Skip to main content

Islamic Cultural Center (ICC) menyelenggarakan peringatan wiladah Sayyidah Fatimah Zahra sa pada Kamis, 11 Desember 2025, dalam sebuah majelis peringatan yang dihadiri jamaah untuk mengenang kelahiran putri Rasulullah saw sekaligus meneladani keutamaan dan perjuangan hidup beliau. Acara ini menjadi momentum spiritual untuk mengingat kedudukan Sayyidah Fatimah sa sebagai wanita paling mulia dalam sejarah umat manusia.

Acara dibuka dengan sambutan oleh Ustaz Arifin yang mengajak jamaah menelusuri keteladanan ahlul bait as dalam memberi dan berkorban semata-mata karena Allah swt. Dalam penjelasannya, Ustaz Arifin membacakan firman Allah swt yang merekam kisah pengorbanan Imam Ali as dan Sayyidah Fatimah az-Zahra sa dalam Surah Al-Insan:

Wa yuth‘imûnath-tha‘âma ‘alâ ḥubbihî miskînaw wa yatîmaw wa asîrâ “Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan.” (QS. Al-Insan [76]: 8)

Innamâ nuth‘imukum liwaj-hillâhi lâ nurîdu mingkum jazâ’aw wa lâ syukûrâ “(Mereka berkata,) ‘Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanya demi rida Allah. Kami tidak mengharap balasan dan terima kasih darimu.’” (QS. Al-Insan [76]: 9)

Ustaz Arifin menyampaikan bahwa Sayyidah Fatimah az-Zahra sa lahir di Makkah, di rumah Sayyidah Khadijah Al-Kubro sa, pada hari Jumat, 20 Jumadil Tsani. Ketika Rasulullah saw menerima kabar kelahiran putri beliau, Rasulullah saw segera menuju rumah, menggendong putrinya, lalu mengumandangkan azan dan iqamah. Sejak detik pertama kehidupannya, Sayyidah Fatimah sa mendengar langsung kalimat-kalimat tauhid dari lisan suci Rasulullah saw yang diangkat oleh Allah swt untuk menyampaikan risalah-Nya. Nutrisi ruhani inilah yang kemudian membentuk kehidupan, pemikiran, dan kepribadian Sayyidah Fatimah sa dalam seluruh tahapan hidupnya.

Beliau menjelaskan bahwa Sayyidah Fatimah sa tidak terpisahkan dari sejarah besar perubahan umat manusia, khususnya dalam upaya menyelamatkan kaum perempuan dari kehinaan dan mengangkat mereka ke posisi yang tinggi dan mulia. Sayyidah Fatimah sa menjadi tokoh inspiratif pembela perempuan sepanjang masa. Dalam teks-teks suci agama, nama beliau sejajar dengan Sayyidah Khadijah sa yang mengorbankan seluruh harta bendanya demi dakwah Rasulullah saw, Maryam ibunda Nabi Isa as, serta Asiyah istri Firaun yang menyelamatkan Nabi Musa as dari kekejaman suaminya. Meski perjuangan membela perempuan selalu dibalas dengan perlawanan fisik, caci maki, penghinaan, dan pelecehan, Sayyidah Fatimah sa tidak pernah menunjukkan sikap menyerah dan senantiasa berdiri membantu perjuangan Rasulullah saw.

Dalam sambutan tersebut, Ustaz Arifin juga menyampaikan kabar gembira bagi para pengikut ahlul bait as. Beliau mengisahkan dialog Imam Ali as dengan Rasulullah saw ketika Imam Ali as bertanya siapa anggota keluarga yang paling dicintai Rasulullah saw. Rasulullah saw menjawab bahwa yang paling beliau cintai adalah Fatimah binti Muhammad. Ketika Imam Ali as bertanya alasan penamaan Fatimah, Rasulullah saw menjelaskan bahwa karena Fatimah dan para pengikut setianya akan dibebaskan dari api neraka.

Rangkaian acara dilanjutkan dengan tilawah Al-Qur’an oleh Ustaz Usep Irawan yang menambah kekhusyukan suasana majelis. Setelah itu, ceramah utama disampaikan oleh Syaikh Mohammad Sharifani yang diterjemahkan oleh Ustaz Hafidh Alkaf. Dalam awal ceramahnya, Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa malam tersebut adalah malam yang sangat istimewa karena merupakan peringatan kelahiran wanita paling mulia yang pernah diciptakan Allah swt. Beliau menyampaikan bahwa Sayyidah Fatimah sa adalah penghulu wanita sejagad sejak awal penciptaan hingga hari akhir. Secara khusus, beliau mengajak seluruh kaum wanita untuk bersujud syukur kepada Allah swt karena Allah swt telah menetapkan kelahiran seorang wanita yang menjadi manusia paling mulia setelah Rasulullah saw.

Dalam penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan bahwa majelis ini bertujuan mengenang keutamaan Sayyidah Fatimah sa. Keutamaan pertama dijelaskan melalui peristiwa mubahalah yang diabadikan dalam Surah Ali Imran ayat 61, ketika sekelompok Nasrani dari Najran berdialog dengan Rasulullah saw mengenai kebenaran risalah Islam. Setelah mereka menolak dalil-dalil yang disampaikan Rasulullah saw, Allah swt berfirman:

Fa man ḥâjjaka fîhi mim ba‘di mâ jâ’aka minal-‘ilmi fa qul ta‘âlau nad‘u abnâ’anâ wa abnâ’akum wa nisâ’anâ wa nisâ’akum wa anfusanâ wa anfusakum tsumma nabtahil fa naj‘al la‘natallâhi ‘alal-kâdzibîn “Siapa yang membantahmu dalam hal ini setelah datang ilmu kepadamu, maka katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu, kemudian marilah kita bermubahalah agar laknat Allah ditimpakan kepada para pendusta.’” (QS. Ali Imran [3]: 61)

Beliau menjelaskan bahwa mubahalah berarti saling berdoa agar kehancuran ditimpakan kepada pihak yang menolak kebenaran. Dalam peristiwa tersebut, para pemuka Nasrani sempat bertanya kepada pimpinan mereka. Sang uskup memperingatkan agar tidak melakukan mubahalah jika Muhammad saw datang dengan orang-orang pilihan. Ketika Rasulullah saw datang hanya bersama seorang laki-laki dewasa, dua anak laki-laki, dan seorang wanita, sang uskup menyatakan bahwa mereka tidak boleh bermubahalah, karena jika orang-orang itu mengangkat tangan berdoa, langit akan runtuh menimpa mereka. Peristiwa ini menjadi bukti nyata kebenaran Islam, dan dalam peristiwa agung tersebut hanya ada satu wanita yang mewakili seluruh kaum perempuan, yaitu Sayyidah Fatimah az-Zahra sa.

Keutamaan kedua dijelaskan melalui Surah Al-Ahzab ayat 33 tentang pensucian ahlul bait as. Allah swt berfirman:

Wa qarna fî buyûtikunna wa lâ tabarrajna tabarrujal-jâhiliyyatil-ûlâ wa aqimnash-shalâta wa âtînaz-zakâta wa athi‘nallâha wa rasûlah, innamâ yurîdullâhu liyudz-hiba ‘angkumur-rijsa ahlal-baiti wa yuthahhirakum tath-hîrâ “Tetaplah (tinggal) di rumah-rumahmu dan janganlah berhias (dan bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu. Tegakkanlah salat, tunaikanlah zakat, serta taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah hanya hendak menghilangkan dosa darimu, wahai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab [33]: 33)

Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan pensucian ahlul bait as secara mutlak. Berdasarkan riwayat hadis kisa, Rasulullah saw menutupi dirinya bersama Imam Ali as, Imam Hasan as, Imam Husain as, dan Sayyidah Fatimah az-Zahra sa dengan kain kisa. Dalam riwayat tersebut, poros dari lima insan suci itu adalah Sayyidah Fatimah az-Zahra sa. Bahkan ketika para malaikat bertanya kepada Allah swt siapa yang berada di bawah kisa, Allah swt menyebut mereka dengan menjadikan Sayyidah Fatimah sa sebagai poros, yakni Fatimah, ayahnya, suaminya, dan anak-anaknya.

Keutamaan ketiga dijelaskan melalui Surah Al-Insan ayat 7 dan 8 yang berkaitan dengan nazar Imam Ali as dan Sayyidah Fatimah az-Zahra sa. Selama tiga hari berturut-turut, mereka berpuasa dan hanya memiliki sedikit makanan untuk berbuka. Pada hari pertama, mereka memberikan makanan tersebut kepada seorang miskin, pada hari kedua kepada seorang anak yatim, dan pada hari ketiga kepada seorang tawanan, hingga mereka berbuka puasa hanya dengan air. Peristiwa ini diabadikan Allah swt dalam firman-Nya:

Wa yuth‘imûnath-tha‘âma ‘alâ ḥubbihî miskînaw wa yatîmaw wa asîrâ “Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan.” (QS. Al-Insan [76]: 8)

Setelah menyampaikan tiga keutamaan melalui ayat-ayat Al-Qur’an, Syaikh Mohammad Sharifani menambahkan dua hadis Rasulullah saw. Hadis pertama menjelaskan kesepadanan antara Imam Ali as dan Sayyidah Fatimah sa, bahwa jika tidak ada Sayyidah Fatimah sa maka tidak ada satu pun wanita yang sepadan dengan Imam Ali as, dan demikian pula sebaliknya. Hadis kedua menyebutkan kedudukan luar biasa Sayyidah Fatimah sa, ketika Rasulullah saw bersabda bahwa Allah swt rida ketika Fatimah rida dan Allah swt murka ketika Fatimah murka. Beliau menegaskan bahwa tidak ada manusia biasa yang mampu mencapai kedudukan semacam ini selain insan pilihan Allah swt.

Sebagai penutup ceramah, Syaikh Mohammad Sharifani mengingatkan bahwa dalam Al-Qur’an terdapat satu kedudukan yang sangat tinggi secara maknawi, yaitu keridaan Allah swt. Pada malam tersebut, jamaah menghadiri majelis yang memperingati kelahiran seorang wanita yang keridaannya adalah keridaan Allah swt, sebuah kedudukan yang sangat agung dan tidak tertandingi.

Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan penampilan hadrah oleh Tim Haidar, pembagian hadiah kepada jamaah, dan ditutup dengan doa serta penutup majelis yang dipimpin oleh Ustaz Umar Shahab.

Leave a Reply