Skip to main content

ICC Jakarta menyelenggarakan ibadah salat Jumat pada 30 Januari 2026 dengan menghadirkan Syaikh Mohammad Sharifani sebagai penceramah dan Ustaz Hafidh Alkaf sebagai penerjemah. Dalam khutbahnya, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa pembicaraan dalam beberapa forum khutbah Jumat ini berkenaan dengan faktor-faktor keberhasilan kita, di mana sudah ada lima faktor yang telah dibahas sampai saat ini. Pada forum khutbah kali ini, beliau secara khusus membahas mengenai mengikuti Rasulullah SAW sebagai salah satu kunci keberhasilan kita.

Beliau mengawali penjelasan dengan mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-A’raf ayat 157: alladzîna yattabi‘ûnar-rasûlan-nabiyyal-ummiyyalladzî yajidûnahû maktûban ‘indahum fit-taurâti wal-injîli ya’muruhum bil-ma‘rûfi wa yan-hâhum ‘anil-mungkari wa yuḫillu lahumuth-thayyibâti wa yuḫarrimu ‘alaihimul-khabâ’itsa wa yadla‘u ‘an-hum ishrahum wal-aghlâlallatî kânat ‘alaihim, falladzîna âmanû bihî wa ‘azzarûhu wa nasharûhu wattaba‘un-nûralladzî unzila ma‘ahû ulâ’ika humul-mufliḫûn. Ayat ini memiliki arti: “(Yaitu,) orang-orang yang mengikuti Rasul (Muhammad), Nabi yang ummi (tidak pandai baca tulis) yang (namanya) mereka temukan tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka. Dia menyuruh mereka pada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, menghalalkan segala yang baik bagi mereka, mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, dan membebaskan beban-beban serta belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya terang yang diturunkan bersamanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang beruntung.”

Syaikh Mohammad Sharifani menekankan bahwa terdapat ketentuan dari Allah SWT bahwa semua orang harus taat kepada Allah SWT dan Rasul. Namun, beliau menggarisbawahi bahwa mengikuti Rasulullah SAW sebagai teladan adalah hal lain, karena terkadang orang menerima beliau namun tidak menjadikan beliau sebagai panutan. Beliau menjelaskan bahwa meski ada ayat-ayat yang menyebutkan semua nabi harus dihormati, namun dalam ayat ini Allah SWT mengkhususkan Rasulullah SAW. Orang-orang yang disebut sukses adalah mereka yang beriman kepada beliau, mengagungkan beliau, siap membela beliau, serta mengikuti kitab suci Al-Qur’an.

Menurut beliau, kita harus mengikuti Rasulullah SAW karena beliau memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Faktor pertama dapat diketahui dari perkataan Imam Ali AS bahwa Allah SWT menyertakan satu malaikat yang paling agung bersama Nabi Muhammad SAW saat beliau masih kanak-kanak untuk selalu menuntun beliau dengan perilaku baik serta membimbingnya siang dan malam. Faktor kedua adalah sabda beliau sendiri bahwa beliau diutus sebagai rahmat bagi seluruh makhluk. Faktor ketiga adalah firman Allah SWT dalam Surah Al-Qalam ayat 4: wa innaka la‘alâ khuluqin ‘adhîm, yang artinya: “Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” Faktor keempat adalah kenyataan bahwa nur Rasulullah SAW adalah makhluk pertama yang diciptakan oleh Allah SWT.

Beliau juga memaparkan kriteria Rasulullah SAW dari perkataan para Imam Maksumin AS. Imam Hasan Al-Askari AS menyebutkan bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang paling zuhud, paling banyak ibadahnya, dermawan, dan pemberani. Imam Baqir AS berkata bahwa siapa saja yang berbicara kepada beliau akan mendapati beliau tersenyum dan selalu mendengarkan apa yang dikatakan. Imam Shadiq AS menyatakan bahwa beliau dididik langsung oleh Allah SWT dengan keindahan-keindahan milik-Nya. Sementara Imam Hasan AS mengatakan bahwa beliau memiliki budi pekerti tinggi, selalu berseri-seri, mudah memaafkan, tidak kaku, rendah hati, dan tidak kasar.

Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menceritakan kisah seorang perempuan Yahudi yang setiap hari meletakkan duri di jalan yang dilalui Rasulullah SAW. Beliau mengetahui hal itu namun tidak mempermasalahkannya. Suatu hari saat duri itu tidak ada, beliau bertanya dan mendapati wanita tersebut sedang sakit, lalu beliau mendatanginya untuk membesuk. Menyaksikan keagungan akhlak tersebut, wanita Yahudi itu menangis dan akhirnya mengucapkan kalimat syahadat di hadapan beliau. Beliau merinci tugas kita terhadap Rasulullah SAW, dimulai dari mengenal beliau karena orang yang tidak kenal nabinya tidak akan mengenal Tuhannya, hingga menghormati beliau dengan benar.

Dalam hal penghormatan, beliau mengutip Surah An-Nur ayat 63: lâ taj‘alû du‘â’ar-rasûli bainakum kadu‘â’i ba‘dlikum ba‘dlâ, qad ya‘lamullâhulladzîna yatasallalûna mingkum liwâdzâ, falyaḫdzarilladzîna yukhâlifûna ‘an amrihî an tushîbahum fitnatun au yushîbahum ‘adzâbun alîm, yang artinya: “Janganlah kamu menjadikan panggilan Rasul (Nabi Muhammad) di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain). Sungguh, Allah mengetahui orang-orang yang keluar (secara) sembunyi-sembunyi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya). Maka, hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih.”

Tugas berikutnya adalah menjadikan beliau teladan sebagaimana Surah Al-Ahzab ayat 21: laqad kâna lakum fî rasûlillâhi uswatun ḫasanatul limang kâna yarjullâha wal-yaumal-âkhira wa dzakarallâha katsîrâ, artinya: “Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” Tugas lainnya adalah taat secara mutlak sesuai Surah An-Nisa’ ayat 80: may yuthi‘ir-rasûla fa qad athâ‘allâh, wa man tawallâ fa mâ arsalnâka ‘alaihim ḫafîdhâ, artinya: “Siapa yang menaati Rasul (Muhammad), maka sungguh telah menaati Allah. Siapa yang berpaling, maka Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad) sebagai pemelihara mereka.” Terakhir adalah memperbarui baiat setiap hari dan selalu mendoakan beliau sesuai Surah Al-Ahzab ayat 56: innallâha wa malâ’ikatahû yushallûna ‘alan-nabiyy, yâ ayyuhalladzîna âmanû shallû ‘alaihi wa sallimû taslîmâ, artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”

Pada khutbah kedua, Syaikh Mohammad Sharifani mendorong jamaah untuk mendoakan Iran yang saat ini berada di garda terdepan melawan arogansi dunia. Beliau menganjurkan pembacaan selawat 100 kali setiap malam selama 40 hari setelah salat Maghrib dan Isya demi menjauhkan segala keburukan dari sana. Poin berikutnya adalah peringatan milad Imam Mahdi AFS pada hari Selasa mendatang. Beliau menyebut Imam Mahdi AFS sebagai sosok yang melaluinya seluruh anugerah Allah turun ke alam wujud. Beliau mengajak semua orang untuk memeriahkan milad ini sebagai bentuk syiar yang mengagungkan beliau dengan mengajak keluarga dan kerabat.

Syaikh Mohammad Sharifani mengutip sebuah surat dari Imam Mahdi AFS yang menyatakan bahwa jika para pengikut beliau hatinya satu dan tidak berselisih dalam memegang perjanjian, maka mereka akan lebih cepat untuk bisa melihat beliau. Pesan ini menekankan pentingnya kedekatan hati antar pengikut yang dimulai dari kehadiran fisik dalam majelis-majelis. Beliau juga menjelaskan bahwa malam Nisfu Sya’ban adalah malam yang agung karena merupakan Lailatul Qadar kecil di mana Allah menentukan ketentuan-ketentuan-Nya. Malam tersebut diisi dengan membaca Doa Kumail untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Beliau menutup dengan harapan agar segala aktivitas yang dilakukan ditujukan untuk memeriahkan milad Imam Mahdi AFS.