Kelas Tafsir Tartibi oleh Islamic Cultural Center Jakarta yang berlangsung pada Jumat, 16 Januari 2026 kembali menghadirkan Syaikh Mohammad Sharifani sebagai penceramah utama. Dalam pertemuan kali ini, beliau melanjutkan pembahasan mendalam mengenai karakter kaum Yahudi dengan menitikberatkan kajian pada surah Al-Baqarah mulai dari ayat 94. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa di antara karakter yang sangat melekat pada orang-orang Yahudi adalah klaim sepihak bahwa mereka merupakan bangsa pilihan, kekasih Allah swt, serta memiliki keistimewaan spiritual yang tidak dimiliki oleh bangsa lain mana pun di dunia. Beliau menekankan bagaimana klaim tersebut tertulis di dalam Al-Qur’an, salah satunya ketika mereka dengan angkuh merendahkan keyakinan lain sebagaimana dicatat dalam surah Al-Baqarah ayat 113.
laisatin-nashârâ ‘alâ syai’iw
“Orang Nasrani itu tidak menganut sesuatu (agama yang benar).” (QS. Al-Baqarah [2]: 113)
Dalam penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan bahwa rasa eksklusivitas ini juga membuat mereka merasa aman dari azab akhirat. Beliau mengutip pernyataan mereka bahwa neraka tidak akan menyentuh mereka kecuali dalam hitungan hari yang sangat singkat, yang merujuk pada firman Allah swt dalam ayat lainnya.
lan tamassanan-nâru illâ ayyâmam ma‘dûdah
“Neraka tidak akan menyentuh kami, kecuali beberapa hari saja.” (QS. Al-Baqarah [2]: 80)
Klaim-klaim sebagai awliya Allah swt yang menganggap bahwa negeri akhirat hanya milik kelompok mereka secara khusus kemudian dibantah dengan tegas oleh Allah swt melalui sebuah tantangan. Syaikh Mohammad Sharifani memaparkan bahwa jika memang akhirat hanya milik mereka, maka seharusnya mereka tidak takut menghadapi kematian dan justru memintanya untuk segera dibuktikan. Beliau membacakan firman Allah swt yang menantang kejujuran mereka tersebut.
qul ing kânat lakumud-dârul-âkhiratu ‘indallâhi khâlishatam min dûnin-nâsi fa tamannawul-mauta ing kuntum shâdiqîn
“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Jika negeri akhirat di sisi Allah khusus untukmu, bukan untuk orang lain, mintalah kematian jika kamu orang-orang benar.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 94)
Namun, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa pada kenyatannya mereka tidak akan pernah berani menginginkan kematian karena menyadari besarnya dosa dan keburukan yang telah mereka perbuat selama di dunia. Beliau menguraikan firman Allah swt yang mengungkap ketakutan batin mereka dalam ayat selanjutnya.
wa lay yatamannauhu abadam bimâ qaddamat aidîhim, wallâhu ‘alîmum bidh-dhâlimîn
“Akan tetapi, mereka tidak akan menginginkan kematian itu sama sekali karena (dosa-dosa) yang telah dilakukan oleh tangan-tangan mereka. Allah Maha Mengetahui orang-orang zalim.” (QS. Al-Baqarah [2]: 95)
Beliau memberikan perhatian khusus pada penggunaan kata “qaddamat aidîhim” atau apa yang telah dilakukan oleh tangan-tangan mereka. Syaikh Mohammad Sharifani menerangkan bahwa Al-Qur’an menggunakan kata tangan untuk dua maksud utama; pertama sebagai gambaran nyata betapa tangan memiliki peran besar dalam setiap perbuatan, dan kedua sebagai kiasan bagi kekuasaan. Karena banyaknya keburukan yang mereka lakukan dengan kekuasaan dan perbuatan mereka sendiri, mereka tidak pernah berharap mati lebih cepat. Syaikh Mohammad Sharifani bahkan mengungkapkan karakter lain mereka sebagai manusia yang paling tamak terhadap kehidupan dunia, bahkan melebihi kaum musyrik, sebagaimana dijelaskan dalam ayat 96.
wa latajidannahum aḫrashan-nâsi ‘alâ ḫayâh, wa minalladzîna asyrakû yawaddu aḫaduhum lau yu‘ammaru alfa sanah, wa mâ huwa bimuzaḫziḫihî minal-‘adzâbi ay yu‘ammar, wallâhu bashîrum bimâ ya‘malûn
“Engkau (Nabi Muhammad) sungguh-sungguh akan mendapati mereka (orang-orang Yahudi) sebagai manusia yang paling tamak akan kehidupan (dunia), bahkan (lebih tamak) daripada orang-orang musyrik. Tiap-tiap orang (dari) mereka ingin diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu tidak akan menjauhkan mereka dari azab. Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 96)
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menceritakan bagaimana kedengkian mereka muncul saat angan-angan mereka agar wahyu turun kepada kalangan sendiri tidak terpenuhi. Sebaliknya, Allah swt mengangkat Nabi Muhammad saw sebagai utusan, yang memicu kemarahan mereka hingga membenci Malaikat Jibril. Beliau mengisahkan saat orang Yahudi mendatangi Rasulullah saw dan bertanya siapa yang membawa wahyu. Ketika beliau menjawab Malaikat Jibril, mereka berdalih seandainya yang membawanya Malaikat Mikail, mereka baru akan beriman. Beliau menegaskan bahwa ini hanyalah cara mereka untuk menolak keimanan, sehingga Allah swt berfirman untuk membantah alasan tersebut.
qul mang kâna ‘aduwwal lijibrîla fa innahû nazzalahû ‘alâ qalbika bi’idznillâhi mushaddiqal limâ baina yadaihi wa hudaw wa busyrâ lil-mu’minîn
“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Siapa yang menjadi musuh Jibril?’ Padahal, dialah yang telah menurunkan (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan izin Allah sebagai pembenaran terhadap apa (kitab-kitab) yang terdahulu, dan petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang beriman.” (QS. Al-Baqarah [2]: 97)
Dalam kajian tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani juga menjelaskan kemuliaan Malaikat Jibril dalam Al-Qur’an yang dijuluki sebagai ruh yang amanah, ruh kesucian, sosok yang dipatuhi, serta sangat dipercaya. Lebih lanjut, beliau memaparkan watak buruk lainnya yaitu kegemaran mereka melanggar janji yang telah diikat dengan teguh.
a wa kullamâ ‘âhadû ‘ahdan nabadzahû farîqum min-hum, bal aktsaruhum lâ yu’minûn
“Mengapa setiap kali mereka mengikat janji, sekelompok mereka melanggarnya? Bahkan, sebagian besar mereka tidak beriman.” (QS. Al-Baqarah [2]: 100)
Beliau merinci bahwa janji dalam konteks ini mencakup tiga kategori utama: janji manusia kepada Allah swt, janji yang dibuat kepada sesama manusia, dan janji yang Allah swt berikan kepada hamba-Nya. Beliau mencontohkan salah satu janji manusia kepada Tuhannya sebagaimana terekam dalam surah Yasin ayat 60.
a lam a‘had ilaikum yâ banî âdama al lâ ta‘budusy-syaithân, innahû lakum ‘aduwwum mubîn
“Bukankah Aku telah berpesan kepadamu dengan sungguh-sungguh, wahai anak cucu Adam, bahwa janganlah kamu menyembah setan? Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kamu.” (QS. Yasin [36]: 60)
Menuju akhir ceramah, Syaikh Mohammad Sharifani menyoroti sikap mereka yang membuang kitab suci sendiri demi kesombongan saat kebenaran Rasulullah saw datang. Meskipun sebelumnya mereka memohon kemenangan atas orang-orang kafir melalui nubuat nabi yang akan datang, saat Al-Qur’an hadir membenarkan apa yang ada pada mereka, mereka justru mengingkarinya.
wa lammâ jâ’ahum rasûlum min ‘indillâhi mushaddiqul limâ ma‘ahum nabadza farîqum minalladzîna ûtul-kitâba kitâballâhi warâ’a dhuhûrihim ka’annahum lâ ya‘lamûn
“Setelah datang kepada mereka Rasul (Nabi Muhammad) dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, sebagian orang yang diberi Kitab (Taurat) melemparkan Kitab Allah itu ke belakang punggung (tidak menggubrisnya) seakan-akan mereka tidak tahu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 101)
Syaikh Mohammad Sharifani kembali menegaskan melalui ayat lainnya bahwa pengingkaran tersebut bukan karena ketidaktahuan, melainkan karena kezaliman dan kesombongan yang telah mendarah daging, padahal hati kecil mereka meyakini kebenaran tersebut.
wa lammâ jâ’ahum kitâbum min ‘indillâhi mushaddiqul limâ ma‘ahum wa kânû ming qablu yastaftiḫûna ‘alalladzîna kafarû, fa lammâ jâ’ahum mâ ‘arafû kafarû bihî fa la‘natullâhi ‘alal-kâfirîn
“Setelah sampai kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, sedangkan sebelumnya mereka memohon kemenangan atas orang-orang kafir, ternyata setelah sampai kepada mereka apa yang telah mereka ketahui itu, mereka mengingkarinya. Maka, laknat Allahlah terhadap orang-orang yang ingkar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 89)
Beliau menutup penjelasan dengan mengutip satu ayat lagi untuk mempertegas bahwa segala bentuk pengingkaran mereka berakar dari penyakit hati yang sombong, yang pada akhirnya akan membawa pada kesudahan yang buruk bagi orang-orang yang berbuat kerusakan.
wa jaḫadû bihâ wastaiqanat-hâ anfusuhum dhulmaw wa ‘uluwwâ, fandhur kaifa kâna ‘âqibatul-mufsidîn
“Mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)-nya. Perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. An-Naml [27]: 14)



