Skip to main content

Dalam rangkaian Seminar Internasional Nahjul Balaghah yang digelar di Auditorium Imam Khomeini lantai 3, ICC Jakarta, pada Sabtu, 10 Januari 2026, Kepala OR Arbastra BRIN, Herry Yogaswara, menyampaikan orasi ilmiah yang menyoroti pentingnya menghidupkan kembali teks-teks klasik untuk menjawab tantangan zaman. Beliau mengawali orasinya dengan menyampaikan apresiasi kepada ICC Jakarta yang telah memberikan ruang kolaborasi bagi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kolaborasi ini merupakan tindak lanjut nyata dari MoU yang telah diimplementasikan dalam berbagai bentuk, mulai dari webinar, penulisan buku, kunjungan strategis, hingga diskusi.

Dalam orasinya, Herry Yogaswara menegaskan bahwa Nahjul Balaghah adalah sebuah karya klasik yang menyimpan kedalaman pemikiran serta wawasan luar biasa dari Imam Ali bin Abi Thalib. Beliau memandang naskah ini bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan inspirasi bagi peradaban. Menurut beliau, membicarakan peradaban berarti membicarakan kemajuan dari satu waktu ke waktu yang lain. Oleh karena itu, beliau meyakini bahwa nilai-nilai dalam Nahjul Balaghah sangat relevan dijadikan pedoman masa kini, sebagaimana fungsi agama menjadi pedoman di era sekarang.

Beliau memaparkan hasil pembacaan terhadap beberapa makalah, khususnya dari para peneliti BRIN, yang membedah Nahjul Balaghah melalui konteks kekinian. Salah satu poin krusial yang diangkat adalah mengenai bencana ekologi. Beliau menjelaskan bahwa Nahjul Balaghah menawarkan kerangka etika yang sangat kuat dalam melihat relasi antara manusia dan alam, yang sangat penting sebagai alat bedah dalam melihat situasi bencana hari ini.

Selain isu ekologi, Herry Yogaswara juga menyoroti peran Nahjul Balaghah dalam mempromosikan moderasi beragama. Menurut beliau, kitab ini tidak hanya merepresentasikan warisan spiritual dan sastra Islam, tetapi juga menawarkan kerangka etika sosial-politik yang mengedepankan dialog, partisipasi kolektif, serta penghormatan terhadap perbedaan pandangan. Lebih jauh, beliau menyentuh dimensi relasi global, seperti perjumpaan kebudayaan Persia dan Nusantara yang mewujudkan nilai-nilai yang ada di dalam Nahjul Balaghah.

Hal ini dinilai sangat relevan dengan upaya Kementerian Kebudayaan saat ini dalam melihat ulang identitas keindonesiaan melalui aspek arkeologi, sastra, dan tradisi. Herry Yogaswara melontarkan kritik reflektif mengenai cara pandang yang sering menganggap Nusantara hanya sebagai penerima peradaban dari luar. Sebaliknya, beliau mengajak untuk memikirkan sumbangsih peradaban Nusantara bagi tempat lain, mengingat peradaban bukanlah merupakan suatu jalur tunggal.

Menutup orasinya, beliau menegaskan komitmen BRIN sebagai lembaga riset pemerintah yang menaungi berbagai riset khazanah keagamaan, sastra, manuskrip, hingga tradisi lisan untuk terus menjadi titik perjumpaan bagi berbagai diskusi dan kegiatan riset. Beliau berharap konferensi tatap muka seperti ini menjadi kesempatan berharga untuk menyemai pengalaman, ide, dan gagasan demi kemajuan peradaban maslahat.

Leave a Reply