ICC Jakarta menyelenggarakan ibadah salat Jumat pada 27 Februari 2026 dengan menghadirkan Syaikh Mohammad Sharifani sebagai penceramah dan Ustaz Hafidh Alkaf sebagai penerjemah. Dalam khutbahnya, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa dalam beberapa pertemuan yang lalu, telah dibahas mengenai faktor-faktor keberhasilan, kesuksesan, serta faktor kebahagiaan yang bisa didapatkan manusia. Beliau menekankan bahwa terdapat lebih dari 40 ayat dalam Al-Qur’an yang membahas tentang hal tersebut, yang merinci sekitar 20 faktor penyebab seseorang mencapai keberhasilan dan kesuksesan. Pada hari ini, beliau secara khusus menjelaskan satu lagi kunci utama keberhasilan dan kebahagiaan, yaitu infak.
Hal ini berlandaskan pada firman Allah SWT di awal Surah Al-Baqarah. Setelah Allah SWT berfirman, dzâlikal-kitâbu lâ raiba fîh, hudal lil-muttaqîn (Kitab Al-Qur’an ini tidak ada keraguan di dalamnya; ia merupakan petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa), Allah kemudian menjelaskan siapa orang-orang bertakwa (muttaqin) tersebut melalui ayat ke-3: alladzîna yu’minûna bil-ghaibi wa yuqîmûnash-shalâta wa mimmâ razaqnâhum yunfiqûn—yaitu orang-orang yang beriman pada yang gaib, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Kelanjutan dari rangkaian ayat ini adalah penegasan Allah dalam ayat ke-5: ulâ’ika humul-mufliḫûn, yang artinya: “mereka itulah orang-orang yang beruntung.” Pesan yang bisa ditangkap dari ayat tersebut adalah bahwa ada dua hal utama yang membuat orang bahagia, sukses, dan berhasil: shalat yang mengatur hubungan dengan Allah SWT, serta infak yang mengatur hubungan dengan sesama manusia.
Syaikh Mohammad Sharifani memaparkan beberapa dalil mengenai pentingnya masalah infak. Pertama, ketika Allah SWT berbicara mengenai pentingnya shalat di dalam Al-Qur’an, Dia biasanya menyertakan penjelasan tentang zakat setelahnya, yang merupakan bentuk infak wajib di jalan Allah. Kedua, infak digunakan oleh Allah SWT sebagai peringatan bagi manusia selagi masih memiliki kesempatan hidup. Peringatan ini tercantum dalam Surah Al-Baqarah ayat 254: yâ ayyuhalladzîna âmanû anfiqû mimmâ razaqnâkum ming qabli ay ya’tiya yaumul lâ bai‘un fîhi wa lâ khullatuw wa lâ syafâ‘ah, wal-kâfirûna humudh-dhâlimûn. Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami anugerahkan kepadamu sebelum datang hari (Kiamat) yang tidak ada (lagi) jual beli padanya (hari itu), tidak ada juga persahabatan yang akrab, dan tidak ada pula syafaat. Orang-orang kafir itulah orang-orang zalim.”
Urgensi infak juga terlihat dari kemampuannya menjauhkan orang dari banyak bala dan bencana. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 195, Allah SWT berfirman: wa anfiqû fî sabîlillâhi (Berinfaklah di jalan Allah), yang kemudian diikuti perintah: wa lâ tulqû bi’aidîkum ilat-tahlukati (janganlah jerumuskan dirimu ke dalam kebinasaan). Ayat ini memberikan pemahaman bahwa jika seseorang tidak melakukan infak, dikhawatirkan akan terjadi kehancuran, kesulitan, derita, atau bencana yang menimpa kehidupan materi maupun maknawi. Melalui infak, manusia diperintahkan menjauhkan hal-hal yang dapat menghancurkan dirinya. Hal ini diperkuat dengan sabda Rasulullah SAW bahwa sedekah dapat menjauhkan dari bala, memanjangkan umur, dan menjadikan akhir kehidupan seseorang berakhir dengan baik (husnul khatimah).
Dalam Surah Ali ‘Imran ayat 92, Allah SWT berfirman: lan tanâlul-birra ḫattâ tunfiqû mimmâ tuḫibbûn—Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Beliau menekankan pentingnya memberikan infak terbaik dan berbagi dengan orang lain untuk mencapai tingkatan bir, sebuah kedudukan tinggi dalam perjalanan spiritual. Syaikh Mohammad Sharifani mengingatkan bahwa harta, air muka, kehormatan, serta ilmu adalah amanat dari Allah. Sebagai amanat, maka kewajiban manusia adalah menyampaikannya kepada orang lain, bukan hanya menyimpannya sendiri. Hal ini selaras dengan Surah Al-Hadid ayat 7: âminû billâhi wa rasûlihî wa anfiqû mimmâ ja‘alakum mustakhlafîna fîh—Berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya serta infakkanlah (di jalan Allah) sebagian dari apa yang Dia (titipkan kepadamu dan) telah menjadikanmu berwenang dalam (penggunaan)-nya.
Terkait infak, Allah SWT juga memberikan jaminan penggantian dalam Surah Saba’ ayat 39: wa mâ anfaqtum min syai’in fa huwa yukhlifuh—Suatu apa pun yang kamu infakkan pasti Dia akan menggantinya. Ganti yang diberikan bukan sekadar sama, melainkan berlipat ganda hingga tujuh ratus kali lipat, sebagaimana perumpamaan dalam Surah Al-Baqarah ayat 261: matsalulladzîna yunfiqûna amwâlahum fî sabîlillâhi kamatsali ḫabbatin ambatat sab‘a sanâbila fî kulli sumbulatim mi’atu ḫabbah (Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji). Bahkan, Allah akan melipatgandakan lebih dari itu.
Di bulan suci Ramadan ini, yang merupakan musim mengais keberkahan, Imam Shadiq AS berpesan bahwa untuk mendapatkan keutamaan terbaik, seseorang hendaknya memberi makan orang lapar, memberi pakaian pada yang membutuhkan, serta mengasihi mereka yang berduka. Bagi yang menginginkan derajat keimanan tinggi, Imam Ridha AS menegaskan bahwa tidak beriman orang yang tidur kenyang sementara tetangganya kelaparan. Sedekah satu dirham di dunia bahkan dikatakan mampu memadamkan api di dalam kubur. Selain itu, kunci surga dapat diraih melalui infak, sebagaimana kriteria penghuni surga dalam Surah Ali ‘Imran ayat 133-134, yaitu: alladzîna yunfiqûna fis-sarrâ’i wadl-dlarrâ’i wal-kâdhimînal-ghaidha wal-‘âfîna ‘anin-nâs, wallâhu yuḫibbul-muḫsinîn—orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain.
Pada khutbah kedua, Syaikh Mohammad Sharifani mengulas sejarah Rasulullah SAW yang penuh duka, di mana beliau pernah bersabda bahwa tidak ada nabi yang mendapatkan gangguan melebihi dirinya. Beliau mengalami musibah setiap kali memiliki anak laki-laki, yang semuanya meninggal dunia; mulai dari Qasim, Abdullah, hingga Ibrahim. Di tengah duka mendalam tersebut, Allah SWT menghibur melalui Surah Al-Kautsar ayat 1: innâ a‘thainâkal-kautsar—Sesungguhnya Kami telah memberimu (Nabi Muhammad) nikmat yang banyak. Nikmat tersebut adalah Sayyidah Fatimah yang menjadi jalan bagi keturunan Nabi untuk melanjutkan misi beliau hingga kiamat. Namun, Allah menyertakan dua syarat dalam ayat ke-2: fa shalli lirabbika wan-ḫar—Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Artinya, Nabi diperintahkan menjalin hubungan dengan Allah melalui doa dan menjalin hubungan dengan makhluk melalui santunan serta infak. Jika syarat ini terpenuhi, Allah menjamin dalam ayat ke-3: inna syâni’aka huwal-abtar—Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus (dari rahmat Allah), dan segala makar mereka akan gagal.
Menutup khutbahnya, beliau menyoroti himpitan dan penindasan yang dialami kaum muslimin di dunia saat ini oleh para tiran. Beliau menyebut bangsa Iran sebagai salah satu yang menghadapi kesulitan besar dan berada di front terdepan dalam melawan kaum arogan dunia. Mengingat saat berbuka puasa adalah waktu mustajab, beliau mengajak jamaah untuk memanjatkan doa agar Allah SWT menghilangkan kesulitan dari seluruh kaum muslimin, baik di Iran, Indonesia, maupun di mana saja. Dengan lisan yang sedang berpuasa, beliau memohon kebaikan bagi seluruh umat dan memohon perhatian lebih besar dari Imam Zaman AFS agar kita semua terhindar dari segala keburukan dan kemalangan dalam kehidupan.



