Skip to main content

ICC Jakarta menyelenggarakan kegiatan salat Jumat pada 2 Januari 2026 dengan Syaikh Mohammad Sharifani sebagai khatib dan Ustaz Zaki Amami sebagai penerjemah. Dalam khutbahnya, Syaikh Mohammad Sharifani melanjutkan rangkaian pembahasan mengenai kunci kebahagiaan dan kesuksesan hidup berdasarkan Al-Qur’an melalui sekitar 20 ayat yang menekankan pentingnya ketakwaan. Setelah sebelumnya membahas iman kepada yang ghaib dan mahabbah, beliau kini menjelaskan bahwa berwilayah kepada Ahlulbait AS serta berlepas diri dari musuh-musuh mereka merupakan jalan untuk hidup sukses dan bahagia di dunia.

Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan empat poin penting untuk meningkatkan kecintaan kepada keluarga suci Rasulullah SAW. Poin pertama adalah mengenal mereka, mengetahui karakter mereka, siapa musuh mereka, serta karakter musuh-musuh tersebut. Beliau mengutip khutbah Imam Sajjad AS di masjid Syam yang menegaskan enam anugerah Allah SWT kepada Ahlulbait AS: ilmu yang luas mencakup zahir dan ghaib serta segala rahasia dunia; kelembutan dalam berperilaku bahkan kepada musuh; kedermawanan harta di jalan Allah tanpa meminta balasan; kemampuan menjelaskan ilmu yang mudah diterima semua kalangan; kecintaan khusus bagi para pengikut; serta balasan kehinaan bagi mereka yang iri dan memusuhi.

Poin kedua menurut beliau adalah mengikuti amal perbuatan para Maksumin AS. Syaikh Mohammad Sharifani mengutip firman Allah SWT dalam Surah Ali ‘Imran ayat 31: qul ing kuntum tuḫibbûnallâha fattabi‘ûnî yuḫbibkumullâhu wa yaghfir lakum dzunûbakum, wallâhu ghafûrur raḫîm. Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Beliau menyampaikan bahwa menjauhi fitnah, berbohong, dan bergunjing adalah cara menguatkan cinta kepada Ahlulbait AS. Beliau mencontohkan ketaatan Salman Al-Farisi saat diperintahkan Imam Ali AS untuk beribadah semalam suntuk dengan rukuk di satu malam dan qunut di malam lainnya, yang dilakukan dengan ikhlas sempurna hingga mencapai maqam mulia.

Poin ketiga adalah fokus pada pahala dan balasan kebaikan dari mencintai Ahlulbait AS. Syaikh Mohammad Sharifani mengutip hadis Imam Ali AS yang menyatakan bahwa beruntunglah orang yang mengenal kelebihan Ahlulbait AS dan musuh-musuh mereka, karena kecintaan yang ikhlas akan membantu manusia melewati sirath serta memberikan ketenangan hidup di dunia dan akhirat. Poin keempat adalah dengan mendalami kisah sahabat pilihan, seperti kisah Adi bin Hatim ath-Tha’i, putra dari dermawan Hatim ath-Tha’i. Beliau menceritakan keteguhan Adi di hadapan Muawiyah; saat Muawiyah menyindir bahwa Ali telah berlaku tidak adil karena Adi kehilangan ketiga anaknya yang syahid sementara Ali hidup nyaman, Adi menjawab bahwa justru dirinyalah yang belum adil karena Imam Ali AS telah meneguk cawan syahadah sementara ia sendiri masih hidup.

Pada khutbah kedua, Syaikh Mohammad Sharifani mengingatkan jamaah mengenai keagungan kelahiran Imam Ali AS yang jatuh pada esok hari. Beliau memaparkan mukjizat saat dinding Ka’bah terbelah untuk Fatimah binti Asad, yang kemudian tinggal di dalamnya selama tiga hari hingga melahirkan bayi tersuci di alam semesta. Beliau juga mengulas keutamaan Imam Ali AS sebagai satu-satunya manusia yang lahir di Ka’bah dan syahid di mihrab tempat sujud, serta warisan Nahjul Balaghah yang maknanya tidak tertandingi oleh ahli bahasa mana pun.

Menutup ceramahnya, Syaikh Mohammad Sharifani mengajak jamaah ICC Jakarta untuk berpartisipasi dalam berbagai program bulan Rajab, termasuk perayaan wiladah Imam Ali AS, seminar internasional Nahjul Balaghah, dan kegiatan itikaf yang dimulai Sabtu jam tiga pagi hingga hari Senin. Beliau berpesan agar mereka yang bekerja tetap mengupayakan hadir di sela kesibukan untuk berdoa dan melakukan amalan sunnah. Beliau berharap budaya itikaf semakin meluas di kalangan pecinta Ahlulbait AS di Indonesia sebagai sarana meningkatkan iman dan dijauhkan dari marabahaya.

Leave a Reply