Skip to main content

Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta menyelenggarakan peringatan 47 Tahun Kemenangan Revolusi Islam Iran pada Kamis, 12 Februari 2026. Acara ini mengangkat tema “Revolusi Islam Iran dan Tantangan Dunia Kontemporer: Keadilan, Identitas, dan Kedaulatan Bangsa”. Dalam kesempatan tersebut, Mohammad Boroujerdi selaku Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia memberikan pidato yang menyoroti perjalanan panjang serta posisi Iran di kancah global saat ini.

Mohammad Boroujerdi mengawali sambutannya dengan mengajak hadirin untuk bersama-sama merayakan pencapaian Republik Islam Iran yang kini telah genap berusia 47 tahun. Beliau menegaskan bahwa Revolusi Islam Iran merupakan sebuah gerakan yang memberikan harapan besar bagi kaum tertindas di seluruh dunia. Revolusi ini berhasil membebaskan rakyat Iran dari belenggu kediktatoran dalam negeri serta dari hegemoni asing yang selama ini melakukan intervensi terhadap urusan internal Iran.

Dalam perjalanannya selama hampir lima dekade, beliau memaparkan bahwa Republik Islam Iran telah melewati berbagai peristiwa besar, termasuk ribuan tipu daya dan makar yang dilancarkan oleh musuh dengan tujuan mengguncang negara. Namun, beliau menekankan bahwa pada usianya yang ke-47 ini, Iran justru tampil sebagai negara yang lebih kuat dibandingkan masa-masa sebelumnya. Kekuatan ini didukung oleh kepemimpinan Imam Khamenei yang dinilai sangat mahir dalam memimpin dan konsisten mengikuti jejak pendahulunya, Imam Khomeini. Beliau menyebutkan bahwa dukungan rakyat yang sedemikian besar telah mengakar kuat, sehingga musuh tidak akan mampu menggoyahkan kedaulatan negara.

Mengenai upaya musuh yang mencoba membangun kesan bahwa Republik Islam tidak mendapatkan dukungan dari rakyatnya, Mohammad Boroujerdi memberikan bantahan tegas. Beliau menyatakan bahwa siapa saja yang memiliki akses internet dapat melihat melalui berbagai media mengenai fakta yang terjadi pada peringatan 22 Bahman kemarin. Di sana terlihat lautan manusia yang membanjiri jalan-jalan untuk memberikan dukungan nyata kepada sistem Republik Islam serta kepemimpinan Imam Khamenei.

Beliau tidak menampik adanya pandangan bahwa kondisi ekonomi Iran saat ini sedang sulit dan tidak sedang baik-baik saja, ditambah dengan kehadiran kapal-kapal perang Amerika Serikat di perairan Iran serta pergerakan militer musuh di sekitar wilayah tersebut. Namun, beliau menegaskan bahwa Iran pernah mengalami kondisi yang jauh lebih sulit daripada saat ini. Sejak kemenangan revolusi pada tahun 1979, Iran telah teruji melewati berbagai krisis dalam negeri yang sangat berat namun tetap mampu bertahan.

Beliau mengenang masa-masa awal revolusi di mana Iran harus menghadapi tantangan militer yang sangat pelik. Saat itu, Iran hanya memiliki tentara peninggalan rezim Shah yang kondisinya sangat lemah. Kelemahan ini dipicu oleh banyaknya perwira yang melarikan diri ke luar negeri atau dihukum karena melakukan berbagai kejahatan terhadap rakyat selama masa perjuangan menuju revolusi. Di sisi lain, pada waktu itu Pasukan Garda Revolusi (IRGC) juga belum terbentuk. Beliau juga memaparkan bagaimana teror terjadi di mana-mana yang menyebabkan syahidnya tokoh-tokoh kunci negara, mulai dari presiden, perdana menteri, ketua lembaga yudikatif, hingga 72 orang pejabat tinggi Iran lainnya.

Di tengah kondisi yang sangat rentan tersebut, rezim Baath pimpinan Saddam Hussein melakukan upaya aneksasi terhadap Republik Islam Iran. Namun, Iran terbukti mampu mengatasi segala tekanan tersebut. Meskipun harus melewati delapan tahun perang yang dipaksakan, menghadapi embargo ekonomi dari kekuatan-kekuatan adidaya dunia, serta ancaman dan serangan langsung dari Amerika Serikat maupun rezim zionis Israel, Iran tetap mampu berdiri solid. Mohammad Boroujerdi menegaskan bahwa ketangguhan tersebut tidak lepas dari pertolongan Allah swt.

Saat ini, beliau menyampaikan bahwa Iran mewakili dunia Islam dalam perlawanan terhadap arogansi Amerika Serikat dan rezim zionis Israel yang sedang melakukan genosida. Kekuatan Iran saat ini telah menjelma menjadi kekuatan yang diperhitungkan, sehingga Amerika Serikat tidak berani mengambil tindakan yang salah. Iran telah memberikan peringatan tegas bahwa sekecil apa pun kesalahan yang dilakukan oleh musuh, mereka harus siap menanggung akibat yang besar.

Menutup pidatonya, Mohammad Boroujerdi menekankan bahwa Iran hari ini jauh lebih stabil dibandingkan masa lalu. Keberhasilan telah diraih di berbagai lini, termasuk pencapaian luar biasa di bidang sains dan teknologi yang menjadikan Iran sebagai negara yang disegani. Beliau memberikan argumen penutup bahwa jika dahulu saat Iran masih dalam kondisi lemah saja gabungan kekuatan Timur dan Barat tidak berhasil melumpuhkannya, maka mustahil hal itu dapat dilakukan pada saat Iran telah menjadi kuat seperti sekarang. Beliau juga menyatakan keyakinannya bahwa dengan kekuatan ini pula, dunia tidak lama lagi akan menyaksikan musnahnya rezim zionis Israel dari muka bumi.