Skip to main content

Pada Kamis, 1 Januari 2026, Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta menyelenggarakan Kelas Tafsir Maudhu’i yang diisi oleh Syaikh Mohammad Sharifani. Dalam kajian kali ini, beliau mengupas secara mendalam mengenai tema bisharah atau kabar gembira berdasarkan penjelasan Al-Qur’an. Beliau mengawali tausiyahnya dengan memaparkan metode dakwah para Nabi saat menyampaikan pesan-pesan Ilahi yang terbagi menjadi dua cara utama, yakni memberikan kabar gembira kepada orang-orang beriman dan memberikan peringatan bagi mereka yang enggan beriman. Hal ini selaras dengan firman Allah swt dalam surah al-An’am ayat 48 yang menegaskan bahwa para rasul diutus sebagai mubasysyirin (pemberi kabar gembira) dan mundzirin (pemberi peringatan), sehingga siapa pun yang beriman dan mengadakan perbaikan tidak akan dirundung rasa takut maupun kesedihan.

Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa tujuan Allah swt mengutus Rasulullah saw dengan membawa dua misi tersebut adalah sebagai penyempurna hujjah agar manusia tidak lagi memiliki alasan di hari kiamat kelak. Penegasan ini juga ditemukan dalam surah al-Fath ayat 8 yang menyebutkan posisi Nabi Muhammad saw sebagai saksi, pembawa berita gembira, serta pemberi peringatan. Beliau menambahkan bahwa jika diteliti lebih jauh, separuh dari ayat suci Al-Qur’an berkaitan dengan kabar gembira yang disampaikan Allah swt melalui perantara Malaikat Jibril kepada jiwa Rasulullah saw. Al-Qur’an hadir sebagai pembenar kitab-kitab sebelumnya, petunjuk bagi manusia, serta janji kebahagiaan bagi mereka yang memenuhi syarat iman dan takwa. Kemenangan besar ini merupakan janji Allah swt yang mutlak dan tidak akan mengalami perubahan.

Terkait kedalaman makna kabar gembira tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani merujuk pada beberapa riwayat suci. Beliau mengutip hadis Imam Ali as yang menerangkan betapa luasnya apa yang ada di sisi Allah swt, yang mencakup keterbukaan pintu tobat, kasih sayang yang melimpah, kabar gembira bagi hamba-Nya, serta sifat Allah swt yang Maha Lembut. Selanjutnya, beliau membawakan doa yang sering dipanjatkan oleh Imam Ja’far ash-Shadiq as saat membaca Al-Qur’an. Dalam doanya, Imam Shadiq as memohon perlindungan dari hati yang tidak memiliki Al-Qur’an di dalamnya serta dari sikap berpaling dari kitab suci tersebut. Beliau juga memohon agar Allah swt memberikan manfaat dari ayat-ayatnya dan menjadikan Al-Qur’an sebagai kabar gembira yang menemani setiap insan setelah kematian.

Pembahasan beralih pada kekhususan pengetahuan Imam Ali as yang sering beliau sampaikan sebagai bentuk kabar gembira bagi umat yang mengikutinya. Syaikh Mohammad Sharifani merinci bahwa Imam Ali as dianugerahi enam kekhususan luar biasa atas izin Allah swt, yaitu penguasaan terhadap banyak sekali pengetahuan yang dimiliki manusia, pengetahuan tentang musibah-musibah yang terjadi di alam semesta, ilmu mengenai nasab, serta kemampuan luar biasa dalam memberikan solusi dan keputusan atas berbagai masalah masyarakat. Selain itu, beliau juga memiliki pengetahuan tentang masa lalu yang tiada tersembunyi baginya serta pengetahuan tentang masa depan. Dengan modal pengetahuan tersebut, Imam Ali as menegaskan tugasnya untuk memberikan keselamatan bagi mereka yang mengikuti perintah Allah swt dan memenuhi hak-hak mereka.

Sebagai penutup kajian, Syaikh Mohammad Sharifani mengutip hadis Imam Ja’far ash-Shadiq as yang memuat perkataan Allah swt kepada Nabi Muhammad saw. Dalam pesan tersebut ditekankan bahwa peringatan tidak akan memberikan pengaruh bagi orang-orang yang tetap tidak mau beriman kepada Allah swt dan kepada wilayah Imam Ali as. Sebaliknya, bagi orang-orang yang mengikuti kepemimpinan Ali, memiliki rasa takut dan percaya kepada Allah swt, memercayai hari kiamat, serta meyakini wilayah Imam Ali as, maka Allah swt memerintahkan Rasul-Nya untuk memberikan kabar gembira berupa ampunan serta pahala yang sangat luas bagi mereka.

Leave a Reply