ICC Jakarta menyelenggarakan ibadah salat Jumat pada 23 Januari 2026 dengan menghadirkan Syaikh Mohammad Sharifani sebagai penceramah dan Ustaz Hafidh Alkaf sebagai penerjemah. Dalam khutbahnya, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa tema pembahasan dalam beberapa forum Jumat terakhir berkenaan dengan kunci keberhasilan di dalam Al-Qur’an, di mana terdapat 20 kunci keberhasilan tersebut. Pada kesempatan kali ini, beliau secara khusus kembali mengulas salah satu faktor keberhasilan tersebut, yaitu keteguhan.
Beliau mengawali penjelasan dengan mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Anfal ayat 45 yang berbunyi: yâ ayyuhalladzîna âmanû idzâ laqîtum fi’atan fatsbutû wadzkurullâha katsîral la‘allakum tufliḫûn, yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan pasukan (musuh), maka berteguh hatilah dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” Syaikh Mohammad Sharifani menekankan bahwa yang disebutkan dengan keteguhan itu sama dengan istiqamah, yaitu sikap sabar dalam menghadapi berbagai kesulitan.
Menurut beliau, ungkapan mengenai keteguhan tersebut banyak ditemukan di dalam ayat-ayat Al-Qur’an, riwayat dari para Maksumin, hingga doa-doa yang diajarkan kepada kita. Beliau mencontohkan misalnya di dalam Ziarah Asyura terdapat permohonan yang berbunyi: “Ya Allah teguhkanlah pijakan kakiku bersama dengan Al-Husain AS,” atau di dalam Doa Jamiah Kabirah yang menyebutkan: “Semoga Allah SWT meneguhkan aku selama aku hidup dalam berwilayah kepada kalian wahai Ahlulbait.”
Lebih lanjut, beliau mengutip permohonan di dalam Al-Qur’an melalui Surah Al-A’raf ayat 126 yang berbunyi: rabbanâ afrigh ‘alainâ shabraw wa tawaffanâ muslimîn, yang memiliki arti: “Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan matikanlah kami dalam keadaan muslim (berserah diri kepada-Mu).” Syaikh Mohammad Sharifani juga mengingatkan jamaah mengenai pentingnya doa-doa yang dianjurkan untuk dibaca di masa ghaibah agar kita tetap teguh dalam ajaran agama, selaras dengan perintah Allah SWT kepada nabi-Nya dalam Surah Hud ayat 112: fastaqim kamâ umirta, yang artinya: “Maka, tetaplah (di jalan yang benar), sebagaimana engkau (Nabi Muhammad) telah diperintahkan.”
Dalam memaparkan faktor-faktor yang bisa memberikan keteguhan, Syaikh Mohammad Sharifani menyebutkan poin pertama adalah mempertajam keimanan. Beliau menjelaskan bahwa sebesar keimanan kita kepada Allah SWT, maka sebesar itu pula kita akan mendapatkan keteguhan, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Ibrahim ayat 27: yutsabbitullâhulladzîna âmanû bil-qaulits-tsâbiti fil-ḫayâtid-dun-yâ wa fil-âkhirah, wa yudlillullâhudh-dhâlimîn, wa yaf‘alullâhu mâ yasyâ’, yang artinya: “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Allah menyesatkan orang-orang yang zalim, dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.”
Faktor kedua menurut beliau adalah senantiasa mengingat Allah SWT, terutama saat kita berada dalam kesulitan, agar kita mendapatkan keteguhan melalui doa-doa sebagaimana dalam Surah Al-Anfal ayat 45 yang memerintahkan orang beriman untuk berteguh hati dan menyebut nama Allah sebanyak-banyaknya agar beruntung. Beliau juga merujuk kembali pada permohonan kesabaran dalam Surah Al-A’raf ayat 126 yang berbunyi: rabbanâ afrigh ‘alainâ shabraw wa tawaffanâ muslimîn, yang artinya: “Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan matikanlah kami dalam keadaan muslim (berserah diri kepada-Mu).”
Adapun faktor ketiga adalah dengan bergaul bersama orang-orang yang memiliki keteguhan hati serta orang-orang mukmin. Beliau mengutip pesan Imam Ali AS bahwa teman itu adalah teman, yang berarti kita harus melihat dengan siapa kita berteman karena hal itu akan memberikan pengaruh kepada diri kita. Syaikh Mohammad Sharifani kemudian mengajak jamaah untuk memperoleh keteguhan dengan melihat contoh nyata orang-orang yang memiliki istiqamah, salah satunya melalui kisah Ashabul Kahfi.
Beliau menceritakan bagaimana anak-anak muda beriman tersebut tetap teguh di tengah masyarakat kafir dan berkata sebagaimana dalam Surah Al-Kahf ayat 14: wa rabathnâ ‘alâ qulûbihim idz qâmû fa qâlû rabbunâ rabbus-samâwâti wal-ardli lan nad‘uwa min dûnihî ilâhal laqad qulnâ idzan syathathâ, yang artinya: “Kami meneguhkan hati mereka ketika mereka berdiri lalu berkata, ‘Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi. Kami tidak akan menyeru Tuhan selain Dia. Sungguh, kalau kami berbuat demikian, kami telah mengucapkan perkataan yang sangat jauh dari kebenaran’.” Keteguhan tersebut membawa mereka untuk berlindung di dalam sebuah gua, sesuai dengan Surah Al-Kahf ayat 16: wa idzi‘tazaltumûhum wa mâ ya‘budûna illallâha fa’wû ilal-kahfi yansyur lakum rabbukum mir raḫmatihî wa yuhayyi’ lakum min amrikum mirfaqâ, yang artinya: “Karena kamu juga telah meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka berlindunglah ke dalam gua itu. (Dengan demikian,) niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan bagimu sesuatu yang berguna bagi urusanmu.”
Beliau juga mengambil pelajaran dari sejarah Nabi Musa AS saat berhadapan dengan kekuasaan Firaun. Syaikh Mohammad Sharifani menekankan bahwa di tengah lingkaran kekuasaan tersebut, ada orang-orang mukmin yang menjaga keimanan dengan teguh, seperti Asiyah yang disiksa secara sadis namun tetap tegar. Keteguhan Asiyah ini membuat Allah SWT menjadikannya contoh bagi orang beriman dalam Surah At-Tahrim ayat 11: wa dlaraballâhu matsalal lilladzîna âmanumra’ata fir‘aûn, idz qâlat rabbibni lî ‘indaka baitan fil-jannati wa najjinî min fir‘auna wa ‘amalihî wa najjinî minal-qaumidh-dhâlimîn, yang artinya: “Allah juga membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, yaitu istri Fir‘aun, ketika dia berkata, ‘Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah dalam surga, selamatkanlah aku dari Fir‘aun dan perbuatannya, serta selamatkanlah aku dari kaum yang zalim’.”
Contoh keteguhan lain yang beliau paparkan adalah para penyihir Firaun yang beriman saat Firaun menjanjikan imbalan besar untuk melawan mukjizat Nabi Musa AS. Dalam Surah Al-A’raf ayat 120-122 disebutkan: wa ulqiyas-saḫaratu sâjidîn, artinya: “Para penyihir itu tersungkur dalam keadaan sujud.” qâlû âmannâ birabbil-‘âlamîn, artinya: “Mereka berkata, ‘Kami beriman kepada Tuhan semesta alam’,” rabbi mûsâ wa hârûn, artinya: “(yaitu) Tuhannya Musa dan Harun.” Firaun kemudian mengancam dalam Surah Al-A’raf ayat 123: qâla fir‘aunu âmantum bihî qabla an âdzana lakum, inna hâdzâ lamakrum makartumûhu fil-madînati litukhrijû min-hâ ahlahâ, fa saufa ta‘lamûn, yang artinya: “Fir‘aun berkata, ‘Mengapa kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya ini benar-benar tipu muslihat yang telah kamu rencanakan di kota ini untuk mengusir penduduknya. Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu ini).'”
Firaun melanjutkan ancamannya dalam Surah Al-A’raf ayat 124: la’uqaththi‘anna aidiyakum wa arjulakum min khilâfin tsumma la’ushallibannakum ajma‘în, artinya: “Pasti akan aku potong tangan dan kakimu dengan bersilang (tangan kanan dan kaki kiri atau sebaliknya) kemudian sungguh akan aku salib kamu semua.” Namun para penyihir membalas dalam Surah Al-A’raf ayat 126: wa mâ tangqimu minnâ illâ an âmannâ bi’âyâti rabbinâ lammâ jâ’atnâ, rabbanâ afrigh ‘alainâ shabraw wa tawaffanâ muslimîn, artinya: “Engkau (Fir‘aun) tidak menghukum kami, kecuali karena kami beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami.’ (Mereka berdoa,) ‘Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan matikanlah kami dalam keadaan muslim (berserah diri kepada-Mu)’.”
Syaikh Mohammad Sharifani menambahkan bahwa peristiwa ini juga direkam dalam Surah Thaha ayat 72: qâlû lan nu’tsiraka ‘alâ mâ jâ’anâ minal-bayyinâti walladzî fatharanâ faqdli mâ anta qâdl, innamâ taqdlî hâdzihil-ḫayâtad-dun-yâ, yang artinya: “Mereka (para penyihir) berkata, ‘Kami tidak akan mengutamakanmu daripada bukti-bukti nyata (mukjizat) yang telah datang kepada kami (melalui Musa) dan daripada (Allah) yang telah menciptakan kami. Putuskanlah apa yang hendak engkau putuskan! Sesungguhnya engkau hanya dapat memutuskan (perkara) dalam kehidupan dunia ini’.” Serta dalam Surah Thaha ayat 73: innâ âmannâ birabbinâ liyaghfira lanâ khathâyânâ wa mâ akrahtanâ ‘alaihi minas-siḫr, wallâhu khairuw wa abqâ, artinya: “Sesungguhnya kami telah beriman kepada Tuhan kami agar Dia mengampuni semua kesalahan kami dan sihir yang telah engkau paksakan kepada kami. Allah lebih baik dan lebih kekal.”
Pada khutbah kedua, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan bahwa kita telah memasuki bulan Sya’ban yang penuh keagungan sebagai bulannya Rasulullah SAW. Beliau mengucapkan selamat kepada seluruh mukminin dan bangsa Indonesia atas datangnya bulan yang di dalamnya terdapat peringatan milad Imam Husain AS, milad Abu Fadl Abbas, milad Imam Sajjad AS, dan milad Imam Zaman AFS. Beliau menganjurkan agar syiar-syiar ini dirayakan semeriah mungkin untuk memperkuat agama serta membentengi diri dari tipu daya musuh dan propaganda yang menyimpangkan anak-anak. Sebagai penutup, beliau memberikan teladan nyata mengenai keteguhan melalui sosok Imam Husain AS dan Abu Fadl Abbas di Karbala. Syaikh Mohammad Sharifani menceritakan betapa Abu Fadl Abbas yang dicekik oleh rasa haus di pinggir sungai Furat tetap teguh dan berkata: “Demi Allah aku tidak akan meminum air ini sementara tuanku Al-Husain AS dalam keadaan kehausan.” Bahkan saat tangan kanannya dipotong oleh musuh, beliau tetap berusaha mempertahankan air yang telah diambilnya demi dikirimkan ke perkemahan Imam Husain AS.



