Skip to main content

Kelas Tafsir Tartibi di ICC Jakarta pada Jumat, 28 November 2025 kembali menghadirkan kajian lanjutan bersama Ustaz Umar Shahab. Beliau mengawali kajian dengan mengajak jamaah bersyukur karena kembali diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk melanjutkan pembahasan Al-Qur’an secara tartib. Pada pertemuan ini, kajian memasuki Surah Al-Baqarah ayat 47, yang masih berkaitan dengan perjalanan dan pelajaran besar dari kaum Bani Israil.

Ustaz Umar Shahab menjelaskan ayat 47, “yâ banî isrâ’îla dzkurû ni‘matiyallatî an‘amtu ‘alaikum wa annî fadldlaltukum ‘alal-‘âlamîn” yang berarti “Wahai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan sesungguhnya Aku telah melebihkan kamu daripada semua umat di alam ini (pada masa itu).” Menurut beliau, ayat ini mengingatkan bahwa Allah SWT pernah mengunggulkan Bani Israil atas umat-umat lain dalam sejumlah peristiwa, namun keutamaan itu tidak bersifat mutlak dan bukan jaminan kedudukan abadi.

Pembahasan kemudian berlanjut ke ayat 48 yang memperkenalkan konsep yang disebut Ustaz Umar Shahab sebagai rezim akhirat, yakni ketetapan-ketetapan yang berlaku di hari kiamat. Ayat itu berbunyi, “wattaqû yaumal lâ tajzî nafsun ‘an nafsin syai’an wa lâ yuqbalu minhâ syafâ‘atun wa lâ yu’khadzu minhâ ‘adlun wa lâ hum yunsharûn” atau “Takutlah kamu pada suatu hari (kiamat) yang seseorang tidak dapat membela orang lain sedikit pun, syafaat dan tebusan apa pun darinya tidak diterima, dan mereka tidak akan ditolong.”

Ustaz Umar Shahab menjelaskan bahwa ayat ini kontras dengan kondisi dunia, di mana Allah SWT mengangkat para khalifah-Nya, yakni para nabi dan pemimpin yang membimbing manusia sebagai imam. Para nabi diberikan kewenangan untuk memimpin manusia, namun pada akhirnya setiap manusia tetap memiliki pilihan terhadap jalan hidupnya. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Insan ayat 3, “innâ hadainâhus-sabîla immâ syâkiraw wa immâ kafûrâ” berarti “Sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepadanya jalan (yang lurus); ada yang bersyukur dan ada pula yang sangat kufur.” Inilah prinsip pertanggungjawaban di dunia: manusia diberi kebebasan memilih sekaligus konsekuensi dari pilihannya.

Namun, di akhirat tidak ada lagi ruang untuk memilih. Ayat 48 Surah Al-Baqarah menegaskan bahwa seseorang tidak dapat menolong orang lain sedikit pun, dan hubungan sosial yang begitu kuat di dunia kembali dipertegas melalui Surah ‘Abasa ayat 34–37 yang beliau bacakan lengkap: “yauma yafirrul-mar’u min akhîh” — “pada hari itu manusia lari dari saudaranya,” “wa ummihî wa abîh” — “(dari) ibu dan bapaknya,” “wa shâhibatihî wa banîh” — “serta (dari) istri dan anak-anaknya,” “likullimri’im minhum yauma’idzin sya’nuy yughnîh” — “setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.”

Beliau menjelaskan bahwa di dunia bantuan, balas jasa, syafaat manusiawi, dan berbagai bentuk dukungan bisa saja terjadi, namun di akhirat semuanya tidak berlaku. Bahkan tebusan pun tidak diterima, dan seseorang tidak akan dibela. Ustaz Umar Shahab menekankan bahwa ayat-ayat ini menggambarkan keadilan mutlak Allah SWT di akhirat: tidak ada yang dapat lolos dari pertanggungjawaban. Namun ayat-ayat yang tampak meniadakan syafaat sebenarnya tidak bermakna bahwa syafaat tidak ada, tetapi menegaskan bahwa syafaat tidak seperti pertolongan di dunia yang sering berujung pada kecurangan atau penyalahgunaan kekuasaan. Syafaat hanya berlaku dengan izin Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam ayat Kursi: “man dzalladzî yasyfa‘u ‘indahû illâ bi idznih” — “Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya.”

Ustaz Umar Shahab menegaskan bahwa ayat-ayat ini tidak menafikan syafaat secara mutlak tetapi meluruskan pemahaman bahwa syafaat hanya atas izin Allah SWT dan hanya diberikan kepada mereka yang Allah kehendaki. Karena itu, konteks Surah Al-Baqarah ayat 48 tidak dapat dipahami sebagai penolakan total terhadap syafaat, tetapi sebagai penegasan bahwa di akhirat tidak ada bentuk “pertolongan” yang terjadi melalui kekuasaan, jabatan, atau kedudukan seperti di dunia.

Beliau kemudian melanjutkan pada ayat 49 mengenai nikmat Allah SWT kepada Bani Israil. Ayat tersebut berbunyi, “wa idz najjainâkum min âli fir‘auna yasûmûnakum sû’al-‘adzâbi yudzabbihûna abnâ’akum wa yastahyûna nisâ’akum, wa fî dzâlikum balâ’um mir rabbikum ‘adhîm” yang berarti “(Ingatlah) ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir‘aun dan) pengikut-pengikut Fir‘aun. Mereka menimpakan siksaan yang sangat berat kepadamu. Mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu. Pada yang demikian terdapat cobaan yang sangat besar dari Tuhanmu.”

Ayat ini diikuti oleh berbagai nikmat lain yang Allah SWT sebutkan secara berurutan. Ayat 50 menyebutkan pembelahan laut: “wa idz faraqnâ bikumul-baḥra fa anjainâkum wa aghraqnâ âla fir‘auna wa antum tandhurûn” — “(Ingatlah) ketika Kami membelah laut untukmu, lalu Kami menyelamatkanmu dan menenggelamkan (Fir‘aun dan) pengikut-pengikut Fir‘aun, sedangkan kamu menyaksikan(-nya).”

Kemudian ayat 51 menyebutkan penyimpangan mereka setelah ditinggal Nabi Musa as, “wa idz wâ‘adnâ mûsâ arba‘îna lailatan tsummattakhadztumul-‘ijla mim ba‘dihî wa antum dhâlimûn” — “(Ingatlah) ketika Kami menjanjikan (petunjuk Taurat) kepada Musa (melalui munajat selama) empat puluh malam. Kemudian, kamu (Bani Israil) menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sembahan) setelah (kepergian)-nya, dan kamu (menjadi) orang-orang zalim.” Dan ayat 52, “tsumma ‘afaunâ ‘ankum mim ba‘di dzâlika la‘allakum tasykurûn” — “Setelah itu, Kami memaafkan kamu agar kamu bersyukur.”

Ustaz Umar Shahab menyoroti penggunaan kata “Kami” dalam rangkaian ayat ini. Menurut beliau, sebagian ulama menafsirkan penggunaan dhamir jamak sebagai tanda keagungan Allah SWT. Namun Ustaz Umar Shahab menjelaskan bahwa selain menegaskan keagungan, penggunaan kata “Kami” juga menunjukkan keterlibatan sistem hukum sebab-akibat yang Allah tetapkan di dunia. Allah SWT adalah sebab utama segala sesuatu, tetapi peristiwa-peristiwa dunia berjalan melalui proses, hukum alam, dan keterlibatan para pelaku yang Allah tugaskan sebagai khalifah di bumi. Karena itu pembelahan laut, turunnya hujan, atau kejadian lain tetap dikembalikan kepada Allah SWT sebagai penentu, namun sekaligus melalui mekanisme ciptaan-Nya.

Dengan penjelasan rinci ini, Ustaz Umar Shahab menunjukkan bahwa rangkaian ayat-ayat tersebut tidak hanya merekam sejarah Bani Israil, tetapi juga menegaskan keadilan Allah SWT, mekanisme sebab-akibat di dunia, pertanggungjawaban manusia, serta prinsip keadilan akhirat yang tidak dapat diakali oleh kekuasaan atau hubungan sebagaimana yang terjadi di dunia.

Leave a Reply