Faisal Assegaf menyampaikan pandangannya mengenai Republik Islam Iran dalam Diskusi Buku Republik Islam Iran: Negara Filosof, Kekuatan Baru di Dunia Multipolar yang berlangsung di ICC Jakarta, Jumat, 21 Agustus 2026. Menurut beliau, terdapat dua hal menarik dari buku karya Profesor Khalid yang telah beliau baca, terutama mengenai sistem pemerintahan Republik Islam Iran dan perubahan yang terjadi sejak berakhirnya monarki hingga berdirinya Republik Islam Iran.
Faisal Assegaf mengatakan bahwa sistem pemerintahan Republik Islam Iran memiliki kemiripan dengan pemerintahan pada masa Rasulullah saw dan pemerintahan Khulafaur Rasyidin, yaitu Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar, Sayyidina Utsman, dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Menurut beliau, kepala negara di Republik Islam Iran yang saat ini dijabat oleh Pemimpin Tertinggi, Mujtaba Khamenei, merupakan pemimpin politik sekaligus pemimpin agama. Pola tersebut, menurut beliau, juga terlihat pada masa Rasulullah saw. Nabi Muhammad saw tidak hanya menjadi pemimpin politik, tetapi juga pemimpin agama yang memiliki otoritas untuk mengeluarkan fatwa dan hukum-hukum agama.
Menurut Faisal Assegaf, hal tersebut menjadi pembeda antara sistem pemerintahan Republik Islam Iran dengan kerajaan atau pemerintahan di sejumlah negara Muslim lainnya. Beliau mencontohkan negara-negara Arab di kawasan Teluk, seperti Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Oman. Menurut beliau, para raja di negara-negara tersebut pada dasarnya berperan sebagai pemimpin politik, bukan sekaligus sebagai pemimpin agama.
Hal kedua yang menurut Faisal Assegaf menarik adalah perubahan dari monarki Syah menjadi Republik Islam Iran. Menurut beliau, pemerintahan Republik Islam Iran menjalankan hadis Nabi yang berbunyi, Thalabul ilmi faridhatun ‘alal muslimina wal muslimat, yang menegaskan kewajiban menuntut ilmu bagi laki-laki dan perempuan. Beliau mengatakan bahwa prinsip tersebut juga mendapat jaminan dalam sistem pendidikan Iran.
Faisal Assegaf kemudian menyinggung propaganda yang selama ini menyebut Iran sebagai negara yang menindas perempuan dan mengekang hak-hak perempuan. Berdasarkan data yang beliau baca dalam buku Profesor Khalid, pada 2022 tingkat melek huruf di Iran mencapai sekitar 97 persen untuk laki-laki dan 95 persen untuk perempuan. Beliau juga menyebut pendidikan di Iran tersedia secara gratis. Menurut Faisal Assegaf, fakta tersebut menunjukkan adanya hal yang perlu dilihat secara lebih objektif ketika membicarakan posisi perempuan di Iran.
Beliau mengatakan telah tiga kali berkunjung ke Iran. Kunjungan pertama dilakukan pada 2015 setelah beliau mewawancarai Jalaluddin Rakhmat. Saat itu, beliau ingin mengklarifikasi berbagai isu mengenai Syiah yang beredar di media sosial, seperti anggapan bahwa orang Syiah hanya melaksanakan salat tiga waktu, memiliki Al-Qur’an yang berbeda, atau melakukan nikah mut’ah. Setelah wawancara tersebut, Jalaluddin Rakhmat ditanya apakah pernah berkunjung ke Iran. Karena belum pernah, beliau kemudian menghubungi Duta Besar Iran dan sekitar satu atau dua bulan setelahnya Faisal Assegaf berkunjung ke Iran.
Beliau kembali berkunjung ke Iran pada 2023 atas undangan Islamic Cultural and Religious Organization IQRA. Dalam kunjungan tersebut, Faisal Assegaf mengatakan bahwa beliau dapat melihat langsung kehidupan masyarakat Iran. Salah satu hal yang menarik perhatian beliau adalah cara perempuan berpakaian. Menurut beliau, ada perempuan yang mengenakan jilbab dengan menutup rambut secara penuh, tetapi ada pula yang hanya mengenakan kerudung sehingga sebagian rambut masih terlihat, dan kondisi tersebut menurut beliau tidak menjadi persoalan seperti gambaran yang sering muncul dalam propaganda mengenai Iran.
Faisal Assegaf kemudian mengaitkan pengalaman tersebut dengan propaganda negatif Barat terhadap Hamas ketika memenangkan pemilu parlemen Palestina pada 25 Januari 2006. Beliau berkunjung ke Gaza pada Oktober 2012 dan merayakan Iduladha di sana. Dalam kunjungan tersebut, beliau menyaksikan kunjungan ayah Emir Qatar saat ini, Syekh Hamad yang telah wafat, yaitu Syekh Ahmad bin Khalifah Al Thani.
Menurut Faisal Assegaf, ketika Hamas memenangkan pemilu, muncul propaganda bahwa kemenangan tersebut akan melahirkan Islam yang keras dan kaku. Namun, berdasarkan pengalamannya ketika berada di Gaza, beliau tidak menemukan gambaran seperti itu. Beliau bahkan mengatakan sempat berkenalan dengan seorang perempuan Gaza bernama Hebazat yang saat itu berusia 21 tahun dan berjabat tangan dengannya di tengah jalan. Dari pengalaman tersebut, beliau menilai banyak propaganda Barat yang menurutnya tidak sesuai dengan kenyataan yang beliau temui sendiri.
Pengalaman lain beliau rasakan ketika berkunjung ke Teheran pada 2023. Saat itu Faisal Assegaf sempat sakit dan membeli obat di apotek, seperti obat batuk, obat untuk panas dalam, dan kemungkinan parasetamol. Tiga jenis obat tersebut, menurut beliau, hanya berharga sekitar satu dolar dan dapat dibeli tanpa resep dokter. Beliau kemudian membandingkannya dengan harga obat di Indonesia yang menurutnya dapat mencapai puluhan ribu rupiah. Karena itu, Faisal Assegaf kembali menegaskan bahwa dua hal yang menarik dari buku Profesor Khalid adalah sistem pemerintahan Republik Islam Iran yang menurut beliau meniru pola pemerintahan Rasulullah saw, yakni pemimpin politik sekaligus pemimpin agama, serta perhatian terhadap pendidikan dan kehidupan masyarakat.
Beliau kemudian menghubungkan sistem tersebut dengan keteladanan para pemimpin. Menurut Faisal Assegaf, karena pemerintahan Republik Islam Iran mengambil teladan dari Rasulullah saw, pemimpin juga dituntut menjadi teladan bagi masyarakat. Beliau mengingat riwayat tentang Sayyidina Umar yang ketika dicari orang ternyata sedang tidur di atas pelepah kurma. Menurut beliau, pola kesederhanaan tersebut juga dapat dilihat pada pemimpin Iran seperti Imam Khomeini dan Ali Khamenei. Faisal Assegaf mengatakan para pemimpin Iran tidak membangun istana ketika menjadi pemimpin negara. Kesederhanaan tersebut, menurut beliau, menjadi salah satu hal yang menarik untuk diperhatikan ketika melihat sistem pemerintahan Republik Islam Iran.
Selanjutnya, Faisal Assegaf membahas perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Menurut beliau, terdapat tiga faktor yang saling berkaitan yang menjelaskan mengapa Iran akhirnya dimusuhi dan diperangi. Faktor pertama adalah karakter rezim yang berkuasa sejak 1979 sebagai rezim yang secara terbuka anti-Zionis. Menurut beliau, Iran menyatakan permusuhannya terhadap Israel sekaligus Amerika Serikat karena Amerika Serikat merupakan sekutu utama Israel. Faisal Assegaf kemudian mengingat kembali sejarah berdirinya Israel pada 14 Mei 1948 ketika David Ben-Gurion mendeklarasikan negara tersebut dan kemudian menjadi perdana menteri pertama Israel. Menurut beliau, Presiden Amerika Serikat Harry Truman hanya membutuhkan waktu sekitar 11 menit untuk memberikan pengakuan terhadap Israel.
Beliau juga menyebut Turki sebagai negara Muslim pertama yang mengakui Israel. Faisal Assegaf mengkritik apa yang menurutnya merupakan perbedaan antara retorika dan tindakan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan terhadap Israel. Ketika genosida terjadi di Gaza pada Oktober 2023, menurut beliau, Erdogan mengeluarkan pernyataan keras dengan menyamakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan Hitler dan pasukan Israel dengan pasukan Nazi. Namun, menurut Faisal Assegaf, pernyataan tersebut tidak diikuti tindakan substantif berupa pemutusan hubungan diplomatik dengan Israel yang telah berlangsung sejak 1949.
Menurut Faisal Assegaf, posisi Iran berbeda karena Iran bukan hanya mendukung Palestina, tetapi secara terbuka menyatakan sikap anti-Zionis. Beliau mengatakan bahwa dari 57 negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam, termasuk Iran, seluruhnya mendukung Palestina, tetapi Iran memiliki pendekatan yang berbeda karena secara terbuka menyatakan sikap anti-Zionis. Faktor kedua, menurut beliau, adalah dukungan Iran terhadap perjuangan Palestina. Faisal Assegaf mengatakan bahwa ketika negara-negara Muslim lainnya lebih banyak memberikan kecaman, mengadakan sidang darurat, serta memberikan bantuan kemanusiaan, Iran memberikan dukungan yang menurutnya bertujuan mengembalikan harkat dan martabat rakyat Palestina sebagai manusia.
Beliau mengatakan Iran memberikan pelatihan, membantu pendirian, memberikan pendanaan, dan persenjataan kepada kelompok-kelompok Palestina. Faisal Assegaf mengaku pernah mengunjungi rumah Mahmoud Zahar pada 2012. Mahmoud Zahar, menurut beliau, merupakan salah satu pendiri Hamas selain Syaikh Ahmad Yasin dan Abdul Aziz Rantisi, serta menjadi pemimpin Hamas setelah Syaikh Ahmad Yasin.
Menurut Faisal Assegaf, Mahmoud Zahar pernah menceritakan bahwa bantuan keuangan dari Iran untuk Hamas disalurkan melalui dirinya. Ketika Hamas mengalami kekurangan dana, Mahmoud Zahar, menurut cerita yang beliau terima, pernah menyampaikan persoalan tersebut kepada Qasem Soleimani, komandan Pasukan Quds, sayap luar negeri Garda Revolusi Islam Iran. Menurut Faisal Assegaf, Qasem Soleimani kemudian membawa uang tunai sekitar 20 hingga 22 juta dolar dan menyerahkannya kepada Mahmoud Zahar.
Faisal Assegaf juga menyebut hasil investigasi The Sunday Times yang menurut beliau menyatakan bahwa Iran pada periode 2014 hingga 2020 menggelontorkan sekitar 220 juta dolar untuk berbagai kebutuhan, termasuk pembelian senjata dan pembayaran gaji. Menurut beliau, sikap Iran tersebut berbeda dengan negara-negara Muslim lainnya dalam membela Palestina. Negara-negara Muslim lainnya, menurut Faisal Assegaf, mendukung Palestina tetapi tidak berani secara terbuka menyatakan permusuhan terhadap Israel, terlebih terhadap Amerika Serikat. Iran justru mengambil pendekatan yang berbeda karena sejak awal menyatakan diri sebagai negara anti-Zionis.
Faisal Assegaf kemudian menyinggung Konferensi Tingkat Tinggi gabungan Liga Arab dan Organisasi Kerja Sama Islam di Riyadh pada Desember 2024. Menurut beliau, terdapat dua usulan Iran yang tidak diadopsi dalam hasil konferensi tersebut. Usulan pertama adalah agar negara-negara Muslim yang memiliki hubungan dengan Israel memutuskan hubungan tersebut. Beliau kemudian menyebut sejumlah negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, antara lain Turki, Mesir, Yordania, Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko, Kazakhstan, Azerbaijan, Uzbekistan, Albania, dan Turkmenistan. Menurut Faisal Assegaf, jumlahnya mencapai belasan negara.
Usulan kedua Iran, menurut beliau, adalah agar rakyat Palestina dipersenjatai. Faisal Assegaf menjelaskan bahwa ketika seseorang ditindas dan tidak memiliki kemampuan untuk melawan, harkatnya sebagai manusia dapat direndahkan. Menurut beliau, Iran berusaha mengembalikan kehormatan rakyat Palestina dengan memberikan kemampuan kepada mereka untuk melawan, meskipun perbandingan kekuatan antara Palestina dan Israel sangat tidak seimbang.
Karena itu, Faisal Assegaf kembali menyimpulkan bahwa cara Iran membela perjuangan Palestina menjadi salah satu alasan mengapa negara tersebut dimusuhi dan diperangi. Beliau bahkan mengatakan bahwa istilah “konflik Palestina-Israel” menurutnya kurang tepat. Bagi beliau, istilah yang lebih tepat adalah “penjajahan Israel terhadap Palestina”. Faisal Assegaf juga mengatakan bahwa sejak 2008 beliau tidak pernah percaya bahwa negara Palestina akan benar-benar terwujud. Tesis yang beliau tulis pada waktu itu bahkan menggunakan gagasan Palestina sebagai “negara khayalan”, karena menurut beliau tidak ada keseriusan dalam membela Palestina. Faktor ketiga yang disebut Faisal Assegaf adalah persaingan antara Iran dan Arab Saudi dalam konteks isu Palestina. Menurut beliau, Organisasi Kerja Sama Islam yang bermarkas di Jeddah berada dalam pengaruh kuat Arab Saudi. Karena itu, ketika Arab Saudi mengambil suatu posisi, keputusan Organisasi Kerja Sama Islam menurut beliau cenderung mengikuti posisi tersebut.
Beliau kemudian menyinggung Dewan Perdamaian yang dibentuk dan dipimpin oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dari 27 negara berpenduduk mayoritas Muslim yang bergabung, menurut Faisal Assegaf, terdapat 16 negara Muslim yang menjadi anggota. Dari jumlah tersebut, hanya empat negara yang belum memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, yaitu Arab Saudi, Pakistan, Kuwait, dan Indonesia. Faisal Assegaf mempertanyakan bagaimana negara-negara Muslim, termasuk Indonesia, dapat mengandalkan sebuah Dewan Perdamaian yang dibentuk, dirumuskan, dan dipimpin oleh presiden Amerika Serikat yang menurut beliau selama ini mendukung Israel. Beliau menilai hal tersebut ironis dalam konteks perjuangan Palestina.
Menurut Faisal Assegaf, persoalan tersebut menjadi semakin ironis karena di dalam Dewan Perdamaian tersebut terdapat pihak yang menurutnya memiliki status sebagai penjahat perang. Beliau menyebut bahwa Pengadilan Kriminal Internasional atau ICC telah mengeluarkan surat perintah penangkapan pada November 2024. Tiga petinggi Hamas yang disebut dalam perkara tersebut, yaitu Yahya Sinwar, Muhammad Deif, dan Ismail Haniyeh, menurut beliau telah meninggal dunia. Sementara itu, dua tokoh Israel yang masih hidup dan disebut adalah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant.
Karena itu, Faisal Assegaf mempertanyakan keseriusan negara-negara Muslim, termasuk Indonesia, dalam memperjuangkan Palestina apabila solusi yang diandalkan justru melibatkan pihak-pihak yang menurut beliau memiliki persoalan tersebut. Beliau kembali mengatakan bahwa tesisnya mengenai Palestina sebagai “negara khayalan” sejak 2008 berangkat dari penilaiannya bahwa tidak ada keseriusan, kesolidan, dan kejujuran para pemimpin negara Muslim dalam membela Palestina. Menurut Faisal Assegaf, pembukaan hubungan diplomatik dengan Israel merupakan bentuk pengkhianatan terhadap isu penjajahan Palestina. Beliau kemudian menyinggung aliansi pertahanan Arab Saudi, Turki, dan Pakistan yang menurut sejumlah pengamat dianggap dapat membahayakan Israel. Namun, menurut beliau, tidak realistis mengharapkan negara-negara tersebut menyerang Israel.
Faisal Assegaf menjelaskan bahwa Turki merupakan anggota NATO dan memiliki hubungan diplomatik dengan Israel sehingga sulit membayangkan Turki tiba-tiba meluncurkan rudal atau pesawat nirawak Bayraktar ke Israel. Pakistan, menurut beliau, juga memiliki pertimbangan tersendiri. Beliau menyebut Pakistan memiliki persoalan cadangan devisa dan utang sekitar 3,5 miliar dolar kepada Uni Emirat Arab yang ketika jatuh tempo tidak dapat dibayar dan kemudian ditanggulangi oleh Arab Saudi. Selain itu, menurut Faisal Assegaf, Pakistan telah mengirimkan pasukannya ke Najran yang berbatasan dengan Yaman untuk menghadapi Houthi. Karena itu, beliau menilai aliansi tersebut bukan dibentuk untuk melawan Israel, melainkan lebih berkaitan dengan menghadapi Houthi di Yaman atau kemungkinan menghadapi Iran.
Faisal Assegaf kemudian kembali merangkum tiga faktor yang menurut beliau menjelaskan mengapa Iran dimusuhi dan akhirnya diperangi. Pertama, Iran merupakan satu-satunya negara yang rezimnya secara terbuka mendeklarasikan diri sebagai anti-Zionis. Kedua, karena sikap anti-Zionis tersebut, Iran memiliki pendekatan berbeda dalam membela Palestina, yakni tidak hanya berada pada tingkat konferensi diplomatik dan bantuan kemanusiaan, tetapi juga memberikan dukungan yang menurut beliau mengembalikan kehormatan dan kemampuan rakyat Palestina untuk melawan penjajahan. Ketiga, terdapat persaingan antara Iran dan negara-negara yang lebih dekat dengan Amerika Serikat, khususnya Arab Saudi.
Menurut Faisal Assegaf, sangat ironis apabila negara-negara yang memiliki hubungan erat dengan Amerika Serikat, bahkan negara yang telah memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, diharapkan menjadi pihak yang akan membela Palestina secara substantif. Tiga faktor tersebut, menurut beliau, membuat Iran akan selalu berada dalam posisi dimusuhi. Pada bagian akhir pemaparannya, Faisal Assegaf menggambarkan sejumlah tokoh yang menurut beliau berpengaruh terhadap dinamika politik Timur Tengah. Pertama adalah Erdogan yang menurut beliau memiliki keinginan untuk mengembalikan romantisme Kesultanan Utsmaniyah. Karena itu, menurut beliau, Erdogan terlibat dalam berbagai persoalan di Libya dan kawasan lainnya.
Selain Erdogan, Faisal Assegaf menyebut Uni Emirat Arab dengan Mohammed bin Zayed, Arab Saudi dengan Mohammed bin Salman yang merupakan putra mahkota sekaligus perdana menteri, serta Iran yang menurut beliau memiliki karakter jelas karena sikap anti-Zionisnya. Beliau kemudian menyebut Qatar sebagai negara yang menarik karena memiliki wilayah yang sangat kecil tetapi kekayaan yang sangat besar. Menurut Faisal Assegaf, Qatar mengambil posisi yang luwes. Di satu sisi, Qatar memiliki kedekatan dengan Amerika Serikat, tetapi di sisi lain negara tersebut juga membuka pintu kepada Ikhwanul Muslimin, Hamas, dan Taliban.



