Skip to main content

Dalam rangkaian Khutbah Jumat ICC Jakarta hari ini, Syaikh Mohammad Sharifani, yang diterjemahkan oleh Ustaz Hafidh Alkaf, membahas tentang pentingnya keimanan kepada yang ghaib serta teladan keluarga ideal dalam Islam.

Dalam khutbah pertama, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan bahwa empat bulan lalu, melalui forum Khutbah Jumat, telah dibahas empat program Nabi Muhammad saw dalam menjalankan misi beliau sebagai utusan Allah swt, serta sepuluh metode dakwah yang membuat perjuangan beliau berhasil. Pada kesempatan kali ini, beliau menjelaskan bahwa dalam empat bulan ke depan, peserta akan mempelajari kesuksesan dalam Al-Quran melalui empat puluh ayat yang menguraikan faktor-faktor keberhasilan manusia.

Faktor pertama yang dibahas adalah keimanan kepada yang ghaib, meliputi keimanan kepada Allah swt, Hari Kiamat, alam Barzakh, dan hal-hal yang tidak dapat dilihat dengan mata. Syaikh Mohammad Sharifani mengutip ayat Al-Quran sebagai dalil:

Dzâlikal-kitâbu lâ raiba fîh, hudal lil-muttaqîn
(Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa) – Al-Baqarah, Ayat 2.

Alladzîna yu’minûna bil-ghaibi wa yuqîmûnash-shalâta wa mimmâ razaqnâhum yunfiqûn
(Orang-orang yang beriman pada yang ghaib, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka) – Al-Baqarah, Ayat 3.

Walladzîna yu’minûna bimâ unzila ilaika wa mâ unzila ming qablik, wa bil-âkhirati hum yûqinûn
(Dan mereka yang beriman pada Al-Qur’an yang diturunkan kepadamu (Nabi Muhammad) dan kitab-kitab suci yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat) – Al-Baqarah, Ayat 4.

Wa lâ taziru wâziratuw wizra ukhrâ, wa in tad‘u mutsqalatun ilâ ḫimlihâ lâ yuḫmal min-hu syai’uw walau kâna dzâ qurbâ, innamâ tundzirulladzîna yakhsyauna rabbahum bil-ghaibi wa aqâmush-shalâh, wa man tazakkâ fa innamâ yatazakkâ linafsih, wa ilallâhil-mashîr
(Orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Jika seseorang yang dibebani dosa berat memanggil orang lain untuk memikul bebannya, itu tidak akan dipikulkan sedikit pun meskipun yang dipanggilnya adalah kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat diberi peringatan hanyalah orang-orang yang takut kepada Tuhannya (sekalipun tidak melihat-Nya) dan mereka yang menegakkan salat. Siapa yang menyucikan dirinya, sesungguhnya menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Hanya kepada Allah tempat kembali) – Fathir, Ayat 18.

Beliau menekankan bahwa proses pensucian jiwa mensyaratkan iman kepada kegaiban dan kesadaran akan tanggung jawab terhadap perintah Allah swt. Contoh lain terkait keimanan kepada yang ghaib terdapat dalam Al-Ma’idah:

Yâ ayyuhalladzîna âmanû layabluwannakumullâhu bisyai’im minash-shaidi tanâluhû aidîkum wa rimâḫukum liya‘lamallâhu may yakhâfuhû bil-ghaîb, fa mani‘tadâ ba‘da dzâlika fa lahû ‘adzâbun alîm
(Wahai orang-orang yang beriman, sungguh Allah pasti akan mengujimu dengan sesuatu dari hewan buruan yang mudah didapat oleh tangan dan tombakmu agar Allah mengetahui siapa yang takut kepada-Nya, meskipun Dia gaib. Siapa yang melanggar batas setelah itu, baginya azab yang pedih) – Al-Ma’idah, Ayat 94.

Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menampilkan bukti keberadaan alam ghaib melalui beberapa peperangan yang dialami Rasulullah saw, termasuk Perang Badar, Perang Ahzab, dan Perang Uhud, di mana kemenangan kaum Muslimin selalu datang dengan pertolongan Allah swt, baik melalui kekuatan yang tidak terlihat maupun bala bantuan malaikat. Beliau juga menyebut kisah Nabi Yusuf AS yang mimpinya terjadi empat puluh tahun kemudian, serta riwayat Perang Tabuk ketika Rasulullah saw kehilangan untanya dan Allah swt mengutus Malaikat Jibril untuk menunjukkannya.

Dalam khutbah kedua, Syaikh Mohammad Sharifani membahas teladan keluarga ideal melalui Sayyidah Fatimah az-Zahra SA. Beliau menjelaskan empat kategori keluarga yang disebutkan dalam Al-Quran, mulai dari pasangan yang menjadi penghuni neraka, keluarga yang salah satu pihaknya kafir, hingga keluarga ideal yang suami dan istrinya menjadi penghuni surga, contohnya keluarga Imam Ali AS dan Sayyidah Fatimah az-Zahra SA.

Tabbat yadâ abî lahabiw wa tabb, wamra’atuh, ḫammâlatal-ḫathab
(Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia. Begitu pula istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah)) – Al-Lahab.

Dlaraballâhu matsalal lilladzîna kafurumra’ata nûḫiw wamra’ata lûth, kânatâ taḫta ‘abdaini min ‘ibâdinâ shâliḫaini fa khânatâhumâ fa lam yughniyâ ‘an-humâ minallâhi syai’aw wa qîladkhulan-nâra ma‘ad-dâkhilîn
(Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang kufur, yaitu istri Nuh dan istri Luth. Keduanya berada di bawah tanggung jawab dua orang hamba saleh di antara hamba-hamba Kami, lalu keduanya berkhianat kepada suami mereka. Keduanya tidak dapat dibantu sedikit pun dari siksa Allah, dan dikatakan kepada keduanya: “Masuklah kalian ke neraka bersama orang-orang yang masuk neraka”) – At-Tahrim, Ayat 10.

Wa dlaraballâhu matsalal lilladzîna âmanumra’ata fir‘aûn, idz qâlat rabbibni lî ‘indaka baitan fil-jannati wa najjinî min fir‘auna wa ‘amalihî wa najjinî minal-qaumidh-dhâlimîn
(Allah juga membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, yaitu istri Fir‘aun, ketika dia berkata: “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah di surga, selamatkanlah aku dari Fir‘aun dan perbuatannya, serta selamatkanlah aku dari kaum yang zalim”) – At-Tahrim, Ayat 11.

Beliau menekankan bahwa teladan keluarga Imam Ali AS dan Sayyidah Fatimah az-Zahra SA dapat menjadi acuan membangun rumah tangga yang harmonis dan masyarakat yang baik. Syaikh Mohammad Sharifani juga mengingatkan peserta tentang peristiwa bencana alam di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang menewaskan sekitar seribu orang dan berdampak pada tiga juta lainnya. Beliau menekankan pentingnya menghormati peraturan, menjaga lingkungan hidup, dan menerapkan semangat gotong royong, baik melalui bantuan langsung maupun doa, untuk meringankan beban korban.

Leave a Reply