Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta berpartisipasi dalam forum ilmiah internasional yang diselenggarakan oleh Universitas Sains Islam Maroneng (USIMAR) Kolaka pada Selasa, 17 Desember 2025, dengan mengangkat tema “Sistem Pendidikan dan Ketahanan Nasional: Studi Pengalaman Iran dalam Menghadapi Tekanan Global.” Forum ilmiah berskala internasional ini menghadirkan Direktur ICC Jakarta, Syaikh Mohammad Sharifani, sebagai narasumber utama, dengan seluruh pemaparan beliau disampaikan melalui penerjemahan langsung oleh Akmal Kamil, Ketua Departemen Riset ICC.
Selain Syaikh Mohammad Sharifani, kegiatan ini juga menghadirkan Amri Jamaluddin, Bupati Kolaka, dan Suhrah, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) USIMAR Kolaka, sebagai pembicara. Dalam rangkaian acara tersebut dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) kerja sama antara ICC Jakarta dan USIMAR Kolaka yang mencakup pengembangan pendidikan, penelitian, dan pertukaran keilmuan. Pada kesempatan itu, Syaikh Mohammad Sharifani mendorong terwujudnya pertukaran kunjungan akademik antara universitas-universitas di Republik Islam Iran dan USIMAR Kolaka sebagai langkah konkret dalam memperkuat jejaring ilmiah internasional.
Dalam sesi pemaparannya, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa ketahanan Republik Islam Iran dalam menghadapi tekanan global tidak dapat dilepaskan dari fondasi nilai keagamaan yang tertanam melalui sistem pendidikan dan kesadaran sosial masyarakatnya. Beliau menyampaikan bahwa pengalaman Iran dapat dirangkum dalam tiga pelajaran utama yang saling berkaitan dan membentuk ketahanan nasional secara menyeluruh.
Pertama, beliau menekankan bahwa masyarakat Iran menjadikan Islam sebagai pedoman hidup kolektif, bukan semata identitas personal. Nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah menjadi rujukan dalam membangun sikap sosial, politik, dan kebangsaan. Dalam Al-Qur’an, Rasulullah SAW diperintahkan untuk bersikap tegas dan melakukan perlawanan terhadap kezaliman. Dari sepuluh tugas utama yang Allah SWT perintahkan kepada Rasulullah SAW, salah satunya adalah kewajiban melakukan resistensi terhadap penindasan, yang dijalankan Rasulullah SAW sepanjang hidup beliau dengan penuh pengorbanan.
Beliau mengutip firman Allah SWT:
Wa allawistaqāmū ‘alath-tharīqati la-asqaināhum mā’an ghadaqā
“Dan bahwasanya jika mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), niscaya Kami akan mencurahkan kepada mereka air yang banyak (rezeki yang melimpah).”
(QS. Al-Jinn: 16)
Beliau juga mengutip firman Allah SWT:
Innal-ladzīna qālū rabbunallāhu tsumma-staqāmū tatanazzalu ‘alaihimul-malā’ikatu allā takhāfū wa lā taḥzanū wa absyirū bil-jannatillatī kuntum tū‘adūn
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah, maka para malaikat akan turun kepada mereka seraya berkata, ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih; dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.’”
(QS. Fushshilat: 30)
Menurut beliau, ayat-ayat tersebut membentuk spirit utama masyarakat Iran untuk tidak tunduk pada tekanan, intimidasi, maupun ketidakadilan, serta menanamkan keyakinan bahwa istiqamah di jalan kebenaran memiliki konsekuensi ilahiah berupa pertolongan dan keberkahan.
Kedua, beliau menjelaskan bahwa pengalaman Revolusi Islam Iran yang berlangsung lebih dari empat dekade menjadi pilar penting ketahanan nasional. Revolusi tersebut dipimpin oleh Imam Khomeini dan dilanjutkan oleh Imam Ali Khamenei, yang berhasil membawa Republik Islam Iran bertahan di tengah embargo ekonomi, tekanan politik, serta upaya pengucilan internasional. Kedua pemimpin ini tidak hanya berperan sebagai kepala negara, tetapi juga menjadi figur inspirator perlawanan yang membentuk kesadaran kolektif masyarakat untuk mandiri dan tidak bergantung pada kekuatan asing. Selama lebih dari 40 tahun, model perlawanan ini berhasil menjaga konsistensi cita-cita revolusi dan kedaulatan nasional Iran.
Ketiga, beliau menyoroti pengalaman tempur Iran dalam Perang Pembelaan Suci, yaitu perang delapan tahun akibat invasi Irak yang melibatkan dukungan luas dari berbagai kekuatan internasional terhadap pihak lawan. Meski menghadapi kepungan militer, ekonomi, dan politik, Iran mampu bertahan. Pengalaman ini memberikan pelajaran strategis dan psikologis yang sangat berharga bagi bangsa Iran, terutama dalam membangun kesiapan, ketangguhan mental, dan solidaritas nasional dalam menghadapi ancaman eksternal.
Beliau kemudian menjelaskan bahwa pengalaman historis tersebut menjadi modal penting ketika Iran menghadapi perang dua belas hari yang terjadi beberapa waktu lalu. Dalam konteks ini, beliau menegaskan bahwa meskipun serangan tersebut menewaskan sejumlah jenderal Iran, negara tersebut tidak larut dalam suasana berkabung. Sebaliknya, Iran segera melakukan konsolidasi dan memberikan respons yang menunjukkan kemampuan teknologi dan pertahanan yang maju. Respons tersebut menarik perhatian dunia internasional dan memperlihatkan bahwa pengalaman panjang menghadapi tekanan dan konflik telah membentuk ketahanan strategis Iran.
Menutup pemaparannya, Syaikh Mohammad Sharifani mengutip pesan Imam Ali AS dalam Nahj al-Balaghah yang menekankan pentingnya istiqamah dan kerja berkelanjutan dalam mencapai tujuan. Beliau menjelaskan bahwa pengulangan pesan tentang istiqamah dalam khutbah dan nasihat Imam Ali AS menunjukkan urgensi keteguhan dalam menghadapi rintangan. Dengan istiqamah dan kesungguhan, suatu bangsa akan mampu merealisasikan cita-cita bersama dan mempertahankan kedaulatannya di tengah tekanan global.



