Skip to main content

Pada Rabu, 21 Januari 2026, Syaikh Mohammad Sharifani dalam kajian Majelis Taklim Akhwat ICC Zainab Al-Kubro menyampaikan materi yang mendalam mengenai keterbatasan manusia dalam meraih ilmu pengetahuan. Beliau mengawali penjelasannya dengan mengingatkan kembali pesan ayat Al-Qur’an yang telah dibahas dalam beberapa pertemuan sebelumnya mengenai seruan untuk memenuhi panggilan Allah swt dan Rasulullah saw.

yâ ayyuhalladzîna âmanustajîbû lillâhi wa lir-rasûli idzâ da‘âkum limâ yuḫyîkum, wa‘lamû annallâha yaḫûlu bainal-mar’i wa qalbihî wa annahû ilaihi tuḫsyarûn “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul (Nabi Muhammad) apabila dia menyerumu pada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu! Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dengan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (QS. Al-Anfal [8]: 24)

Dalam penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani menekankan pentingnya bagi setiap mukmin untuk menyadari keterbatasan diri. Beliau memaparkan bahwa adakalanya manusia tidak memiliki kapasitas untuk menangkap disiplin ilmu tertentu, atau mungkin memiliki kapasitas namun tidak memiliki sarana untuk mendalaminya. Segala keterbatasan ini ditegaskan pula dalam firman Allah swt mengenai hakikat ruh yang tidak sepenuhnya dapat dijangkau oleh akal manusia.

wa yas’alûnaka ‘anir-rûḫ, qulir-rûḫu min amri rabbî wa mâ ûtîtum minal-‘ilmi illâ qalîlâ “Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu tidak diberi pengetahuan kecuali hanya sedikit.’” (QS. Al-Isra’ [17]: 85)

Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa ayat tersebut menggambarkan betapa sedikitnya pengetahuan manusia, termasuk ketidaktahuan mengenai alam barzakh dan kiamat. Beliau memberikan ilustrasi bahwa perbedaan pendapat di antara para ulama, baik dalam satu disiplin ilmu maupun antar disiplin yang berbeda, merupakan bukti nyata dari keterbatasan ilmu tersebut. Beliau kemudian membacakan firman Allah swt yang memperingatkan tentang sikap mendustakan sesuatu yang belum dipahami secara sempurna.

bal kadzdzabû bimâ lam yuḫîthû bi‘ilmihî wa lammâ ya’tihim ta’wîluh, kadzâlika kadzdzaballadzîna ming qablihim fandhur kaifa kâna ‘âqibatudh-dhâlimîn “Bahkan, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna dan belum datang kepada mereka penjelasannya. Demikianlah halnya umat-umat sebelum mereka telah mendustakan (para rasul). Maka, perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang zalim.” (QS. Yunus [10]: 39)

Terkait hal ini, Syaikh Mohammad Sharifani merujuk pada nasihat luar biasa dari Imam Ali as kepada putra beliau, Imam Hasan as, yang termaktub dalam kitab Nahjul Balaghah. Beliau menceritakan bahwa Imam Ali as berpesan agar memahami wasiatnya karena pemberi nasihat tersebut hanya menginginkan Allah swt dan hari akhirat, bukan dunia. Beliau meminta jika ada hal yang tidak dimengerti, hendaknya hal itu dikembalikan pada ketidaktahuan manusia, karena saat diciptakan pertama kali, manusia dalam keadaan tidak mengerti apa-apa sebelum akhirnya diberi pengetahuan oleh Allah swt. Banyak manusia yang mengalami kebingungan atau salah mengerti dan baru menyadarinya di kemudian hari, yang menurut beliau menandakan bahwa manusia sangat terbatas sehingga tidak selayaknya menyombongkan diri.

Syaikh Mohammad Sharifani kemudian mengutip beberapa pernyataan dari para maksumin untuk memperkuat pemahaman mengenai keterbatasan ini. Beliau menyampaikan pernyataan Imam Ali as bahwa barangsiapa yang mengaku telah mencapai puncak ilmu, maka sesungguhnya ia sedang memamerkan kebodohannya. Selain itu, beliau menyebutkan bahwa puncak akal adalah ketika seseorang mengaku tidak mengerti. Beliau juga membacakan penggalan doa Imam Husain as di Arafah yang menyatakan bahwa jika dalam ilmunya saja beliau merasa tidak mengerti, maka apalagi dalam ketidaktahuannya.

Lebih lanjut, Syaikh Mohammad Sharifani membagi ilmu ke dalam dua kategori, yakni ilmu tentang materi yang ditangkap pancaindra dan ilmu yang bersumber dari akal. Beliau menegaskan bahwa ilmu yang bersumber dari akal lebih mulia daripada yang bersifat material. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an.

wallâhu akhrajakum mim buthûni ummahâtikum lâ ta‘lamûna syai’aw wa ja‘ala lakumus-sam‘a wal-abshâra wal-abshâra wal-af’idata la‘allakum tasykurûn “Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl [16]: 78)

Melalui ayat ini, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan tiga elemen pengetahuan: pendengaran, penglihatan, dan hati. Jika pendengaran dan penglihatan berkaitan dengan hal kebendaan, maka hati dan pikiran tidak memiliki hubungan dengan benda. Beliau mengutip kembali perkataan Imam Ali as dalam Nahjul Balaghah bahwa mengenal kebenaran bukan melalui mata karena mata sering menipu, melainkan melalui akal yang tidak pernah menipu orang yang bertanya kepadanya. Syaikh Mohammad Sharifani juga mengisahkan dialog antara Imam Jafar Shadiq as dengan seseorang yang hanya percaya pada pancaindra. Imam Jafar Shadiq as menjelaskan bahwa pancaindra tidak akan berguna tanpa dukungan nalar, di mana akal berperan sebagai cahaya bagi lentera yang mengarahkan pancaindra tersebut.

Pada bagian akhir ceramah di Majelis Zainab Al-Kubro tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani mengajak jemaah untuk memperhatikan metode memperoleh ilmu yang diajarkan Al-Qur’an dan sunnah, yaitu melalui tadabbur alam. Beliau menjelaskan bahwa alam semesta harus ditelaah dan direnungkan sebagaimana perintah Allah swt.

a wa lam yarau kaifa yubdi’ullâhul-khalqa tsumma yu‘îduh, inna dzâlika ‘alallâhi yasîr “Apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah memulai penciptaan (makhluk), kemudian mengembalikannya (menghidupkannya lagi)? Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Ankabut [29]: 19)

Beliau menambahkan bahwa Al-Qur’an memerintahkan manusia untuk melakukan perjalanan di muka bumi guna mengamati awal penciptaan sebagai bukti kekuasaan Allah swt dalam membangkitkan makhluk di akhirat kelak.

qul sîrû fil-ardli fandhurû kaifa bada’al-khalqa tsummallâhu yunsyi’un-nasy’atal-âkhirah, innallâha ‘alâ kulli syai’ing qadîr “Katakanlah, ‘Berjalanlah di (muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana Allah memulai penciptaan (semua makhluk). Kemudian, Allah membuat kejadian yang akhir (setelah mati di akhirat kelak). Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.’” (QS. Al-Ankabut [29]: 20)

Syaikh Mohammad Sharifani juga membacakan rangkaian ayat dari Surah Qaf yang mengajak manusia memperhatikan langit yang dibangun tanpa retak, bumi yang dihamparkan dengan gunung-gunung yang kukuh, serta berbagai tumbuhan indah sebagai pelajaran bagi hamba yang tunduk kepada Allah swt.

a fa lam yandhurû ilas-samâ’i fauqahum kaifa banainâhâ wa zayyannâhâ wa mâ lahâ min furûj “Apakah mereka tidak memperhatikan langit yang ada di atas mereka, bagaimana cara Kami membangunnya dan menghiasinya tanpa ada retak-retak padanya sedikit pun?” (QS. Qaf [50]: 6)

wal-ardla madadnâhâ wa alqainâ fîhâ rawâsiya wa ambatnâ fîhâ ming kulli zaujim bahîj “(Demikian pula) bumi yang Kami hamparkan serta Kami pancangkan di atasnya gunung-gunung yang kukuh dan Kami tumbuh dan Kami tumbuhkan di atasnya berbagai jenis (tetumbuhan) yang indah.” (QS. Qaf [50]: 7)

tabshirataw wa dzikrâ likulli ‘abdim munîb “untuk menjadi pelajaran dan pengingat bagi setiap hamba yang kembali (tunduk kepada Allah).” (QS. Qaf [50]: 8)

wa nazzalnâ minas-samâ’i mâ’am mubârakan fa ambatnâ bihî jannâtiw wa ḫabbal-ḫashîd “Kami turunkan dari langit air yang diberkahi, lalu Kami tumbuhkan dengannya kebun-kebun dan biji-bijian yang dapat dipanen.” (QS. Qaf [50]: 9)

wan-nakhla bâsiqâtil lahâ thal‘un nadlîd “Begitu pula pohon-pohon kurma yang tinggi yang mayangnya bersusun-susun.” (QS. Qaf [50]: 10)

rizqal lil-‘ibâdi wa aḫyainâ bihî baldatam maitâ, kadzâlikal-khurûj “sebagai rezeki bagi hamba-hamba (Kami). Kami hidupkan pula dengan (air) itu negeri yang mati (tandus). Seperti itulah terjadinya kebangkitan (dari kubur).” (QS. Qaf [50]: 11)

Sebagai penutup, Syaikh Mohammad Sharifani mengutip arahan Imam Ali as mengenai pentingnya merenungkan keagungan ciptaan dan nikmat Allah swt agar manusia kembali ke jalan yang benar. Beliau memberikan contoh keajaiban pada makhluk-makhluk Allah swt yang kecil namun luar biasa seperti semut yang memiliki kecerdasan dan kaki meski fisiknya sangat kecil, keindahan burung merak, hingga keunikan kelelawar yang dapat melihat dalam kegelapan namun tidak berdaya di bawah cahaya. Seluruh penjelasan beliau ini menekankan bahwa dengan mengamati alam, manusia akan menyadari keagungan Allah swt di tengah keterbatasan ilmu mereka.