Skip to main content

Bagi seorang muslim, Al-Qur’an bukan sekadar bacaan suci, melainkan sumber kehidupan spiritual yang mampu menggerakkan hati, memperbaiki perilaku, dan mengantarkan seseorang menuju kedekatan dengan Allah. Sebagian ulama menyebut Al-Qur’an sebagai Kitab Hayyun—kitab yang hidup. Namun, pertanyaannya adalah bagaimana agar manusia benar-benar dapat merasakan hidupnya Al-Qur’an.

Untuk mencapai pengalaman rohani tersebut, dua syarat utama perlu dipenuhi. Pertama, seorang muslim harus meyakini bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang hidup, yang selalu memberikan petunjuk baru bagi siapa pun yang mendekatinya. Kedua, ia perlu menyiapkan prasyarat teoretis dan praktis untuk memperdalam hubungan tersebut. Sebab, siapa pun yang mampu menyelami samudra pengetahuan Ilahi pasti akan menemukan permata makrifat yang terus berganti-ganti.

Ayatullah Bahjat pernah menafsirkan ayat, “Dan orang-orang yang berjihad mencari (keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami”, sebagai bukti bahwa petunjuk Allah bersifat bertingkat-tingkat. Setiap upaya seorang hamba akan membuka pintu baru menuju bimbingan Ilahi. Dengan kata lain, Al-Qur’an bukan kitab yang “diam”, melainkan hidup dan menuntun pembacanya setahap demi setahap.

Karena itu, membaca Al-Qur’an bukanlah aktivitas sekadar membaca teks. Ia adalah proses ijtihad ruhani, latihan spiritual yang menuntut peningkatan berkelanjutan. Sebagaimana salat yang setiap hari harus ditingkatkan kualitas khusyuk dan kehadiran hatinya, demikian pula interaksi kita dengan Al-Qur’an harus terus berkembang.

Jika seseorang salat setiap hari tetapi tidak meraih makna baru, maka ia hanya mengulang rutinitas tanpa ruh. Prinsip yang sama berlaku dalam membaca Al-Qur’an: setiap kali membuka mushaf, seharusnya ada pengetahuan, perasaan, atau ilham baru yang masuk ke dalam diri.

Agar Al-Qur’an memberi petunjuk baru, seseorang harus membacanya dengan renungan (tadabbur). Setiap ayat memiliki lapisan makna yang tidak akan terbuka kecuali bagi orang yang membacanya dengan sepenuh hati. Instruksi Ilahi lanahdiyannahum subulana (QS. al-‘Ankabut [29]: 69) menegaskan bahwa hidayah ada di dalam Al-Qur’an dan sunah, bukan di luar keduanya. Namun, hidayah itu baru terbuka jika tilawah disertai perenungan. Inilah yang membedakan pembacaan ritual dengan pembacaan yang “hidup”.

Menghafal Al-Qur’an (hifzh) adalah kedudukan mulia, tetapi bukan tanpa tanggung jawab. Rasulullah saw. bersabda bahwa penghafal Al-Qur’an adalah manusia paling beruntung karena mereka tetap memiliki kekhusyukan, baik dalam kesendirian maupun keramaian. Namun, beliau juga mengingatkan adanya penghafal yang kelak celaka karena tidak mengamalkannya (Mīzān al-Ḥikmah, jil. 9, hlm. 344, hadis no. 16652).

Ayatullah Bahjat menukil kisah Timur Lenk yang hafal Al-Qur’an, bahkan mampu membacanya dari akhir ke awal, tetapi kehidupannya penuh kezaliman. Kisah ini menjadi peringatan bahwa hafalan tanpa pengamalan tidak hanya sia-sia, tetapi dapat menjerumuskan seseorang. Penghafal Al-Qur’an harus menjadikan hafalannya sebagai cahaya, bukan sekadar kemampuan teknis. Karena itu, seorang hafiz dituntut menjaga perilaku, memperkuat etika, dan mempraktikkan nilai-nilai yang ia hafal. Menghafal Al-Qur’an berarti memikul amanah besar.

Membaca Al-Qur’an dengan hati yang hadir merupakan bentuk tertinggi dari zikir. Bahkan, beberapa riwayat menyebutkan bahwa membaca Al-Qur’an lebih utama daripada zikir biasa karena ia menyatukan zikir dan ilmu sekaligus. Selain itu, seorang penghafal harus mengulang hafalannya secara rutin. Hafalan ibarat hewan liar: jika tidak dijaga, ia akan lepas.

Karena itu, Ayatullah Bahjat menekankan pentingnya pembagian waktu yang seimbang. Menurut beliau, membaca satu juz per hari sudah cukup bagi kebanyakan penghafal—tidak kurang agar tidak lupa dan tidak berlebihan agar tidak menimbulkan kelelahan. Namun, beliau juga mengakui adanya tokoh besar seperti Agha Mirza Mahdi Syirazi yang mampu mengkhatamkan Al-Qur’an dalam satu malam, terutama pada malam-malam panjang Ramadan. Artinya, kapasitas setiap orang berbeda, tetapi prinsip utamanya sama: hafalan harus dijaga dan dirawat.

Salah satu prasyarat merasakan “hidupnya” Al-Qur’an adalah menghadirkan hati saat membaca dan merenungkannya. Al-Qur’an sendiri memerintahkannya dalam banyak ayat, di antaranya, “Agar mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan agar orang-orang berakal mengambil pelajaran” (QS. Ṣād [38]: 29) dan “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang beriman untuk tunduk hati mereka dalam mengingat Allah?” (QS. al-Ḥadīd [57]: 16).

Ayatullah Bahjat membawakan kisah seorang dari Tabriz yang diberi dua kenikmatan oleh Allah: taufik untuk menangis saat mengingat tragedi Karbala dan kemampuan membaca Al-Qur’an tanpa kemalasan. Menurut beliau, kemampuan membaca Al-Qur’an dengan hati yang hadir adalah anugerah besar yang tidak diberikan kepada semua orang. Karena itu, membaca Al-Qur’an tanpa menghadirkan hati merupakan bentuk pengabaian terhadap karunia Ilahi. Allah telah memudahkan Al-Qur’an untuk dijadikan pelajaran (QS. al-Qamar [54]: 17); maka membaca tanpa kesungguhan adalah sebuah kehilangan besar.

Membaca Al-Qur’an yang hidup berarti berinteraksi dengannya layaknya sahabat dekat: dialog yang saling mengisi, bukan sekadar membunyikan huruf.

Al-Qur’an memiliki peranan besar dalam memakmurkan dan menyempurnakan manusia. Ayatullah Bahjat menyebut bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang dapat “melahirkan nabi”, dalam arti membentuk pribadi yang mencapai kesempurnaan spiritual layaknya para nabi, meskipun bukan nabi yang diutus. Menurut beliau, manusia yang benar-benar mengamalkan Al-Qur’an akan mencapai derajat kesempurnaan sedemikian rupa sehingga benda-benda mati pun dapat menjadi “gurunya”. Sebaliknya, jika hati tertutup, bahkan kata-kata Rasulullah saw. pun tidak akan memberi pengaruh, sebagaimana yang terjadi pada Abu Jahal.

Hal ini menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar kitab bacaan, melainkan sarana transformasi. Interaksi yang benar dengannya akan menumbuhkan cahaya batin, memperluas wawasan, dan memperhalus akhlak seseorang.

Merasakan hidupnya Al-Qur’an adalah pengalaman spiritual yang dapat dicapai siapa saja. Caranya bukan dengan teori rumit, melainkan melalui keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang hidup, membacanya dengan tadabbur dan kehadiran hati, menghafalnya dan mengamalkan ajarannya, menjaga konsistensi interaksi harian, serta memperlakukan Al-Qur’an sebagai sahabat ruhani. Ketika hubungan dengan Al-Qur’an dibangun secara berkesinambungan, seseorang akan selalu memperoleh pengetahuan baru, kejernihan batin, dan kekuatan spiritual yang menghidupkan seluruh aspek kehidupan. Al-Qur’an tidak sekadar dibaca, tetapi menyertai, membimbing, dan memakmurkan jiwa. (ram, disadur dari Mata Air Kearifan: Biografi Spiritual Ayatullah Bahjat)

Leave a Reply