Ketua STAI Sadra, Otong Sulaeman, menjadi pemapar pembuka dalam sesi seminar pendahuluan pada perhelatan Seminar Internasional Nahjul Balaghah yang diselenggarakan di Auditorium Imam Khomeini lantai 3, ICC Jakarta, pada Sabtu, 10 Januari 2026. Beliau mengawali paparannya dengan menekankan betapa pentingnya penggunaan kajian diakronis, yaitu mengkaji suatu subjek dari sisi waktu yang berbeda. Beliau menjelaskan bahwa meskipun Nahjul Balaghah ditulis dalam waktu yang sudah sangat lama dan kemudian diberi syarah oleh para ulama, kenyataan bahwa naskah ini masih dibahas secara internasional membuktikan bahwa apa yang terjadi di masa lalu memiliki resonansi yang sangat kuat sampai hari ini. Sebagai contoh, beliau menyatakan sangat mungkin untuk menemukan butir-butir pemikiran Imam Ali as yang terkait dengan bencana ekologi saat ini di dalam kitab yang berisikan khutbah, surat-surat, dan hikam atau aforisme tersebut.
Dalam memotret fenomena bencana ekologi, beliau menyoroti kasus banjir dan longsor di Sumatera yang menurutnya bukan hanya disebabkan oleh faktor hujan ekstrem, melainkan menjadi tanda runtuhnya daya dukung ekologis. Beliau menegaskan bahwa sebenarnya yang berubah bukan alam, melainkan cara manusia memperlakukan ruang hidupnya. Menurut beliau, adalah sebuah falasi atau kesalahan logika jika pemerintah atau masyarakat hanya menunjuk cuaca ekstrem sebagai penyebab tunggal. Bencana ekologi merupakan cerminan dari krisis ekologi global yang sifatnya sistemik dan lintas wilayah, di mana kerusakannya berakar pada pandangan dunia yang merupakan persoalan falsafi. Beliau mengkritik paradigma antroposentrisme yang melihat alam sebagai objek mati untuk dikuasai, sehingga perusakan terhadapnya dianggap sebagai praktik ekonomi yang sah dan rasional, sebagaimana yang terjadi pada penambangan legal di Sumatera yang tetap merusak alam.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa pandangan keliru ini diadopsi dari filsafat modern Barat yang berakar pada gagasan Rene Descartes mengenai pemisahan manusia sebagai subjek dan alam sebagai mesin, serta Francis Bacon yang melihat pengetahuan sebagai perangkat manipulasi alam. Dalam logika tersebut, alam selalu dikorbankan saat ekonomi bertemu dengan ekologi. Namun, beliau memaparkan bahwa Nahjul Balaghah menawarkan perspektif yang berbeda, di mana Imam Ali as memandang alam bukan sebagai benda mati melainkan ciptaan Tuhan yang hidup dan bekerja secara teratur dalam sebuah tatanan ilahi. Oleh karena itu, alam tidak bisa diperlakukan sewenang-wenang karena hubungan manusia dengan alam sangat erat kaitannya dengan nilai keadilan, etika, dan moral, bukan sekadar kepentingan kekuasaan.
Beliau merujuk pada Khutbah Nomor 1 untuk menjelaskan bahwa mengeksploitasi alam merupakan perusakan terhadap desain penciptaan yang merupakan harmoni rapi dan mengandung hikmah ilahiah. Ketika gerak alam yang menuju kesempurnaan itu dirusak manusia, maka hal tersebut bukan hanya perkara moral melainkan perusakan terhadap desain tatanan hidup Tuhan. Selain itu, melalui Khutbah Nomor 185, beliau menekankan bahwa alam semesta sebenarnya memiliki lisan yang berbicara dan bertasbih memuji Tuhan, sehingga Imam Ali as menolak pandangan mekanistik dan mengajak manusia mengenali makna batiniah alam. Merusak alam berarti merusak entitas yang sedang bersujud, sebuah pemikiran yang juga selaras dengan pesan Rumi dalam kitab Matsnawi mengenai seluruh bagian terkecil alam yang sedang berbicara siang dan malam.
Di bagian akhir paparannya, beliau menyentuh faktor keserakahan manusia yang dalam Nahjul Balaghah terlihat saat Imam Ali as menegur pejabat yang hidup mewah di tengah penderitaan rakyat. Beliau menarik relevansi ini pada konteks kontemporer di mana konsumerisme dan watak kapitalisme selalu menuntut eksploitasi sumber daya secara berlebihan. Meskipun kritik ini secara tekstual berangkat dari isu sosial, beliau menegaskan bahwa etika konsumsi tidak bisa dipisahkan dari persoalan ekologi karena gaya hidup konsumtif masyarakat modern menyebabkan kerusakan alam skala besar. Sebagai penutup, beliau mengutip Hikmah Nomor 46 mengenai alam sebagai amanah untuk memelihara negeri-negeri sebagai ruang hidup bersama. Beliau mengingatkan pesan Nahjul Balaghah agar manusia memperhatikan amal perbuatannya sehari-hari karena pengelolaan alam merupakan bagian dari hal yang nantinya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.



