Skip to main content

Keagungan Al-Qur’an kembali dikupas secara mendalam dalam Kelas Tafsir Tartibi yang diselenggarakan oleh ICC pada Jumat, 23 Januari 2026. Menghadirkan Syaikh Mohammad Sharifani sebagai pembicara utama, kajian kali ini memfokuskan pembahasan pada ayat 102 dan seterusnya dari Surah Al-Baqarah yang mengungkap karakter serta perilaku orang-orang Yahudi. Dalam penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani mengutip pernyataan Allamah Thabathaba’i bahwa ayat ini mengandung keluasan makna yang luar biasa, bahkan bisa ditinjau hingga sejuta dua ratus aspek, sebuah bukti nyata akan kedalaman dimensi makna yang terkandung dalam firman Allah swt.

Ayat tersebut membicarakan bagaimana orang-orang Yahudi pada masa itu mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Nabi Sulaiman as.

wattaba‘û mâ tatlusy-syayâthînu ‘alâ mulki sulaimân, wa mâ kafara sulaimânu wa lâkinnasy-syayâthîna kafarû yu‘allimûnan-nâsas-siḫra wa mâ unzila ‘alal-malakaini bibâbila hârûta wa mârût, wa mâ yu‘allimâni min aḫadin ḫattâ yaqûlâ innamâ naḫnu fitnatun fa lâ takfur, fa yata‘allamûna min-humâ mâ yufarriqûna bihî bainal-mar‘i wa zaujih, wa mâ hum bidlârrîna bihî min aḫadin illâ bi’idznillâh, wa yata‘allamûna mâ yadlurruhum wa lâ yanfa‘uhum, wa laqad ‘alimû lamanisytarâhu mâ lahû fil-âkhirati min khalâq, wa labi’sa mâ syarau bihî anfusahum, lau kânû ya‘lamûn
“Mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa Kerajaan Sulaiman. Sulaiman itu tidak kufur, tetapi setan-setan itulah yang kufur. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babilonia, yaitu Harut dan Marut. Padahal, keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seseorang sebelum mengatakan, ‘Sesungguhnya kami hanyalah fitnah (cobaan bagimu) oleh sebab itu janganlah kufur!’ Maka, mereka mempelajari dari keduanya (malaikat itu) apa yang (dapat) memisahkan antara seorang (suami) dan istrinya. Mereka tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan (sihir)-nya, kecuali dengan izin Allah. Mereka mempelajari sesuatu yang mencelakakan dan tidak memberi manfaat kepada mereka. Sungguh, mereka benar-benar sudah mengetahui bahwa siapa yang membeli (menggunakan sihir) itu niscaya tidak akan mendapat keuntungan di akhirat. Sungguh, buruk sekali perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir jika mereka mengetahui(-nya).” (QS. Al-Baqarah [2]: 102)

Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa peristiwa ini terjadi di sebuah kota bernama Babul di Irak, yang kala itu sangat terkenal dengan praktik sihirnya. Allah swt mengutus dua malaikat, Harut dan Marut, bukan untuk menyebarkan kejahatan, melainkan untuk membasmi praktik sihir melalui ilmu sihir itu sendiri sebagai tandingan. Beliau menegaskan bahwa meskipun mempelajari sihir adalah dosa, namun mempelajarinya demi melawan kekuatan sihir diperbolehkan. Di sisi lain, kaum Yahudi pada masa itu justru mempraktikkan sihir dan secara keji menuduh Nabi Sulaiman as sebagai pemimpin penyihir. Bahkan, mereka merasa heran ketika Nabi Muhammad saw menyebut Nabi Sulaiman as sebagai seorang nabi.

Menanggapi tuduhan tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani menekankan bahwa Nabi Sulaiman as adalah hamba Allah swt yang sangat taat dan memiliki kemampuan luar biasa atas izin-Nya, bukan melalui sihir. Beliau membuktikan kenabian Nabi Sulaiman as dan ayahnya, Nabi Daud as, melalui ayat-ayat Al-Qur’an.

fa hazamûhum bi’idznillâh, wa qatala dâwûdu jâlûta wa âtâhullâhul-mulka wal-ḫikmata wa ‘allamahû mimmâ yasyâ’, walau lâ daf‘ullâhin-nâsa ba‘dlahum biba‘dlil lafasadatil-ardlu wa lâkinnallâha dzû fadllin ‘alal-‘âlamîn
“Mereka (tentara Talut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan Daud membunuh Jalut. Kemudian, Allah menganugerahinya (Daud) kerajaan dan hikmah (kenabian); Dia (juga) mengajarinya apa yang Dia kehendaki. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini. Akan tetapi, Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan-Nya) atas seluruh alam.” (QS. Al-Baqarah [2]: 251)

wa wahabnâ lidâwûda sulaimân, ni‘mal-‘abd, innahû awwâb
“Kami menganugerahkan kepada Daud (anak bernama) Sulaiman. Dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia sangat taat (kepada Allah).” (QS. Shad [38]: 30)

Dalam uraiannya, Syaikh Mohammad Sharifani juga menjelaskan berbagai jenis sihir, salah satunya yang bekerja dengan memalingkan pandangan sehingga orang berkhayal atau salah melihat, sebagaimana terjadi pada masa Nabi Musa as.

qâla alqû, fa lammâ alqau saḫarû a‘yunan-nâsi wastar-habûhum wa jâ’û bisiḫrin ‘adhîm
“Dia (Musa) menjawab, ‘Lemparkanlah (lebih dahulu)!’ Maka, ketika melemparkan (tali-temali), mereka menyihir mata orang banyak dan menjadikan mereka takut. Mereka memperlihatkan sihir yang hebat (menakjubkan).” (QS. Al-A’raf [7]: 116)

Beliau memberikan catatan penting bahwa orang yang paling mudah terkena sihir adalah mereka yang memiliki kelemahan secara spiritual dan psikologis. Syaikh Mohammad Sharifani mengingatkan bahwa meskipun sihir memiliki efek nyata sesuai hukum alam, tidak ada satu pun yang terjadi di alam semesta ini tanpa izin Allah swt. Beliau menggarisbawahi dua kata kunci dalam ayat tersebut, yaitu “illâ bi’idznillâh” (kecuali dengan izin Allah) dan “fitnah” (ujian). Kata fitnah dalam Al-Qur’an dapat bermakna positif sebagai ujian melalui kebaikan, maupun negatif melalui harta dan anak-anak.

wa nablûkum bisy-syarri wal-khairi fitnah
“Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 35)

innamâ amwâlukum wa aulâdukum fitnah, wallâhu ‘indahû ajrun ‘adhîm
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu). Di sisi Allahlah (ada) pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun [6]: 15)

Mengenai “izin Allah swt”, Syaikh Mohammad Sharifani membaginya menjadi dua kategori: izin terkait hukum alam (takwini) seperti terbitnya matahari yang di luar pilihan manusia, serta izin terkait aturan atau syariat (tasyri’i) yang berkaitan dengan pilihan perilaku manusia. Beliau kemudian melanjutkan pada ayat 104 yang menunjukkan ketelitian Allah swt dalam menjaga lisan orang beriman agar tidak terjebak pada istilah yang digunakan kaum Yahudi untuk mengolok-olok.

yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ taqûlû râ‘inâ wa qûlundhurnâ wasma‘û wa lil-kâfirîna ‘adzâbun alîm “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan, ‘Rā‘inā.’ Akan tetapi, katakanlah, ‘Unẓurnā’ dan dengarkanlah. Orang-orang kafir akan mendapat azab yang pedih.” (QS. Al-Baqarah [2]: 104)

Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa kata “Rā‘inā” sebenarnya bermakna positif, namun kaum Yahudi menggunakannya dengan nada merendahkan. Di penghujung kajian, beliau memaparkan bagaimana Al-Qur’an mengungkap kedengkian Ahlulkitab dan orang musyrik yang tidak menginginkan kebaikan turun kepada kaum mukmin, serta keinginan mereka untuk mengembalikan orang beriman kepada kekafiran karena rasa dengki.

mâ yawaddulladzîna kafarû min ahlil-kitâbi wa lal-musyrikîna ay yunazzala ‘alaikum min khairim mir rabbikum, wallâhu yakhtashshu biraḫmatihî may yasyâ’, wallâhu dzul-fadllil-‘adhîm “Orang-orang kafir dari golongan Ahlulkitab dan orang-orang musyrik tidak menginginkan diturunkannya kepadamu suatu kebaikan dari Tuhanmu. Akan tetapi, secara khusus Allah memberikan rahmat-Nya kepada orang yang Dia kehendaki. Allah pemilik karunia yang besar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 105)

wadda katsîrum min ahlil-kitâbi lau yaruddûnakum mim ba‘di îmânikum kuffârâ, ḫasadam min ‘indi anfusihim mim ba‘di mâ tabayyana lahumul-ḫaqq, fa‘fû washfaḫû ḫattâ ya’tiyallâhu bi’amrih, innallâha ‘alâ kulli syai’ing qadîr
“Banyak di antara Ahlulkitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu setelah kamu beriman menjadi kafir kembali karena rasa dengki dalam diri mereka setelah kebenaran jelas bagi mereka. Maka, maafkanlah (biarkanlah) dan berlapang dadalah (berpalinglah dari mereka) sehingga Allah memberikan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 109)