urgensi untuk berpikir ini tidak hanya terbatas pada fenomena alam, melainkan juga dalam mengambil hikmah dari sejarah. Sebagaimana firman-Nya dalam surah Al-A’raf ayat 176: faqshushil-qashasha la‘allakum yatafakkarûn yang artinya: “Maka, ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menyitir sebuah hadis dari Imam Ali as yang menegaskan bahwa orang yang senantiasa berpikir akan mampu menangkap kebenaran dengan jernih. Oleh karena itu, jika pada langkah pertama Allah swt memerintahkan manusia untuk berpikir, merenung, membandingkan, dan menilai secara objektif, maka pada tahap selanjutnya Al-Qur’an mengarahkan kita untuk mengambil pelajaran dari suatu peristiwa, nasihat seseorang, serta tanda-tanda kebesaran Allah swt.
Jalan kedua yang diperintahkan oleh Al-Qur’an adalah mengambil pelajaran dari suatu peristiwa, nasihat seseorang, serta tanda-tanda kebesaran Allah swt. Hal ini ditegaskan oleh Allah swt melalui firman-Nya dalam surah Al-An’am ayat 126: wa hâdzâ shirâthu rabbika mustaqîmâ, qad fashshalnal-âyâti liqaumiy yadzdzakkarûn yang artinya: “Inilah jalan Tuhanmu yang lurus. Sungguh, Kami telah menjelaskan secara rinci ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran.”
Prinsip mengambil pelajaran ini juga ditekankan dalam surah An-Nahl ayat 13: wa mâ dzara’a lakum fil-ardli mukhtalifan alwânuh, inna fî dzâlika la’âyatal liqaumiy yadzdzakkarûn yang artinya: “(Dia juga mengendalikan) apa yang Dia ciptakan untukmu di bumi ini dengan berbagai jenis dan macam warnanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran.” Allah swt bahkan memberikan jaminan kemudahan bagi siapa saja yang ingin memetik hikmah sebagaimana tertuang dalam surah Al-Qamar ayat 40: wa laqad yassarnal-qur’âna lidz-dzikri fa hal mim muddakir yang artinya: “Sungguh, Kami benar-benar telah memudahkan Al-Qur’an sebagai pelajaran. Maka, adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”
Jalan ketiga yang harus ditempuh adalah mendalami pengetahuan. Pentingnya hal ini dijelaskan dalam surah At-Taubah ayat 122: wa mâ kânal-mu’minûna liyanfirû kâffah, falau lâ nafara ming kulli firqatim min-hum thâ’ifatul liyatafaqqahû fid-dîni wa liyundzirû qaumahum idzâ raja‘û ilaihim la‘allakum yaḫdzarûn yang artinya: “Tidak sepatutnya orang-orang mukmin pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi (tinggal bersama Rasulullah) untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya?” Merujuk pada ayat ini, Nabi Muhammad saw mengatakan kalau Allah swt menghendaki seseorang kebaikannya maka orang itu akan dibuat oleh Allah swt mengerti agama. Imam Ali as pun mengingatkan agar kita jangan sampai menjadi orang-orang bodoh yang tidak mengerti agama.
Langkah berikutnya yang sangat krusial adalah tadabbur, yaitu melakukan telaah mendalam untuk sampai kepada satu yang tidak terlihat di balik realitas yang tampak. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa tadabbur dilakukan untuk mencapai suatu kesimpulan atas pengamatan dari apa-apa yang terlihat, terutama terhadap kitab suci. Allah swt berfirman dalam surah Shad ayat 29: kitâbun anzalnâhu ilaika mubârakul liyaddabbarû âyâtihî wa liyatadzakkara ulul-albâb yang artinya: “(Al-Qur’an ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu (Nabi Muhammad) yang penuh berkah supaya mereka menghayati ayat-ayatnya dan orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.” Maka, terdapat hadis yang menyatakan bahwa jika Al-Qur’an hanya dibaca saja tanpa dihayati, maka tidak akan memberikan banyak manfaat bagi kehidupan.
Pada saat yang sama ketika Allah swt memerintahkan kita untuk berpikir, Allah juga mengingatkan agar kita tidak melakukan sebaliknya, yaitu berlaku bodoh. Hal ini diperingatkan dalam surah Al-Anfal ayat 22: inna syarrad-dawâbbi ‘indallâhish-shummul-bukmulladzîna lâ ya‘qilûn yang artinya: “Sesungguhnya seburuk-buruk makhluk yang bergerak di atas bumi dalam pandangan Allah ialah mereka yang tuli dan bisu (tidak mau mendengar dan tidak mau mengatakan kebenaran), yaitu orang-orang yang tidak mengerti.” Imam Ali as pun menekankan bahwa kebodohan itu adalah kematian, musuh utama manusia, seburuk-buruknya obat, penyebab manusia tergelincir, dan biang dari semua kejahatan.
Syaikh Mohammad Sharifani menyimpulkan bahwa objek pengamatan dari Al-Qur’an terbagi menjadi dua, yakni objek alam semesta dan nilai-nilai agama. Keduanya harus selaras karena pengamatan terhadap alam seharusnya membawa kesadaran terhadap Tuhan yang menuntut kita untuk mendalami agama. Beliau membedakan antara ilmu yang bermanfaat dan tidak bermanfaat, sebagaimana surah Al-A’raf ayat 203: wa idzâ lam ta’tihim bi’âyating qâlû lau lajtabaitahâ, qul innamâ attabi‘u mâ yûḫâ ilayya mir rabbî, hâdzâ bashâ’iru mir rabbikum wa hudaw wa raḫmatul liqaumiy yu’minûn yang artinya: “Jika engkau (Nabi Muhammad) tidak membacakan satu ayat kepada mereka, mereka berkata, “Mengapa tidak engkau buat sendiri ayat itu?” Katakanlah, “Sesungguhnya aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. (Al-Qur’an) ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk, dan rahmat bagi kaum yang beriman.”
Hal ini diperkuat dengan surah Al-Hajj ayat 24: wa hudû ilath-thayyibi minal-qaûl, wa hudû ilâ shirâthil-ḫamîd yang artinya: “Mereka diberi petunjuk pada ucapan yang baik dan diberi petunjuk (pula) ke jalan (Allah) Yang Maha Terpuji.” Begitu pula dalam surah Az-Zumar ayat 17-18: walladzînajtanabuth-thâghûta ay ya‘budûhâ wa anâbû ilallâhi lahumul-busyrâ, fa basysyir ‘ibâd yang artinya: “Orang-orang yang menjauhi tagut, (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali (bertobat) kepada Allah, bagi mereka berita gembira. Maka, sampaikanlah kabar gembira itu kepada hamba-hamba-Ku.” Dilanjutkan dengan ayat 18: alladzîna yastami‘ûnal-qaula fa yattabi‘ûna aḫsanah, ulâ’ikalladzîna hadâhumullâhu wa ulâ’ika hum ulul-albâb yang artinya: “(Yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah ululalbab.”
Menutup kajian, beliau mengutip pesan Imam Ali as agar kita mengajarkan ilmu yang datang dari Ahlul Bait kepada anak-anak agar tidak terpengaruh pendapat keliru. Mengingat luasnya ilmu, beliau menyarankan untuk memilih bidang terbaik yakni agama sebagai upaya memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya kepada kehidupan yang baik.



