Khutbah Jumat ICC Jakarta pada 28 November 2025 disampaikan oleh Ustaz Husein Shahab, yang membuka pembahasan dengan sebuah riwayat dari Abu Hamzah al-Tsumali. Dalam riwayat tersebut, Abu Hamzah meriwayatkan dari Imam Baqir as atau Imam Sajjad as bahwa suatu hari Imam Ali as duduk di tengah banyak orang, lalu beliau bertanya kepada mereka tentang ayat Al-Qur’an yang paling memberikan harapan.
Ustaz Husein Shahab menjelaskan bahwa para ulama, terutama para urafa dalam ilmu tasawuf, sejak lama membahas posisi manusia yang senantiasa berada di antara khauf (takut) dan raja’ (harap). Keduanya tidak dapat dipisahkan. Manusia harus takut kepada Allah SWT namun pada saat yang sama memiliki harapan kepada-Nya. Beliau menegaskan bahwa rasa takut adalah bagian fundamental dari keimanan, sebagaimana firman Allah SWT:
innamâ yakhsyallâha min ‘ibâdihil-‘ulamâ’
“Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama.”
Keseimbangan dua sikap ini juga tampak berulang dalam hadis-hadis Nabi Muhammad saw dan para Imam as. Ustaz Husein Shahab kemudian mencontohkan Imam Ali Zainal Abidin as yang dikenal sebagai figur dengan harapan besar kepada Allah SWT. Disebutkan bahwa seorang murid Sufyan Ats-Tsauri pernah menyampaikan kepada Imam Sajjad as tentang pandangan gurunya bahwa sangat sulit bagi manusia untuk masuk ke surga karena banyaknya kesalahan dan kekurangan. Imam Sajjad as justru menjawab bahwa kemungkinan manusia masuk surga sangat besar. Beliau mengatakan bahwa apabila terdapat seratus pintu surga, maka sembilan puluh sembilan pintu dibukakan bagi manusia. Hanya satu pintu yang tertutup, yakni pintu bagi mereka yang tidak mau bertaubat kepada Allah SWT.
Ustaz Husein Shahab kemudian kembali pada riwayat Abu Hamzah al-Tsumali tentang perbedaan pendapat para sahabat Imam Ali as ketika ditanya mengenai ayat yang paling memberikan harapan. Sebagian menjawab ayat:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), tetapi Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu.”
Sebagian lain menyebut ayat:
“Siapa yang berbuat kejahatan atau menganiaya dirinya, kemudian memohon ampunan kepada Allah, niscaya akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Dan sebagian lainnya memilih ayat:
“Katakanlah (Nabi Muhammad), wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Namun menurut riwayat tersebut, Imam Ali as kemudian menyampaikan bahwa Rasulullah saw bersabda bahwa ayat yang paling memberikan harapan adalah firman Allah SWT:
“Dirikanlah salat pada kedua ujung hari (pagi dan petang) dan pada bagian-bagian malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik menghapus kesalahan-kesalahan. Itu adalah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat Allah.”
Ustaz Husein Shahab lalu melanjutkan dengan penjelasan Rasulullah saw lainnya bahwa ketika seseorang berwudhu dan air menetes dari anggota wudhunya, maka pada saat itu pula dosa-dosanya berguguran. Bila ia menghadap Allah SWT dengan wajah dan hati, dan wudhunya tidak batal, dosa-dosanya akan dihapus seperti bayi yang baru dilahirkan. Dosa-dosa itu terus digugurkan dari satu salat ke salat berikutnya hingga lima waktu salat yang dikerjakan seorang hamba.
Menurut Ustaz Husein Shahab, seluruh rangkaian ayat dan riwayat tersebut menunjukkan bahwa manusia harus selalu berada pada dua posisi: harapan dan ketakutan. Tidak boleh sepenuhnya berharap tanpa rasa takut, dan tidak boleh tenggelam dalam ketakutan tanpa berharap.
Beliau juga menyinggung Doa Kumail, di mana Imam Ali as menampilkan rasa takut yang amat mendalam kepada Allah SWT, seakan-akan beliaulah pendosa terbesar, meski beliau seorang maksum. Begitu pula Rasulullah saw yang dalam satu riwayat disebut menangis di rumah salah satu istrinya sambil memohon agar selalu diingatkan kepada Allah SWT.
Ustaz Husein Shahab menyampaikan pula sebuah riwayat Nabi saw:
“Takutlah kamu kepada Allah SWT bagaikan kamu akan dihajar dengan batu yang sangat besar dan akan membuatmu terkapar dan mati.”
Di riwayat lain disebutkan ayat yang dianggap memberikan harapan besar:
wa lasaufa yu‘thîka rabbuka fa tardlâ
“Sungguh, kelak (di akhirat nanti) Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu sehingga engkau rida.” (Adh-Dhuha: 5)
Ayat ini dipahami sebagai isyarat tentang syafaat Nabi Muhammad saw. Ustaz Husein Shahab menegaskan bahwa syafaat itu diberikan kepada para pendosa besar dari umat beliau, dengan syarat mereka beriman kepada syafaat tersebut. Barang siapa beriman kepada Allah SWT, Rasulullah saw, dan syafaat Rasulullah saw, maka ia akan mendapatkannya.
Memasuki khutbah kedua, Ustaz Husein Shahab mengingatkan kembali bahwa sejarah telah menunjukkan bagaimana para nabi menghadapi manusia yang mengetahui kebenaran, namun tetap tidak mau menerimanya. Beliau mengutip firman Allah SWT:
innâ hadainâhus-sabîla immâ syâkiraw wa immâ kafûrâ
“Sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepadanya jalan (yang lurus); ada yang bersyukur dan ada pula yang sangat kufur.” (Al-Insan: 3)
Akal sehat, Al-Qur’an, dan hadis Nabi saw telah menunjukkan jalan kebenaran, namun manusia tetap diberi pilihan untuk mengikutinya atau menolaknya. Karena itu, menurut Ustaz Husein Shahab, memohon hidayah dan istiqamah adalah hal yang sangat penting, demikian pula menjaga kerendahan diri di hadapan Allah SWT. Beliau menutup dengan mengingatkan kisah Iblis yang mengetahui kebenaran Allah SWT dan Adam as, tetapi kesombongan membuatnya menolak jalan yang benar.



