Skip to main content

ICC Jakarta menyelenggarakan ibadah salat Jumat pada 6 Februari 2026 dengan menghadirkan Syaikh Mohammad Sharifani sebagai penceramah dan Ustaz Hafidh Alkaf sebagai penerjemah. Dalam khutbahnya, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa pada minggu-minggu yang lalu beliau telah membahas mengenai keberhasilan dan kunci-kunci untuk memperolehnya di dalam Al-Qur’an, di mana sudah ada 6 atau 7 faktor yang telah dibahas. Pada kesempatan khutbah kali ini, beliau menyampaikan satu faktor lagi yang terdapat dalam Surah Al-A’raf ayat 69 yang berbunyi: fadzkurû âlâ’allâhi la‘allakum tufliḫûn, yang artinya: “Maka, ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” Beliau menekankan bahwa Allah SWT memerintahkan kita untuk mengingat nikmat-Nya setidaknya 9 kali di dalam Al-Qur’an.

Syaikh Mohammad Sharifani menguraikan hikmah daripada mengingat Allah SWT menurut pesan Imam Ali AS kepada Kumayl, “Wahai Kumayl ketahuilah engkau tidak pernah lepas dari nikmat Allah SWT. Karena itu jangan kosongkan waktumu dari mengingat Allah SWT, bertasbih kepada Allah SWT, memuji Allah SWT, dan mengagungkan Allah SWT.” Dari sini, beliau melihat adanya hubungan erat antara mengagungkan Allah SWT dengan mengingat nikmat-nikmat yang telah Allah SWT berberikan. Beliau juga menyebutkan bahwa umumnya manusia adalah hamba-hamba yang tidak tahu berterima kasih dan malah menuntut kepada Allah SWT. Mengingat nikmat-nikmat Allah SWT akan membuat kita menyadari kekurangan kita dalam bersyukur, sebagaimana disinggung oleh Imam Jafar Shadiq AS dalam sabda beliau.

Beliau juga menjelaskan bahwa mengingat Allah SWT termasuk ibadah, yang mana ibadah tersebut berhubungan dengan keadaan manusia. Banyak riwayat-riwayat menyebutkan bahwa belajar merupakan ibadah, serta menatap wajah ulama dan orang tua kita adalah ibadah. Imam Jafar Shadiq AS mengatakan bahwa mengingat nikmat Allah SWT merupakan ibadah, dan jika tidak mengingat nikmat Allah SWT adalah salah satu bentuk kekufuran. Syaikh Mohammad Sharifani kemudian merinci faktor-faktor yang membuat orang tidak bersyukur, di mana yang pertama adalah kelalaian sebagai musuh yang paling besar bagi umat manusia, sesuai Surah Al-Isra’ ayat 83: wa idzâ an‘amnâ ‘alal-insâni a‘radla wa na’â bijânibih, wa idzâ massahusy-syarru kâna ya’ûsâ, yang artinya: “Apabila Kami menganugerahkan kenikmatan kepada manusia, niscaya dia berpaling dan menjauhkan diri (dari Allah dengan sombong). Namun, apabila dia ditimpa kesusahan, niscaya dia berputus asa.”

Faktor kedua menurut beliau adalah kesombongan. Beliau menyebutkan bahwa dalam wujud manusia ada Qarun dan Firaun, namun banyak yang tidak memiliki kesempatan untuk menunjukkan sifat tersebut. Ketika orang memiliki kesombongan seperti Qarun, maka ia mengatakan bahwa ia mendapatkan semua kekayaannya dari kecerdasannya sendiri. Faktor ketiga adalah melupakan jati dirinya yang merupakan makhluk fakir dan tidak bisa berdiri sendiri, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Fathir ayat 15: yâ ayyuhan-nâsu antumul-fuqarâ’u ilallâh, wallâhu huwal-ghaniyyul-ḫamîd, artinya: “Wahai manusia, kamulah yang memerlukan Allah. Hanya Allah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.” Beliau mengutip Imam Husain AS yang menyatakan, “Aku adalah hambamu yang fakir. Aku adalah yang fakir di saat aku kaya, bagaimana aku tidak fakir di saat aku fakir.” Menurut para ahli irfan, ketika orang menyadari kefakiran dirinya maka ia sudah satu tingkat menapaki makrifat.

Pada khutbah kedua, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan sambutan atas ulang tahun kemenangan revolusi islam di Iran, serta peringatan kembalinya Imam Khomeini setelah menjalani pengasingan selama 14 tahun. Beliau menyebut peristiwa ini sebagai lembaran sejarah yang baru dan bisa diibaratkan sebagai pancaran cahaya. Bagi beliau, ketika kita berkiblat kepada Allah SWT, batas teritorial tidak bisa memisahkan satu bangsa dengan bangsa lain. Revolusi Islam di Iran memiliki pengaruh yang sedemikian besar di berbagai belahan dunia termasuk di Indonesia. Di saat dunia dipenuhi kezaliman, Imam Khomeini bangkit menyuarakan penentangan atasnya, sehingga wajib bagi kita sebagai kafilah penentang kezaliman memperingati kemenangan revolusi ini. Apalagi tahun ini diperingati di saat Iran berada dalam himpitan kesulitan yang hebat dan konfrontasi langsung terhadap sistem arogansi dunia yang dimotori Amerika Serikat dan Zionis.

Beliau menginfokan bahwa Jumat depan ICC akan mengadakan acara peringatan kemenangan revolusi islam iran dan mengharapkan para penentang kezaliman memberikan dukungan kepada Iran dalam menghadapi sistem arogansi global serta dukungan terhadap kepemimpinan Imam Khomeini dan penerusnya Imam Ali Khamenei. Poin kedua, beliau melaporkan bahwa dalam 10 bulan bertugas, beliau telah membuat perencanaan untuk menciptakan pemandangan yang baik di ICC, mulai dari mengecat tembok hingga pembenahan fasilitas agar ICC terlihat lebih indah. Tujuannya supaya setiap orang merasakan kegembiraan dan keceriaan di rumah kedua ini. Beliau mengajak jamaah saling membantu menjaga aset, ketertiban, dan kebersihan ICC, serta ikut melayani para hadirin bersama-sama karena para pecinta Ahlulbait adalah orang-orang saleh yang harus dihormati.

Menutup khutbahnya, beliau menceritakan tentang Ayatullah Sayyid Muhammad Taqi Musawi Isfahani yang dikenal sebagai mujtahid di usia muda dan penulis buku mengenai Imam Mahdi AFS. Beliau mengisahkan mimpi Ayatullah Musawi bertemu Imam Mahdi AFS yang memintanya menulis buku lengkap dengan judul Mikyalul Makarim. Meski sempat tertunda, beliau akhirnya menyelesaikan buku tersebut sebagai wujud nazar setelah sembuh dari wabah saat di Mekkah. Syaikh Mohammad Sharifani juga menceritakan putra Ayatullah Musawi yang terlilit hutang dan bertawasul di Masjid Jamkaran. Beliau mengisahkan bagaimana bantuan uang datang melalui Ayatullah Abtahi sebagai hadiah dari Ayatullah Golpaygani. Namun, saat putra beliau datang mengucapkan terima kasih satu bulan kemudian, kedua tokoh tersebut justru mengatakan, “Aku juga tidak pernah memberikan sejumlah uang kepadamu.” Hal ini menunjukkan bahwa tawasul tersebut dikabulkan langsung atas kebesaran Imam Mahdi AFS kepada orang-orang yang bertawasul dengan sungguh-sungguh.