Pada kegiatan Kelas Tafsir Tartibi yang diselenggarakan oleh Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta pada Jumat, 26 Desember 2025, Syaikh Mohammad Sharifani kembali melanjutkan rangkaian pembahasan mendalam mengenai surah al-Baqarah. Dalam kesempatan tersebut, beliau mengajak para hadirin untuk menyelami lebih jauh makna di balik penamaan surah ini, yang merujuk pada peristiwa sapi betina milik Bani Israil. Syaikh Mohammad Sharifani mengawali penjelasannya dengan menguraikan asbabun nuzul atau latar belakang turunnya ayat-ayat tersebut, yakni sebuah peristiwa pembunuhan yang melibatkan dua kabilah Bani Israil. Beliau menceritakan bahwa ketika terjadi pembunuhan terhadap seseorang dari salah satu kabilah, jasadnya diletakkan di wilayah kabilah lain guna memicu fitnah, sementara tidak ada seorang pun yang mengetahui siapa pembunuh sebenarnya di tengah ketegangan tersebut.
Dalam penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan bahwa Allah swt kemudian memerintahkan Nabi Musa as untuk memberikan solusi melalui sebuah perintah yang tampak tidak lazim bagi logika kaumnya, sebagaimana termaktub dalam firman-Nya:
wa idz qâla mûsâ liqaumihî innallâha ya’murukum an tadzbaḫû baqarah, qâlû a tattakhidzunâ huzuwâ, qâla a‘ûdzu billâhi an akûna minal-jâhilîn “(Ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, ‘Allah memerintahkan kamu agar menyembelih seekor sapi.’ Mereka bertanya, ‘Apakah engkau akan menjadikan kami sebagai ejekan?’ Dia menjawab, ‘Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang jahil.’” (QS. al-Baqarah [2]: 67)
Syaikh Mohammad Sharifani memaparkan bahwa Bani Israil yang memiliki watak keras kepala justru menganggap perintah tersebut sebagai sebuah lelucon dan mengejek Nabi Musa as. Beliau menekankan bahwa perintah ini sesungguhnya bertujuan untuk mengungkap serta menghancurkan sisa-sisa pemujaan mereka terhadap sapi, sehingga Allah swt ingin menghilangkan segala bentuk penghambaan selain kepada-Nya. Meskipun Allah swt berkuasa untuk langsung membangkitkan jasad tersebut demi menghentikan perselisihan, ujian berupa menyembelih sapi dipilih untuk menguji ketaatan mereka. Namun, beliau menyoroti sifat sombong Bani Israil yang cenderung mengejek perintah Tuhan dan selalu menuntut dalil seketika sebagai bentuk pembangkangan. Bukannya segera taat, mereka justru mulai mencari alasan dengan mengajukan serangkaian pertanyaan teknis:
qâlud‘u lanâ rabbaka yubayyil lanâ mây hiy, qâla innahû yaqûlu innahâ baqaratul lâ fâridluw wa lâ bikr, ‘awânum baina dzâlik, faf‘alû mâ tu’marûn “Mereka berkata, ‘Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami tentang (sapi) itu.’ Dia (Musa) menjawab, ‘Dia (Allah) berfirman bahwa sapi itu tidak tua dan tidak muda, (tetapi) pertengahan antara itu. Maka, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.’” (QS. al-Baqarah [2]: 68)
Melalui ayat tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani memberikan catatan akhlak yang sangat penting. Beliau menunjukkan bagaimana para nabi selalu bertutur kata dengan akhlak mulia, sementara kaum pembangkang seringkali menggunakan diksi yang tidak beradab, seperti kalimat qâlud‘u lanâ rabbaka yang berarti “Mohonkanlah kepada Tuhanmu” yang mengesankan seolah-olah Allah swt bukanlah Tuhan mereka juga. Beliau kemudian menganalisis secara mendalam penyebab kesombongan Bani Israil yang kerap mengejek kebenaran. Penyebab pertama adalah kekayaan yang membuat seseorang mudah mencela, sebagaimana diingatkan dalam Al-Qur’an:
wailul likulli humazatil lumazah “Celakalah setiap pengumpat lagi pencela.” (QS. al-Humazah [104]: 1) alladzî jama‘a mâlaw wa ‘addadah “yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya.” (QS. al-Humazah [104]: 2)
Faktor kedua yang beliau sebutkan adalah rasa memiliki ilmu yang membuat seseorang merasa lebih tahu dari orang lain, dan yang ketiga adalah kekuasaan, sebagaimana perilaku Firaun yang meremehkan kaum di luar golongannya. Syaikh Mohammad Sharifani melanjutkan narasinya tentang bagaimana Bani Israil terus-menerus bertanya mengenai warna sapi tersebut meskipun telah diberi peringatan oleh Nabi Musa as:
qâlud‘u lanâ rabbaka yubayyil lanâ mâ launuhâ, qâla innahû yaqûlu innâha baqaratun shafrâ’u fâqi‘ul launuhâ tasurrun-nâdhirîn “Mereka berkata, ‘Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami apa warnanya.’ Dia (Musa) menjawab, ‘Dia (Allah) berfirman bahwa (sapi) itu adalah sapi yang warnanya kuning tua, yang menyenangkan orang-orang yang memandang(-nya).’” (QS. al-Baqarah [2]: 69)
Setelah itu, mereka masih berdalih bahwa kriteria sapi tersebut belum cukup jelas:
qâlud‘u lanâ rabbaka yubayyil lanâ mâ hiya innal-baqara tasyâbaha ‘alainâ, wa innâ in syâ’allâhu lamuhtadûn “Mereka berkata, ‘Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami tentang (sapi) itu. (Karena) sesungguhnya sapi itu belum jelas bagi kami, dan jika Allah menghendakinya, niscaya kami mendapat petunjuk.’” (QS. al-Baqarah [2]: 70)
Nabi Musa as akhirnya memberikan kriteria yang sangat spesifik dan sangat sulit ditemukan:
qâla innahû yaqûlu innahâ baqaratul lâ dzalûlun tutsîrul-ardla wa lâ tasqil-ḫarts, musallamatul lâ syiyata fîhâ, qâlul-âna ji’ta bil-ḫaqqi fa dzabaḫûhâ wa mâ kâdû yaf‘alûn “Dia (Musa) menjawab, ‘Dia (Allah) berfirman bahwa (sapi) itu adalah sapi yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak (pula) untuk mengairi tanaman, sehat, dan tanpa belang.’ Mereka berkata, ‘Sekarang barulah engkau menerangkan (hal) yang sebenarnya.’ Lalu, mereka menyembelihnya, dan hampir saja mereka tidak melaksanakan (perintah) itu.” (QS. al-Baqarah [2]: 71)
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa kalimat wa mâ kâdû yaf‘alûn yang berarti “dan hampir saja mereka tidak melaksanakan (perintah) itu” mencerminkan keengganan batin mereka. Sapi dengan kriteria tersebut menjadi sangat langka dan mahal harganya, yang merupakan konsekuensi dari tindakan mereka sendiri yang mempersulit urusan. Beliau kemudian menyingkap rahasia di balik perintah ini:
wa idz qataltum nafsan faddâra‘tum fîhâ, wallâhu mukhrijum mâ kuntum taktumûn “(Ingatlah) ketika kamu membunuh seseorang lalu kamu saling tuduh tentang itu. Akan tetapi, Allah menyingkapkan apa yang selalu kamu sembunyikan.” (QS. al-Baqarah [2]: 72)
Beliau merangkum beberapa tujuan utama Allah swt: pertama, menghindarkan peperangan dan perselisihan; kedua, menunjukkan adanya hari akhir; ketiga, menunjukkan kekuasaan-Nya melalui perantara nabi; dan keempat, membuka rahasia orang jahat. Cara penyingkapan tersebut dilakukan dengan instruksi unik:
fa qulnadlribûhu biba‘dlihâ, kadzâlika yuḫyillâhul-mautâ wa yurîkum âyâtihî la‘allakum ta‘qilûn “Lalu, Kami berfirman, ‘Pukullah (mayat) itu dengan bagian dari (sapi) itu!’ Demikianlah Allah menghidupkan (orang) yang telah mati, dan Dia memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan-Nya) agar kamu mengerti.” (QS. al-Baqarah [2]: 73)
Menutup kajian tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa penyebab utama manusia mencari-cari alasan dalam ketaatan adalah karena hati yang telah mengeras akibat dosa. Beliau membacakan peringatan keras dari Allah swt:
tsumma qasat qulûbukum mim ba‘di dzâlika fa hiya kal-ḫijârati au asyaddu qaswah, wa inna minal-ḫijârati lamâ yatafajjaru min-hul-an-hâr, wa inna min-hâ lamâ yasysyaqqaqu fa yakhruju min-hul-mâ’, wa inna min-hâ lamâ yahbithu min khasy-yatillâh, wa mallâhu bighâfilin ‘ammâ ta‘malûn “Setelah itu, hatimu menjadi keras sehingga ia (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras. Padahal, dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang (airnya) memancar. Ada pula yang terbelah, lalu keluarlah mata air darinya, dan ada lagi yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Allah tidaklah lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Baqarah [2]: 74)
Syaikh Mohammad Sharifani mengakhiri dengan menekankan bahwa karakter Bani Israil yang keras kepala bahkan berani mengubah firman Allah swt meskipun mereka memahaminya, sebuah peringatan agar para mukmin tidak mengikuti jejak mereka dalam berinteraksi dengan wahyu. Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya di ayat berikutnya:
a fa tathma‘ûna ay yu’minû lakum wa qad kâna farîqum min-hum yasma‘ûna kalâmallâhi tsumma yuḫarrifûnahû mim ba‘di mâ ‘aqalûhu wa hum ya‘lamûn “Maka, apakah kamu sangat mengharapkan mereka agar percaya kepadamu, sedangkan segolongan mereka mendengar firman Allah lalu mereka mengubahnya setelah memahaminya, padahal mereka mengetahui(-nya)?” (QS. al-Baqarah [2]: 75)



