Penyelenggaraan Peringatan Bi’tsah Rasulullah Muhammad saw di Pesantren Darut Taqrib Jepara pada Sabtu, 17 Januari 2026, menghadirkan Direktur ICC Jakarta Syaikh Mohammad Sharifani sebagai penceramah utama. Silaturahmi beliau ke Jepara tersebut didampingi oleh Ketua Departemen Tabligh dan Kebudayaan ICC Ustaz Umar Shahab. Dalam sambutannya, Syaikh Mohammad Sharifani mengawali dengan ucapan selamat serta ungkapan kebahagiaan atas Hari Mabats ini di hadapan para mukminin, mukminat, serta para pecinta keluarga Rasulullah saw. Beliau menjelaskan bahwa dalam setiap lini kehidupan, manusia senantiasa memerlukan seseorang yang ahli di bidangnya sebagai sosok teladan agar segala urusan dapat berjalan dengan baik melalui perencanaan dan pengelolaan yang matang. Beliau mengibaratkan kebutuhan ini seperti pentingnya koki ahli dalam sebuah jamuan agar hidangan menjadi lezat dan kegiatan lancar, atau seorang insinyur yang mengerti teknis bangunan agar konstruksi yang dihasilkan sesuai dengan situasi dan tempat yang ada.
Dalam penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan bahwa Al-Qur’an merupakan kitab nilai yang menuntun manusia mengelola kehidupan dan sukses menghadapi berbagai problematika. Oleh karena itu, Al-Qur’an menghadirkan sosok-sosok yang layak diteladani. Beliau menyebutkan bahwa ada kalanya Al-Qur’an menunjuk langsung sosok teladan tersebut seperti Nabi Muhammad saw, namun ada pula yang ditunjukkan secara tidak langsung melalui kisah-kisah inspiratif, seperti Sayyidah Asiyah istri Firaun yang teguh beriman, Nabi Zakaria as yang doanya mustajab, hingga Sayyidah Maryam sebagai sosok yang sangat menjaga harga dirinya. Meskipun demikian, beliau menegaskan bahwa Nabi Muhammad saw diperkenalkan oleh Al-Qur’an sebagai sosok panutan utama bagi umat manusia pada semua aspek yang berlaku sampai hari kiamat, sebagaimana firman Allah swt:
laqad kâna lakum fî rasûlillâhi uswatun ḫasanatul limang kâna yarjullâha wal-yaumal-âkhira wa dzakarallâha katsîrâ “Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21)
Syaikh Mohammad Sharifani mengulas dari sisi kaidah kebahasaan bahwa pengulangan dua kata jar yaitu “lakum” dan “fî rasûlillâhi” dalam ayat tersebut bermakna bahwa uswatun hasanah itu hanya ada pada diri Rasulullah saw, sepanjang zaman, dan bagi semua orang. Beliau menjelaskan bahwa penggunaan frasa “fî rasûlillâhi” merujuk pada keteladanan yang ada di dalam diri Nabi saw dalam semua aspek, baik bicara soal kesabaran, akhlak, maupun dalam segala hal. Beliau juga menyebutkan kitab Sunan An-Nabi karya Allamah Thabathabai yang merangkum ucapan, perkataan, dan sunnah nabi sebagai rujukan bagi kita untuk mengikuti jejak beliau sebagaimana wasiat Amirul Mukminin as untuk mengikuti sunnah nabi. Keistimewaan Nabi Muhammad saw semakin dipertegas dengan adanya perintah khusus dari Allah swt untuk menaati beliau secara mutlak dalam semua hal, sebagaimana firman-Nya:
athî‘ullâha wa athî‘ur-rasûla “Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nabi Muhammad).” (QS. An-Nisa’ [4]: 59)
Syaikh Mohammad Sharifani menambahkan bahwa meskipun Allah swt memerintahkan manusia menaati ulil amri, kedudukan ulil amri tersebut berkaitan erat dengan Nabi saw sebagai penerus risalah beliau. Menutup ceramahnya, beliau memberikan nasihat khusus bagi para santri yang sedang menuntut ilmu agar menjadi pelajar hauzah yang sukses melalui empat hal utama. Pertama, santri harus senantiasa terhubung dengan Allah swt melalui salat awal waktu, zikir, membaca Al-Qur’an, serta membaca doa Kumayl dan doa ziarah. Kedua, santri harus tekun belajar dan membahas ilmu secara mendalam, karena dari setiap baris ayat Al-Qur’an yang dipelajari terdapat berbagai tema penting; bahkan dalam satu baris bisa ditemukan sampai sepuluh materi pengetahuan.
Nasihat ketiga yang disampaikan Syaikh Mohammad Sharifani adalah mengenai pentingnya akhlak mulia, mengingat santri adalah calon ulama yang akan menjadi figur teladan bagi kaum muslimin. Beliau mengingatkan bahwa perbuatan tercela seorang ulama dapat merusak tatanan masyarakat, sehingga sejak muda para santri harus melatih diri dengan akhlak mulia dengan mencontoh keberhasilan dakwah Rasulullah saw yang sukses karena kemuliaan akhlaknya. Hal ini sebagaimana pujian Allah swt di dalam Al-Qur’an:
wa innaka la‘alâ khuluqin ‘adhîm “Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam [68]: 4)
Adapun poin keempat yang beliau tekankan adalah keharusan bagi seorang ulama di zaman sekarang untuk memiliki berbagai keahlian tambahan, mulai dari yang terkait dengan teknologi hingga keahlian praktis sehari-hari seperti menyetir dan memasak. Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa berbagai keahlian ini sangat bermanfaat supaya seorang ulama memiliki kemandirian dan tidak bergantung pada orang lain dalam menjalankan tugas dakwahnya.



