Skip to main content

Pada Kamis, 8 Januari 2026, ICC Jakarta kembali menggelar Kelas Tafsir Maudhu’i dengan narasumber utama Syaikh Mohammad Sharifani. Dalam kajian tersebut, beliau membedah secara mendalam mengenai konsep “Taslim”. Secara etimologis dalam bahasa Arab, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa kata taslim memiliki tiga makna utama, yakni mengucapkan salam, penyerahan, dan berserah diri. Pembahasan malam itu difokuskan pada makna yang ketiga, yaitu berserah diri kepada Allah swt secara totalitas.

Pembahasan pertama mengenai berserah diri dipaparkan melalui surah Az-Zumar ayat 53-54. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa Allah swt menyeru hamba-hamba-Nya untuk tunduk melalui firman-Nya: qul yâ ‘ibâdiyalladzîna asrafû ‘alâ anfusihim lâ taqnathû mir raḫmatillâh, innallâha yaghfirudz-dzunûba jamî‘â, innahû huwal-ghafûrur-raḫîm (Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang). Perintah ini dilanjutkan pada ayat 54: wa anîbû ilâ rabbikum wa aslimû lahû ming qabli ay ya’tiyakumul-‘adzâbu tsumma lâ tunsharûn (Kembalilah kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak akan ditolong).

Jika ayat sebelumnya adalah seruan Allah swt kepada hamba-hamba-Nya secara umum untuk tunduk, maka seruan kedua ditujukan kepada orang-orang beriman untuk tunduk pada kebenaran. Syaikh Mohammad Sharifani mengutip surah Al-Baqarah ayat 208: yâ ayyuhalladzîna âmanudkhulû fis-silmi kâffataw wa lâ tattabi‘û khuthuwâtisy-syaithân, innahû lakum ‘aduwwum mubîn (Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam (kedamaian) secara menyeluruh dan janganlah ikuti langkah-langkah setan! Sesungguhnya ia musuh yang nyata bagimu).

Selanjutnya, Syaikh Mohammad Sharifani menekankan poin ketiga bahwa ketundukan mutlak kepada Allah swt sebenarnya memiliki derajat yang lebih tinggi daripada keimanan. Hal ini tercermin dalam surah Yunus ayat 84: wa qâla mûsâ yâ qaumi ing kuntum âmantum billâhi fa ‘alaihi tawakkalû ing kuntum muslimîn (Musa berkata, “Wahai kaumku, jika kamu sungguh-sungguh beriman kepada Allah, bertawakallah hanya kepada-Nya apabila kamu benar-benar orang-orang muslim (yang berserah diri kepada Allah)”). Beliau meluruskan bahwa kata “muslimin” di sini sering diartikan sekadar orang Islam, padahal Islam dalam arti hakiki adalah taslim atau ketundukan. Beliau menjelaskan adanya derajat di bawah keimanan yaitu sekadar mengucapkan syahadat, namun Islam (taslim) yang sedang dibahas ini adalah derajat di atas keimanan di mana seseorang benar-benar tunduk sepenuhnya kepada Allah swt.

Poin keempat yang disampaikan Syaikh Mohammad Sharifani adalah bahwa berserah diri harus dilandasi dengan tauhid dan kepercayaan kepada Allah swt. Hal ini terlihat dalam surah Al-Hajj ayat 34: wa likulli ummatin ja‘alnâ mansakal liyadzkurusmallâhi ‘alâ mâ razaqahum mim bahîmatil-an‘âm, fa ilâhukum ilâhuw wâḫidun fa lahû aslimû, wa basysyiril-mukhbitîn (Bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban) agar mereka menyebut nama Allah atas binatang ternak yang dianugerahkan-Nya kepada mereka. Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa. Maka, berserahdirilah kepada-Nya. Sampaikanlah (Nabi Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang rendah hati lagi taat (kepada Allah)). Ayat ini menunjukkan bahwa kepatuhan adalah kelanjutan dari tauhid.

Selanjutnya, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa berserah diri merupakan petunjuk bahwa agama yang diikuti adalah yang terbaik jika seseorang mencapai tingkatan taslim. Hal ini berdasarkan surah An-Nisa’ ayat 125: wa man aḫsanu dînam mim man aslama waj-hahû lillâhi wa huwa muḫsinuw wattaba‘a millata ibrâhîma ḫanîfâ, wattakhadzallâhu ibrâhîma khalîlâ (Siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang memasrahkan dirinya kepada Allah, sedangkan dia muhsin (orang yang berbuat kebaikan) dan mengikuti agama Ibrahim yang hanif? Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih(-Nya)). Ini membuktikan bahwa inti agama Nabi Ibrahim as adalah berserah diri dan berbuat kebajikan, sehingga beliau mencapai derajat sebagai sahabat Allah.

Kedudukan keenam dari taslim adalah kepatuhan sebagai tugas yang diberikan kepada para nabi. Allah swt berfirman dalam surah Ali ‘Imran ayat 84: qul âmannâ billâhi wa mâ unzila ‘alainâ wa mâ unzila ‘alâ ibrâhîma wa ismâ‘îla wa is-ḫâqa wa ya‘qûba wal-asbâthi wa mâ ûtiya mûsâ wa ‘îsâ wan-nabiyyûna mir rabbihim lâ nufarriqu baina aḫadim min-hum wa naḫnu lahû muslimûn (Katakanlah (Nabi Muhammad), “Kami beriman kepada Allah dan pada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya‘qub beserta anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa, serta para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nya kami berserah diri”).

Ketujuh, Syaikh Mohammad Sharifani memaparkan bahwa taslim adalah perintah langsung Allah swt kepada Nabi Ibrahim as dalam surah Al-Baqarah ayat 131: idz qâla lahû rabbuhû aslim qâla aslamtu lirabbil-‘âlamîn ((Ingatlah) ketika Tuhan berfirman kepadanya (Ibrahim), “Berserahdirilah!” Dia menjawab, “Aku berserah diri kepada Tuhan seluruh alam”). Kepatuhan ini mencapai puncaknya saat perintah penyembelihan putranya, yang diabadikan dalam surah Ash-Shaffat ayat 103: fa lammâ aslamâ wa tallahû lil-jabîn (Ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) meletakkan pelipis anaknya di atas gundukan (untuk melaksanakan perintah Allah)).

Sebagai penutup, Syaikh Mohammad Sharifani mengingatkan bahwa berserah diri adalah tugas yang harus dipertahankan sampai ajal tiba. Hal ini ditegaskan dalam surah Ali ‘Imran ayat 102: yâ ayyuhalladzîna âmanuttaqullâha ḫaqqa tuqâtihî wa lâ tamûtunna illâ wa antum muslimûn (Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim). Senada dengan hal itu, beliau mengutip doa Nabi Yusuf as dalam surah Yusuf ayat 101: rabbi qad âtaitanî minal-mulki wa ‘allamtanî min ta’wîlil-aḫâdîts, fâthiras-samâwâti wal-ardl, anta waliyyî fid-dun-yâ wal-âkhirah, tawaffanî muslimaw wa al-ḫiqnî bish-shâliḫîn (Tuhanku, sungguh Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. (Wahai Tuhan) pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat. Wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang-orang saleh).

Leave a Reply