Skip to main content

ICC Jakarta kembali menyelenggarakan kegiatan salat Jumat berjamaah pada 26 Desember 2025. Bertindak sebagai khatib adalah Direktur ICC Jakarta, Syaikh Mohammad Sharifani, dengan didampingi oleh Ustaz Hafidh Alkaf selaku penerjemah. Dalam khutbahnya, beliau melanjutkan pembahasan mendalam mengenai faktor-faktor kesuksesan dan kebahagiaan manusia yang digali dari 40 ayat Al-Qur’an. Setelah pada pekan sebelumnya mengulas faktor keimanan pada hal ghaib, dalam kesempatan kali ini beliau menjelaskan faktor kedua, yakni pentingnya menjadikan Rasulullah SAW dan Ahlulbait AS sebagai panutan serta berlepas diri dari musuh-musuh Allah SWT dan Rasul-Nya.
Beliau menyampaikan bahwa menghargai Rasulullah SAW dan kebenaran adalah dengan menjadikan Ahlulbait AS sebagai orang-orang yang diikuti. Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT dalam Surah Asy-Syura ayat 23: dzâlikalladzî yubasysyirullâhu ‘ibâdahulladzîna âmanû wa ‘amilush-shâliḫât, qul lâ as’alukum ‘alaihi ajran illal-mawaddata fil-qurbâ, wa may yaqtarif ḫasanatan nazid lahû fîhâ ḫusnâ, innallâha ghafûrun syakûr. Artinya: “Itulah (karunia) yang (dengannya) Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh. Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Aku tidak meminta kepadamu suatu upah pun atas seruanku ini kecuali kecintaan kepada keluargaku.’ Siapa mengerjakan kebaikan, akan Kami tambahkan kebaikan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” Beliau menegaskan bahwa ayat ini menunjukkan penekanan Al-Qur’an untuk menjadikan Ahlulbait AS sebagai sosok yang diikuti.

Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa keimanan yang sejati menuntut seseorang untuk tidak berkasih sayang dengan penentang Allah SWT dan Rasul-Nya, sebagaimana termaktub dalam Al-Mujadilah ayat 22: lâ tajidu qaumay yu’minûna billâhi wal-yaumil-âkhiri yuwâddûna man ḫâddallâha wa rasûlahû walau kânû âbâ’ahum au abnâ’ahum au ikhwânahum au ‘asyîratahum, ulâ’ika kataba fî qulûbihimul-îmâna wa ayyadahum birûḫim min-h, wa yudkhiluhum jannâtin tajrî min taḫtihal-an-hâru khâlidîna fîhâ, radliyallâhu ‘an-hum wa radlû ‘an-h, ulâ’ika ḫizbullâh, alâ inna ḫizballâhi humul-mufliḫûn. Artinya: “Engkau (Nabi Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhir saling berkasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya sekalipun mereka itu bapaknya, anaknya, saudaranya, atau kerabatnya. Mereka itulah orang-orang yang telah Allah tetapkan keimanan di dalam hatinya dan menguatkan mereka dengan pertolongan dari-Nya. Dia akan memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Merekalah golongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah orang-orang yang beruntung.”

Beliau juga memaparkan teladan dari Nabi Ibrahim AS dalam berlepas diri dari kekufuran merujuk pada Al-Mumtahanah ayat 4: qad kânat lakum uswatun ḫasanatun fî ibrâhîma walladzîna ma‘ah, idz qâlû liqaumihim innâ bura’â’u mingkum wa mimmâ ta‘budûna min dûnillâhi kafarnâ bikum wa badâ bainanâ wa bainakumul-‘adâwatu wal-baghdlâ’u abadan ḫattâ tu’minû billâhi waḫdahû illâ qaula ibrâhîma li’abîhi la’astaghfiranna laka wa mâ amliku laka minallâhi min syaî’, rabbanâ ‘alaika tawakkalnâ wa ilaika anabnâ wa ilaikal-mashîr. Artinya: “Sungguh, benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu pada (diri) Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya ketika mereka berkata kepada kaumnya, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah. Kami mengingkari (kekufuran)-mu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.’ Akan tetapi, (janganlah engkau teladani) perkataan Ibrahim kepada ayahnya, ‘Sungguh, aku akan memohonkan ampunan bagimu, tetapi aku sama sekali tidak dapat menolak (siksaan) Allah terhadapmu.’ (Ibrahim berkata,) ‘Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkau kami bertawakal, hanya kepada Engkau kami bertobat, dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.’”

Syaikh Mohammad Sharifani menguraikan bahwa sejarah mencatat dua kelompok besar sejak masa Nabi Adam AS, Nabi Nuh AS, Nabi Ibrahim AS yang melawan Namrud, Nabi Musa AS yang melawan Namrud, hingga perjuangan Rasulullah SAW melawan Abu Sufyan dan Imam Husain AS melawan Yazid. Kelompok ini disebut sebagai Hizbullah. Beliau mengisahkan riwayat saat Allah SWT bertanya kepada Nabi Musa AS mengenai amalan yang dilakukan khusus untuk-Nya. Nabi Musa AS menjawab bahwa ia telah salat, berpuasa, dan berdzikir. Namun Allah SWT menjelaskan bahwa salat adalah kebutuhan Musa, puasa adalah benteng baginya, dan dzikir adalah cahaya baginya. Amalan yang benar-benar untuk Allah SWT adalah mencintai orang karena Allah SWT dan memusuhi orang karena orang itu memusuhi Allah SWT. Di situ Nabi Musa AS menyadari bahwa sebaik-baik amalan adalah mencintai dan membenci karena Allah SWT.

Prinsip ini dicontohkan secara nyata oleh sahabat Hanzhalah “Ghasil al-Malaikah”. Sebelum Perang Uhud, Hanzhalah baru saja menikah dan belum sempat mandi wajib namun langsung berangkat jihad hingga syahid dan dimandikan oleh malaikat. Hanzhalah menunjukkan keteguhan iman dengan meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk membunuh ayahnya sendiri, Abu Amir, yang berada di kubu musuh. Selain itu, terdapat kisah Abdullah bin Ubay yang memilih jalan kemunafikan di Madinah. Putra Abdullah bin Ubay, yang telah beriman, mendatangi Rasulullah SAW meminta izin untuk membunuh ayahnya yang telah mencaci Nabi, namun dilarang. Saat Abdullah bin Ubay meninggal, Allah SWT menurunkan Surah At-Taubah ayat 84: wa lâ tushalli ‘alâ aḫadim min-hum mâta abadaw wa lâ taqum ‘alâ qabrih, innahum kafarû billâhi wa rasûlihî wa mâtû wa hum fâsiqûn. Artinya: “Janganlah engkau (Nabi Muhammad) melaksanakan salat untuk seseorang yang mati di antara mereka (orang-orang munafik) selama-lamanya dan janganlah engkau berdiri (berdoa) di atas kuburnya. Sesungguhnya mereka ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.” Rasulullah SAW kemudian tidak mensalati jenazah tersebut dan sang anak menerima hal itu dengan senang hati sebagai bentuk berlepas diri dari musuh Allah SWT.

Memasuki khutbah kedua, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan bahwa pada Jumat depan akan dibahas tugas yang berkaitan dengan kecintaan kepada Ahlulbait AS. Beliau menekankan pentingnya memanfaatkan kesempatan waktu dan tempat, seperti salat Jumat yang membukakan pintu spiritual dan pertemuan sesama mukminin yang memberi manfaat maknawi tinggi. Mengingat saat ini telah memasuki bulan Rajab, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan tiga tahap pembersihan diri: bulan Rajab untuk mengosongkan diri dari perbuatan buruk melalui istighfar, bulan Sya’ban untuk menghiasi diri dengan amal saleh dan salawat kepada Rasulullah SAW beserta keluarganya, serta bulan Ramadhan untuk mendekatkan diri pada lembah maknawiyah dan nur Ilahi.

Syaikh Mohammad Sharifani juga mengingatkan bahwa semalam adalah malam Jumat pertama bulan Rajab yang penuh ampunan. Beliau mengajak jamaah untuk menyemarakkan program itikaf di ICC Jakarta pada 13-15 Rajab mendatang sebagai sarana membuka pintu kebaikan. Dengan mengutip sebuah syair Persia, beliau menyebutkan lima hal yang dapat membukakan pintu kebahagiaan di dunia dan dapat dilaksanakan saat itikaf, yaitu diam, rasa lapar, bangun di waktu sahar, menjauhkan diri dari manusia, dan berdzikir. Syiar agama ini diharapkan dapat menerangi kehidupan umat secara individual maupun sosial.

Leave a Reply