Skip to main content

Penyelenggaraan Peringatan Bi’tsah Rasulullah saw oleh Islamic Cultural Center Jakarta yang berlangsung pada Jumat, 16 Januari 2026, menjadi sebuah momentum besar bagi para pecinta Rasulullah saw dan keluarga beliau untuk merenungi kembali makna pengutusan nabi pilihan Allah swt. Acara diawali dengan penjelasan mendalam oleh Mujib Munawan mengenai hakikat bi’tsah yang bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan kebangkitan spiritual dan sosial bagi umat manusia. Beliau menyampaikan bahwa peristiwa saat Rasulullah saw menerima wahyu pertama melalui Malaikat Jibril di Gua Hira menandai turunnya Islam sebagai sistem yang sempurna dan rahmat bagi seluruh alam. Dalam penjelasannya, Mujib Munawan menyebutkan bahwa menurut mayoritas ulama ahlul bait as, peristiwa agung ini terjadi pada 27 Rajab, tiga belas tahun sebelum hijrah, dan kerap dirangkaikan dengan peristiwa Isra Mikraj sebagai perjalanan menuju kesadaran tertinggi yang harus menjadi refleksi dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an oleh Alif Al-Ghazali dan penampilan hadrah oleh tim Khatamun Nabiyyin, Ustaz Zahir Yahya menyampaikan ceramah utama dengan penuh kebahagiaan di hadapan jamaah. Beliau membuka penjelasannya dengan mengajak hadirin memanfaatkan hari-hari terakhir bulan Rajab sebagai bulan istighfar, taubat, dan penyucian diri untuk mempersiapkan diri memasuki bulan Syakban serta Ramadan. Ustaz Zahir Yahya menekankan bahwa hari-hari besar seperti bi’tsah, asyura, ghadir khum, hingga hari lahirnya para Imam as merupakan “Hari-hari Allah” (Ayyâmillâh), sebagaimana firman-Nya:

dzakkir-hum bi’ayyâmillâh
“Dan ingatkanlah mereka tentang hari-hari Allah.” (QS. Ibrahim [14]: 5)

Beliau menjelaskan bahwa pada hari-hari tersebut, kekuasaan dan rahmat Allah swt dirasakan secara langsung oleh manusia sebagai manifestasi yang paling agung. Dalam perspektif Islam, Ustaz Zahir Yahya menguraikan adanya dua macam rahmat. Pertama adalah rahmat yang bermuara dari sifat Allah swt yang Maha Pengasih (Rahman) yang dinikmati seluruh makhluk, termasuk nikmat keberadaan.

qâla rabbunalladzî a‘thâ kulla syai’in khalqahû tsumma hadâ
“Dia (Musa) menjawab, ‘Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah menganugerahkan kepada segala sesuatu bentuk penciptaannya (yang layak), kemudian memberinya petunjuk.’” (QS. Thaha [20]: 50)

Sedangkan rahmat kedua bermuara dari sifat Allah swt yang Maha Penyayang (Rahim), yang menurut beliau hanya diperoleh hamba yang sungguh-sungguh berjuang menyempurnakan dirinya, sebagaimana firman-Nya:

walladzîna jâhadû fînâ lanahdiyannahum subulanâ, wa innallâha lama‘al-muḫsinîn
“Orang-orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 69)

Ustaz Zahir Yahya menegaskan bahwa wilayah ahlul bait as adalah anugerah yang bermuara dari sifat Rahim ini dan tidak diberikan kepada sembarang orang. Beliau mengutip sabda Imam Shadiq as bahwa Allah swt memberikan dunia kepada hamba yang dicintai maupun yang dibenci, namun nikmat wilayah hanya diberikan kepada hamba pilihan. Beliau mencontohkan Nabi Isa as yang disebut sebagai Kalimatullah dalam surah An-Nisa ayat 171.

innamal-masîḫu ‘îsabnu maryama rasûlullâhi wa kalimatuh
“Sesungguhnya Almasih, Isa putra Maryam, hanyalah utusan Allah dan (makhluk yang diciptakan dengan) kalimat-Nya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 171)

Menurut beliau, sosok Nabi Isa as sebagai “kalimat” berfungsi menyingkap kehendak dan mencerminkan sifat Allah swt melalui perilakunya. Dalam hal ini, Rasulullah saw adalah sosok yang paling terdepan dalam mencerminkan seluruh kehendak dan sifat Allah swt, sehingga beliau disebut sebagai nabi rahmat bagi seluruh alam.

wa mâ arsalnâka illâ raḫmatal lil-‘âlamîn
“Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 107)

Ustaz Zahir Yahya kemudian membedah makna “rahmat bagi seluruh alam” secara universal. Beliau menjelaskan bahwa rahmat ini bukan sekadar perangai lembut Nabi saw atau syafaat beliau bagi umatnya di kiamat kelak, karena hal-hal tersebut masih bersifat terbatas. Para ulama menjelaskan bahwa rahmat sesungguhnya bagi seluruh alam adalah kehadiran kebenaran, keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan yang akan terwujud bersama kehadiran Imam Zaman afs. Beliau mengaitkan hal ini dengan ayat-ayat sebelumnya dalam surah Al-Anbiya yang bercerita tentang penegakan pemerintahan hamba-hamba saleh di muka bumi.

wa laqad katabnâ fiz-zabûri mim ba‘didz-dzikri annal-ardla yaritsuhâ ‘ibâdiyash-shâliḫûn “Sungguh, Kami telah menuliskan di dalam Zabur setelah (tertulis) di dalam aż-Żikr (Lauh Mahfuz) bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 105)

inna fî hâdzâ labalâghal liqaumin ‘âbidîn
“Sesungguhnya di dalam (Al-Qur’an) ini benar-benar terdapat pesan (yang jelas) bagi kaum penyembah (Allah).” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 106)

Dengan demikian, Ustaz Zahir Yahya menyampaikan bahwa bi’tsah adalah peluncuran proyek besar Allah swt untuk memenangkan Islam secara global atas seluruh aliran pemikiran lainnya. Beliau merujuk pada firman Allah swt mengenai target dakwah ini:

huwalladzî arsala rasûlahû bil-hudâ wa dînil-ḫaqqi liyudh-hirahû ‘alad-dîni kullihî walau karihal-musyrikûn
“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan (membawa) petunjuk dan agama yang benar agar Dia mengunggulkannya atas semua agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (QS. At-Taubah [9]: 33)

Beliau menegaskan bahwa Rasulullah saw menjalankan misi ini dengan didukung oleh para Imam ahlul bait as serta kaum mukminin yang setia.

huwalladzî ayyadaka binashrihî wa bil-mu’minîn
“Dialah yang memperkuat kamu dengan pertolongan-Nya dan dengan (dukungan) orang-orang mukmin.” (QS. Al-Anfal [8]: 62)

Ustaz Zahir Yahya menutup ceramahnya dengan pesan bahwa keimanan seseorang diukur dari sejauh mana ia terlibat dalam mensukseskan proyek besar Rasulullah saw ini. Beliau menekankan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berpartisipasi, baik melalui dukungan sederhana maupun melalui upaya maksimal seperti para sahabat Imam Husain as yang tulus. Proyek agung ini dipastikan akan terjadi, dan keterlibatan di dalamnya adalah sebuah keberuntungan, sementara pengabaian terhadapnya adalah sebuah kerugian. Acara kemudian diakhiri dengan doa penutup yang dipimpin oleh Ustaz Umar Shahab.