Skip to main content

Di zaman yang serba terhubung, banyak hati justru merasa sendirian. Pesan datang tanpa henti, linimasa bergerak cepat, suara berseliweran di mana-mana—namun tetap ada ruang sunyi yang tak terisi. Dalam sunyi itulah, sebagian orang mulai menuliskan isi hatinya pada layar: bukan kepada sahabat, bukan pula dalam buku harian, melainkan kepada mesin.

Mereka tidak sedang mencari jawaban besar. Tidak juga sedang berdebat soal kebenaran. Mereka hanya ingin satu hal yang sangat sederhana, namun semakin langka: didengar.

Fenomena ini bukan tanda manusia kehilangan iman. Sering kali justru sebaliknya—ia muncul dari hati yang lelah, rapuh, dan terlalu sering merasa tidak aman ketika berbicara kepada sesama. Mesin terasa tenang. Tidak memotong cerita. Tidak menyela. Tidak menilai. Ia selalu tersedia, kapan pun dibutuhkan.

Namun dari sini, sebuah pertanyaan muncul pelan-pelan: mengapa manusia merasa lebih aman berbicara kepada algoritma daripada kepada manusia lain?

Islam tidak memusuhi sunyi. Dalam banyak kisah kenabian, sunyi justru menjadi ruang perjumpaan dengan Tuhan. Tetapi sunyi yang kita alami hari ini sering kali bukan sunyi yang dipilih, melainkan kesepian yang tak disengaja.

Banyak orang hidup di tengah keramaian, namun tidak merasa ditemani. Didengar suaranya, tetapi tidak dihadirkan hatinya. Maka ketika teknologi menawarkan ruang “aman” yang bebas penghakiman, sebagian hati pun singgah di sana.

Padahal, dalam pandangan Islam, manusia diciptakan sebagai makhluk relasional. Kita tidak hanya hidup untuk diri sendiri, tetapi saling menjadi penopang.

Allah mengingatkan:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa.”
(QS. al-Ma’idah: 2)

Tolong-menolong tidak selalu berarti memberi solusi. Kadang, ia cukup berupa kesediaan mendengar tanpa menghakimi.

Salah satu krisis terbesar zaman ini bukan kurangnya ilmu, melainkan menipisnya adab mendengar. Banyak orang cepat menasihati, tetapi jarang menemani. Cepat memberi label, tetapi lambat memahami.

Padahal, mendengar adalah bagian dari akhlak yang luhur. Allah sendiri memperkenalkan diri-Nya sebagai As-Samī‘, Yang Maha Mendengar. Mendengar, dalam hal ini, bukan perkara teknis, melainkan sikap batin. Ia menuntut kerendahan hati, kesabaran, dan kehadiran penuh. Dan mungkin karena itulah, ia terasa berat di dunia yang serba cepat.

Kecerdasan buatan dan algoritma media sosial dirancang untuk merespons emosi manusia dengan rapi. Ia memilih kata yang menenangkan, menyusun kalimat yang terasa empatik, dan memberi ilusi kehadiran. Namun tetap saja, mesin tidak memiliki hati. Ia tidak mencintai. Ia tidak ikut menanggung beban. Ia tidak mendoakan kita di dalam diam.

Al-Qur’an mengingatkan bahwa ketenteraman hati tidak lahir dari sekadar respons, melainkan dari keterhubungan yang lebih dalam:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. ar-Ra‘d: 28)

Mesin mungkin bisa menenangkan pikiran, tetapi ketenteraman jiwa tidak pernah lahir dari sesuatu yang tidak memiliki ruh.

Setiap manusia membawa luka. Islam tidak menafikan hal ini. Bahkan, Al-Qur’an menyebut bahwa hidup memang dipenuhi ujian. Namun luka tidak selalu membutuhkan solusi cepat. Ia sering kali hanya membutuhkan ruang aman untuk diakui keberadaannya.

Masalahnya, ketika ruang itu tidak ditemukan di tengah manusia, luka mencari wadah lain. Dan mesin pun menjadi tempat singgah darurat.

Tulisan ini tidak hendak membahas penderitaan secara mendalam—itu akan menjadi perenungan tersendiri. Namun cukup disadari satu hal: luka yang hanya ditenangkan, tanpa diarahkan, berisiko kehilangan maknanya.

Mungkin yang paling dibutuhkan hari ini bukan tambahan ceramah, melainkan tambahan kehadiran. Dakwah yang paling halus bukan yang paling lantang, melainkan yang paling membuat orang merasa aman untuk jujur.

Dalam tradisi Islam, menjaga lisan dipandang sebagai bagian penting dari keselamatan batin. Imam Ja‘far ash-Shadiq a.s. bersabda, “Keselamatan manusia terletak pada menjaga lisannya.”
(Al-Kāfī, jilid 2, Kitab al-Iman wa al-Kufr, bab Hifz al-Lisan.)

Diam di sini bukan ketiadaan makna, melainkan ruang akhlak—tempat seseorang belajar mendengar sebelum berbicara. Diam dalam hadis ini bukan sikap pasif, melainkan ruang adab: ruang untuk mendengar, memahami, dan tidak tergesa-gesa menghakimi.

Jika akhlak mendengar ini hidup kembali, mungkin manusia tidak perlu terlalu jauh mencari “pendengar” di luar kemanusiaannya sendiri.

Teknologi bukan musuh. Ia hanyalah alat. Yang menjadi persoalan adalah ketika alat itu menggantikan fungsi hati, relasi, dan kehadiran manusia.

Tulisan ini bukan ajakan untuk menjauhi mesin, melainkan ajakan untuk tidak menyerahkan kebutuhan terdalam jiwa kepada sesuatu yang tidak mampu mencintai.

Karena pada akhirnya, setiap hati akan mencari tempat bersandar. Dan Islam mengajarkan bahwa sandaran itu bukan sekadar tempat yang tenang, tetapi tempat yang menghidupkan.

Semoga kita kembali belajar satu akhlak yang sederhana, tetapi menyembuhkan:
mendengar dengan hati, sebelum sibuk menjawab.

(Oleh: Qonyta, Lc.)

Leave a Reply