Skip to main content

Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta mempertegas komitmennya dalam merajut ukhuwah Islamiyah melalui partisipasi aktif Direktur ICC Jakarta Syaikh Mohammad Sharifani sebagai narasumber utama dalam seminar internasional yang diselenggarakan di Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara pada Senin, 19 Januari 2026. Seminar yang mengusung tema From Difference to Solidarity: Strengthening Sunni–Shia Relations in Contemporary Muslim Societies ini menjadi momentum penting bagi ICC Jakarta untuk menyuarakan pesan perdamaian dan solidaritas global di hadapan pimpinan struktural, sivitas akademika UNISNU, serta perwakilan Dewan Pimpinan Wilayah dan Daerah Ahlulbait Indonesia Jawa Tengah. Dalam kunjungan yang berlangsung di Ruang Seminar Pascasarjana tersebut, Direktur ICC Jakarta didampingi oleh Ketua Departemen Tabligh dan Kebudayaan ICC Jakarta Ustaz Umar Shahab, memperkuat kehadiran lembaga dalam upaya mempererat hubungan antar mazhab secara akademis maupun praktis.

Syaikh Mohammad Sharifani mengawali pemaparannya dengan membedah landasan teologis persatuan melalui surah Ali ‘Imran ayat 103 yang menekankan kewajiban seluruh kaum muslimin untuk berpegang teguh pada tali Allah swt secara kolektif tanpa bercerai-berai. Beliau menjelaskan bahwa penekanan pada kata jamî‘aw menunjukkan bahwa perintah ini bersifat inklusif bagi seluruh umat Islam, di mana persaudaraan merupakan nikmat terbesar yang menyelamatkan manusia dari jurang neraka. Melalui dakwah Nabi Muhammad saw, Allah swt telah mempersatukan hati manusia yang sebelumnya saling bermusuhan menjadi ikatan persaudaraan yang kokoh.

wa‘tashimû biḫablillâhi jamî‘aw wa lâ tafarraqû wadzkurû ni‘matallâhi ‘alaikum idz kuntum a‘dâ’an fa allafa baina qulûbikum fa ashbaḫtum bini‘matihî ikhwânâ, wa kuntum ‘alâ syafâ ḫufratim minan-nâri fa angqadzakum min-hâ, kadzâlika yubayyinullâhu lakum âyâtihî la‘allakum tahtadûn “Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ingatlah pula ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 103)

Lebih dalam lagi, Syaikh Mohammad Sharifani memberikan ulasan kritis melalui kisah Nabi Musa as dan Nabi Harun as dalam surah Thaha ayat 92-94 untuk menunjukkan betapa prinsip persatuan memiliki kedudukan yang sangat tinggi, bahkan dalam situasi yang melibatkan penyimpangan akidah. Beliau menarik kesimpulan luar biasa bahwa bersatu meskipun dalam kekafiran terkadang lebih baik daripada bercerai dalam keislaman, merujuk pada kekhawatiran Nabi Harun as yang lebih memilih menjaga keutuhan Bani Israil agar tidak pecah belah ketika ditinggalkan Nabi Musa as. Dalam pandangan beliau, perpecahan umat sering kali merupakan problematika yang jauh lebih sulit untuk disembuhkan dan diatasi ketimbang penyembahan berhala yang bersifat sementara.

qâla yabna’umma lâ ta’khudz biliḫyatî wa lâ bira’sî, innî khasyîtu an taqûla farraqta baina banî isrâ’îla wa lam tarqub qaulî “Dia (Harun) menjawab, ‘Wahai putra ibuku, janganlah engkau tarik janggutku dan jangan kepalaku. Sesungguhnya aku khawatir engkau akan berkata (kepadaku), “Engkau telah memecah belah Bani Israil dan tidak memelihara amanatku.”’” (QS. Thaha [20]: 94)

Sebagai pengejawantahan dari risalah Nabi Muhammad saw, Syaikh Mohammad Sharifani merumuskan tujuh prinsip dasar persatuan kaum muslimin yang harus diimplementasikan secara nyata. Prinsip pertama adalah pengungkapan cinta secara lisan, di mana berdasarkan hadis Nabi, seseorang yang mencintai saudaranya sangat dianjurkan untuk memberitahu saudaranya tersebut demi memperkuat ikatan batin. Kedua, beliau menekankan pentingnya menjauhi prasangka buruk dan pergunjingan atau ghibah, karena perbuatan ini merupakan akar pemutus hubungan sosial yang menyebabkan perpecahan di tengah umat. Ketiga, beliau menyatakan adanya hubungan persaudaraan yang konsisten dan berlangsung terus-menerus sebagai bentuk ibadah yang disukai oleh Rasulullah saw.

Prinsip keempat yang beliau sampaikan adalah larangan keras untuk mencari tahu atau menanyakan keyakinan pribadi seseorang secara instruktif, dengan mencontohkan sikap Nabi Muhammad saw yang tetap menghormati jenazah seorang Yahudi murni atas dasar kemanusiaan. Kelima, beliau menggarisbawahi prinsip islah atau perdamaian sebagaimana diperintahkan dalam Al-Qur’an agar umat manusia mendapatkan rahmat Allah swt melalui upaya saling mengasihi. Keenam, beliau memaparkan bahwa kenyamanan hati yang bebas dari permusuhan akan memberikan dampak besar pada perkembangan spiritual dan ruhaniah seseorang. Sebagai poin ketujuh yang sangat krusial, beliau memberikan peringatan keras bahwa kehancuran umat Islam secara historis, mulai dari jatuhnya Baghdad, masa Perang Salib, hingga tragedi Gaza saat ini, semuanya berakar pada kurangnya kepedulian dan perpecahan internal yang tidak kunjung usai.