Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad berbagi pandangan mengenai Republik Islam Iran dan relevansinya bagi Indonesia dalam Diskusi Buku Republik Islam Iran: Negara Filosof, Kekuatan Baru di Dunia Multipolar di ICC Jakarta, Jumat, 21 Agustus 2026. Abraham Samad mengawali pemaparannya dengan menceritakan ketertarikannya terhadap Republik Islam Iran yang telah tumbuh sejak Revolusi Iran 1979. Meskipun latar belakang pendidikannya adalah ilmu hukum, beliau mengaku sejak masa kuliah telah memiliki perhatian terhadap Iran, terutama setelah menyaksikan sosok Imam Ayatullah Ruhullah Khomeini melalui televisi. Ketertarikannya kemudian semakin berkembang ketika aktif di Himpunan Mahasiswa Islam dan membaca karya-karya Ali Syariati serta berbagai buku mengenai sejarah Palestina.
Abraham Samad mengatakan, ketertarikannya terhadap perjuangan Iran dan Palestina bahkan pernah memengaruhi pilihan nama untuk putranya. Ketika putranya lahir, beliau sempat mempertimbangkan nama Imam Khomeini dan nama yang terinspirasi dari dua tokoh Hamas, Syaikh Ahmad Yasin dan Dr. Abdul Aziz Rantisi. Setelah mempertimbangkan perjuangan masyarakat Palestina yang berhadapan langsung dengan Israel, beliau akhirnya memberikan nama putranya Syekh Yasin Rantisi.
Kembali kepada pembahasan buku, Abraham Samad mengatakan bahwa berbagai capaian Republik Islam Iran yang dipaparkan dalam diskusi tersebut seharusnya membuka mata Indonesia. Menurut beliau, pertanyaan penting yang perlu diajukan adalah mengapa Indonesia belum mampu mencapai kemajuan seperti Iran, padahal Indonesia tidak pernah menghadapi embargo besar dan pengucilan internasional sebagaimana yang dialami Iran. Beliau menilai Indonesia sebenarnya memiliki kesempatan yang sangat besar untuk tumbuh lebih maju. Namun, berdasarkan berbagai riset, survei, dan analisis yang beliau ketahui, Indonesia masih tertinggal dalam pendidikan, ilmu pengetahuan, dan berbagai bidang lainnya.
Abraham Samad kemudian mengaitkan kondisi tersebut dengan perubahan tatanan dunia dari unipolar menuju multipolar. Beliau mengatakan bahwa ketika dunia mulai bergerak menuju multipolaritas, Indonesia seharusnya dapat mengambil posisi sebagai salah satu kekuatan yang mewakili Asia Tenggara. Namun, menurut beliau, saat ini Malaysia justru terlihat lebih berani menunjukkan eksistensinya sebagai negara yang berdaulat. Beliau mencontohkan keberanian Malaysia menerima kantor perwakilan Hamas untuk kawasan Asia Tenggara di Kuala Lumpur. Abraham Samad mengatakan bahwa sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar, Indonesia sebenarnya memiliki alasan yang kuat untuk mengambil peran tersebut. Namun, keberanian itu justru ditunjukkan Malaysia.
Pengalaman beliau ketika menjadi Ketua KPK juga membuatnya memiliki kesempatan untuk melihat lebih dekat tata kelola pemerintahan Malaysia. Sekitar 15 tahun sebelumnya, Abraham Samad diundang oleh Malaysian Anti-Corruption Commission (MACC), lembaga antikorupsi Malaysia, dan menghabiskan waktu empat hari di negara tersebut. Pada hari terakhir, beliau berkesempatan bertemu dengan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak.
Pertemuan tersebut, menurut Abraham Samad, membuatnya memahami salah satu faktor yang membantu Malaysia membangun kekuatan ekonominya. Beliau kemudian mengingat kembali kerusuhan rasial yang terjadi di Malaysia pada 1969. Setelah peristiwa tersebut, pemerintahan Malaysia di bawah Tun Abdul Razak memperkenalkan konsep New Economic Policy atau kebijakan ekonomi baru yang memberikan perhatian khusus kepada kelompok Bumiputera. Abraham Samad menilai kebijakan tersebut memiliki dampak besar terhadap perkembangan pengusaha Bumiputera di Malaysia. Beliau mengaitkannya dengan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 di Indonesia yang mengamanatkan agar bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
Menurut beliau, persoalan Indonesia terletak pada kenyataan bahwa kekayaan sumber daya alam belum sepenuhnya memberikan kesejahteraan sebagaimana amanat tersebut. Abraham Samad mengatakan bahwa ketika berada di KPK, beliau memiliki kesempatan untuk terlibat dalam upaya memperbaiki tata kelola sektor pertambangan dan menemukan banyak pelanggaran dalam pengelolaan sumber daya alam.
Berdasarkan riset yang dilakukan saat itu, menurut Abraham Samad, apabila sumber daya alam Indonesia dikelola secara optimal sesuai dengan semangat Pasal 33 UUD 1945 untuk kesejahteraan bersama, pendapatan per kapita masyarakat Indonesia dapat mencapai sekitar Rp20 juta. Beliau mengatakan angka tersebut merupakan hasil riset KPK yang kemudian juga beberapa kali dikutip oleh Prof. Mahfud MD. Namun, menurut beliau, kondisi di lapangan masih memperlihatkan kesenjangan yang besar. Masih terdapat anak-anak yang kesulitan mengakses pendidikan, fasilitas penyeberangan yang tidak memadai, serta masyarakat yang kesulitan memperoleh layanan kesehatan karena keterbatasan biaya. Kondisi tersebut, menurut Abraham Samad, menunjukkan adanya persoalan dalam pengelolaan kekayaan negara.
Beliau kemudian kembali membandingkan kebijakan Malaysia dengan kondisi Indonesia. Menurut Abraham Samad, perlindungan terhadap Bumiputera di Malaysia mengatur berbagai aspek ekonomi dan sosial. Sektor-sektor ekonomi tertentu yang berkaitan dengan sumber daya alam diberikan perlindungan khusus bagi Bumiputera. Kebijakan tersebut, menurut beliau, kemudian melahirkan kelompok pengusaha Bumiputera yang kuat.
Abraham Samad menceritakan percakapannya dengan Najib Razak ketika beliau berkunjung ke Malaysia. Saat itu, menurut beliau, Najib bertanya siapa saja yang akan muncul apabila pemerintah Malaysia memanggil 100 orang terkaya di negara tersebut. Jawabannya, menurut Najib, sekitar peringkat pertama hingga ke-50 merupakan pengusaha Bumiputera Melayu Malaysia, sedangkan setelahnya terdapat pengusaha keturunan China, Pakistan, dan India.
Najib kemudian membandingkan kondisi tersebut dengan Indonesia. Abraham Samad mengatakan bahwa dalam gambaran yang disampaikan Najib, kelompok pengusaha terkaya di Indonesia didominasi oleh kelompok oligarki keturunan China, sementara pengusaha pribumi muncul pada urutan berikutnya. Beliau menegaskan bahwa penyebutan tersebut bukan dimaksudkan dalam konteks rasial, tetapi untuk menggambarkan struktur kepemilikan dan kekuatan ekonomi yang menurutnya masih menjadi persoalan di Indonesia.
Bagi Abraham Samad, pengalaman Malaysia tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran bagi Indonesia. Beliau juga mengajak masyarakat tidak hanya melihat perang Iran dan Amerika Serikat dari sisi persenjataan. Menurutnya, hal yang lebih penting adalah mengambil hikmah dari bagaimana Iran mampu bertahan sekaligus berkembang di tengah embargo yang berlangsung selama bertahun-tahun. Iran, menurut beliau, tidak sekadar mampu bertahan, tetapi juga berkembang menjadi negara besar dengan kekuatan ekonomi, peradaban, dan sains. Abraham Samad bahkan mengatakan bahwa perkembangan Iran dalam kondisi tekanan yang begitu berat terkadang membuatnya berpikir apakah ada campur tangan Tuhan yang membuat bangsa tersebut mampu berkembang sedemikian kuat.
Beliau kemudian kembali membahas pengalaman Malaysia ketika kebijakan perlindungan Bumiputera mendapat tekanan dari Amerika Serikat karena dianggap bertentangan dengan hak asasi manusia. Menurut Abraham Samad, ketika itu Amerika Serikat melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa meminta Malaysia mencabut kebijakan tersebut. Namun, Malaysia tidak begitu saja tunduk terhadap tekanan tersebut. Abraham Samad menceritakan sikap tegas yang ditunjukkan Mahathir Mohamad. Ketika Malaysia diancam embargo, Mahathir, menurut beliau, menyatakan bahwa Malaysia juga dapat mengambil tindakan terhadap kepentingan bisnis Amerika Serikat yang beroperasi di negaranya.
Abraham Samad kemudian menceritakan pembelaan Mahathir di hadapan PBB. Menurut beliau, Mahathir menjelaskan bahwa kebijakan tersebut bukan bentuk diskriminasi terhadap kelompok tertentu, melainkan perlindungan terhadap kelompok yang dianggap rentan. Beliau membedakan antara privilege atau pemberian keistimewaan dan protection atau perlindungan.
Menurut Abraham Samad, memberikan keistimewaan kepada kelompok tertentu memang dapat dipandang diskriminatif, tetapi memberikan perlindungan kepada kelompok yang rentan tidak serta-merta merupakan pelanggaran hak asasi manusia. Beliau mencontohkan bahwa Amerika Serikat memiliki kebijakan perlindungan terhadap masyarakat Indian, sementara Australia memiliki kebijakan perlindungan terhadap masyarakat Aborigin. Argumen tersebut, menurut beliau, membuat Malaysia akhirnya tidak dikenai sanksi sebagaimana yang dikhawatirkan. Dari pengalaman tersebut, Abraham Samad melihat bahwa sebuah negara membutuhkan keberanian untuk mempertahankan kepentingan dan identitasnya.
Beliau kemudian mengatakan bahwa Indonesia sebenarnya pernah memiliki momentum untuk melakukan perubahan besar. Malaysia mengambil kebijakan ekonominya setelah kerusuhan 1969. Indonesia, menurut Abraham Samad, juga pernah mengalami momentum serupa pada masa peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru dan terutama pada Reformasi 1998. Namun, menurut beliau, momentum tersebut tidak digunakan untuk membangun kebijakan yang mampu memperkuat posisi ekonomi masyarakat Indonesia. Karena itu, Abraham Samad melihat perkembangan Iran dalam menghadapi Amerika Serikat sebagai momentum bagi Indonesia untuk melakukan evaluasi. Menurut beliau, Indonesia perlu melihat bahwa terdapat negara yang memiliki pride dan dignity atau kebanggaan dan martabat yang kuat.
Menurut Abraham Samad, pride dan dignity merupakan indikator penting dari identitas sebuah bangsa. Ketika sebuah bangsa tidak memiliki kebanggaan dan kehormatan terhadap dirinya sendiri, maka eksistensi bangsa tersebut patut dipertanyakan. Beliau mengingatkan bahwa Indonesia juga memiliki sejarah panjang sebagai bangsa Nusantara yang pernah memiliki pengaruh hingga wilayah Malaka dan berbagai kawasan lainnya. Namun, menurut beliau, kebanggaan tersebut seolah semakin hilang sehingga Indonesia mengalami persoalan identitas sebagai bangsa dan negara. Karena itu, perang Iran dan Amerika Serikat seharusnya tidak hanya dipandang sebagai konflik militer, tetapi juga menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk berkaca kepada dirinya sendiri.
Abraham Samad mempertanyakan sikap Indonesia yang menurutnya masih terlalu berhati-hati dalam menentukan posisi di tengah perubahan dunia. Beliau menilai paradigma kebijakan luar negeri Indonesia masih banyak dipengaruhi cara pandang lama yang menempatkan Amerika Serikat sebagai satu-satunya pusat kekuatan dunia. Menurut beliau, perubahan dunia menuju multipolar seharusnya membuat Indonesia mengubah cara pandangnya. Indonesia tidak perlu menyerahkan sepenuhnya kepentingan nasionalnya kepada satu negara adidaya. Setiap bangsa, termasuk Indonesia, memiliki potensi yang dapat dikembangkan untuk membangun kekuatan sendiri.
Abraham Samad juga menyoroti kekayaan sumber daya alam Indonesia yang menurutnya jauh lebih beragam dibandingkan Iran. Jika Iran memiliki minyak dan gas sebagai sumber daya alam utama, Indonesia memiliki minyak, gas, batu bara, nikel, dan berbagai kekayaan alam lainnya. Karena itu, beliau mempertanyakan mengapa Indonesia masih merasa takut terhadap kemungkinan embargo atau tekanan dari negara adidaya. Menurut Abraham Samad, perkembangan dunia menuju multipolar perlu dipahami oleh para pengambil kebijakan Indonesia agar negara ini tidak terus bergantung kepada Amerika Serikat. Beliau berharap perang Iran dan Amerika Serikat dapat membuka mata para pemimpin Indonesia bahwa dunia telah berubah dan Indonesia memiliki peluang untuk mengambil posisi yang lebih mandiri.
Selain persoalan kedaulatan dan ekonomi, Abraham Samad melihat satu hal lain yang menurutnya sangat penting untuk dipelajari dari Iran, yaitu kejujuran dan keadilan para elite kekuasaan. Beliau mengaku pernah membaca autobiografi Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dan menemukan kisah yang menurutnya sangat menarik. Ketika Iran menghadapi embargo ekonomi yang berat dan mengalami krisis ekonomi, Ahmadinejad, menurut Abraham Samad, menjual mobil tuanya untuk membantu negara. Beliau menggambarkan Ahmadinejad sebagai mantan Wali Kota Teheran yang kehidupannya sederhana dan hanya memiliki sebuah mobil Peugeot tua.
Abraham Samad juga mengutip pernyataan Ahmadinejad ketika terpilih menjadi presiden. Menurut beliau, Ahmadinejad menyampaikan kepada rakyat Iran bahwa ketika menyelesaikan tugasnya sebagai wali kota, hartanya hanya sejumlah yang dimilikinya saat itu dan ketika menyelesaikan tugas sebagai presiden, beliau berharap hartanya tetap tidak berubah. Menurut Abraham Samad, kesederhanaan pejabat seperti itu menjadi salah satu faktor yang menciptakan kedekatan antara pemimpin dan rakyat Iran. Beliau melihat adanya kesenjangan yang relatif kecil antara kehidupan pemimpin dan masyarakat.
Kondisi tersebut beliau bandingkan dengan Indonesia yang menurutnya memiliki kesenjangan terlalu lebar antara elite kekuasaan dan rakyat. Abraham Samad mengatakan bahwa ketika elite memiliki kekayaan berlebihan sementara masyarakat masih kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, muncul jarak sosial yang membuat rakyat tidak merasa memiliki negara dan pemimpinnya. Sebaliknya, menurut beliau, masyarakat Iran melihat pemimpinnya hidup sederhana. Beliau bahkan menggambarkan rumah Imam Ali Khamenei seperti rumah sederhana di kompleks perumahan rakyat di Indonesia. Para pejabat Iran, menurut Abraham Samad, juga menggunakan kendaraan yang biasa dan tidak banyak memperlihatkan kemewahan.
Menurut beliau, kesederhanaan tersebut kemudian menumbuhkan rasa memiliki yang kuat di tengah masyarakat. Ketika terjadi ancaman terhadap negaranya, rakyat Iran bersedia berkorban karena merasa memiliki hubungan yang dekat dengan para pemimpinnya. Abraham Samad kemudian mengaitkan hal tersebut dengan berbagai gejolak sosial di Indonesia. Beliau mencontohkan peristiwa yang terjadi pada Agustus 2025. Menurut beliau, salah satu faktor yang memicu kemarahan masyarakat adalah kesenjangan yang sangat besar antara rakyat dan elite kekuasaan, terutama ketika masyarakat melihat adanya pamer kekayaan di tengah kesulitan ekonomi.
Beliau kemudian membandingkannya dengan demonstrasi yang terjadi di Iran sebelum perang. Menurut Abraham Samad, Iran juga menghadapi krisis ekonomi dan sempat mengalami demonstrasi selama sekitar dua minggu. Namun, demonstrasi tersebut tidak berkembang menjadi gerakan yang berhasil menjatuhkan kepemimpinan Iran. Menurut beliau, hal itu menjadi pertanyaan penting. Jika benar terdapat pihak asing yang berusaha memprovokasi masyarakat Iran, mengapa demonstrasi tersebut akhirnya berhenti dan masyarakat justru kembali mendukung pemimpinnya? Abraham Samad melihat salah satu jawabannya terletak pada kedekatan kehidupan antara rakyat dan pemimpin.
Masyarakat Iran, menurut beliau, dapat melihat bahwa pemimpinnya juga hidup sederhana dan menghadapi kondisi kehidupan yang tidak jauh berbeda dari mereka. Karena itu, ketika mengalami kesulitan ekonomi, kemarahan mereka tidak serta-merta diarahkan untuk mengganti pemimpin yang dianggap hidup dalam kondisi yang sama. Sebaliknya, menurut Abraham Samad, situasi akan berbeda ketika kesenjangan antara rakyat dan pemimpin terlalu besar. Rakyat yang mengalami kesulitan ekonomi akan lebih mudah marah ketika melihat pemimpinnya hidup dalam kemewahan. Kesenjangan tersebut, menurut beliau, dapat menjadi pemicu gejolak sosial.
Karena itu, Abraham Samad menilai salah satu kekuatan Iran terletak pada kejujuran para pemimpinnya. Beliau mengatakan bahwa persoalan yang hilang dari Indonesia bukan hanya sistem, melainkan juga akhlak dan integritas. Menurut beliau, Iran berhasil membangun integritas bangsa sekaligus integritas individu masyarakatnya. Beliau menekankan bahwa integritas individu dapat dibangun ketika pemimpin memberikan contoh dan keteladanan. Rakyat akan terdorong hidup sederhana ketika pemimpinnya memberikan teladan kesederhanaan. Sebaliknya, apabila pemimpin memberikan contoh korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, masyarakat juga akan kehilangan rujukan moral dalam kehidupan bernegara.
Abraham Samad kemudian menyinggung persoalan pemilu. Menurut beliau, dalam sistem politik yang sehat tidak seharusnya masyarakat memilih pemimpin hanya karena menerima uang. Beliau mengatakan bahwa praktik semacam itu tidak dikenal dalam gambaran kehidupan politik Iran yang beliau pahami. Bagi beliau, persoalan tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi Indonesia. Abraham Samad berharap perkembangan Iran dan berbagai pelajaran yang muncul dari perang Iran-Amerika Serikat dapat membuka mata masyarakat serta para pengambil kebijakan mengenai pentingnya membangun negara yang berintegritas.
Menjelang akhir pemaparannya, Abraham Samad kembali menegaskan bahwa perang tersebut tidak seharusnya dilihat semata-mata sebagai pertarungan kekuatan persenjataan. Menurut beliau, pelajaran yang jauh lebih penting adalah bagaimana sebuah bangsa mampu membangun pride dan dignity. Kebanggaan dan martabat tersebut, menurut Abraham Samad, dapat menjadi kekuatan bagi sebuah bangsa untuk mempertahankan identitas, kedaulatan, dan kehormatannya. Beliau berharap Indonesia dapat mengambil hikmah dari pengalaman Iran dan menggunakan momentum perubahan dunia menuju multipolar untuk kembali membangun kepercayaan diri sebagai bangsa yang besar.



