Skip to main content

ICC Jakarta menyelenggarakan ibadah salat Jumat pada 20 Februari 2026 dengan menghadirkan Syaikh Mohammad Sharifani sebagai penceramah dan Ustaz Hafidh Alkaf sebagai penerjemah. Dalam khutbahnya, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa pembahasan dalam beberapa forum khutbah Jumat yang lalu berkenaan dengan faktor kesuksesan, di mana beliau menekankan bahwa salah satu faktor utama yang memberikan keberhasilan adalah mengingat nikmat-nikmat yang Allah SWT berikan. Hal ini berlandaskan pada firman Allah SWT dalam Surah Al-A’raf ayat 69: fadzkurû âlâ’allâhi la‘allakum tufliḫûn, yang artinya: “Maka, ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” Pada kesempatan ini, beliau membahas mengenai macam-macam nikmat tersebut yang setidaknya terbagi menjadi dua kelompok besar.

Syaikh Mohammad Sharifani mengutip firman Allah SWT dalam Surah Luqman ayat 20: a lam tarau annallâha sakhkhara lakum mâ fis-samâwâti wa mâ fil-ardli wa asbagha ‘alaikum ni‘amahû dhâhirataw wa bâthinah, yang artinya: “Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu. Dia (juga) menyempurnakan nikmat-nikmat-Nya yang lahir dan batin untukmu.” Beliau menjelaskan bahwa nikmat lahir adalah kenikmatan duniawi yang kasat mata, namun beliau memberikan catatan bahwa terkadang di balik hal yang tampak sebagai nikmat secara lahir justru tersimpan bencana bagi manusia. Hal ini merujuk pada Surah At-Taghabun ayat 14: yâ ayyuhalladzîna âmanû inna min azwâjikum wa aulâdikum ‘aduwwal lakum faḫdzarûhum, yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu.”

Lebih lanjut, beliau menguraikan jenis nikmat batin yang hakiki. Mengutip riwayat Imam Jafar Shadiq AS, nikmat batin mencakup keimanan kepada Allah SWT, wilayah kepada Ahlulbait AS, dan bagaimana seseorang mengenal Imam. Nikmat batin kedua adalah akal, yang meski tidak terlihat, namun pemiliknya akan memiliki segalanya karena akal mampu menjaga diri dan kekayaannya. Nikmat batin ketiga adalah air mata dan hati yang lembut. Beliau menyebutkan riwayat bahwa tidak ada yang lebih disukai Allah SWT melebihi tetesan air mata, dan jika hati mengeras, maka sedikit air mata yang keluar. Beliau menekankan bahwa bulan Ramadan menjadi musim semi bagi orang yang ingin mendekat kepada Tuhan di waktu sahar dengan menangis karena takut kepada-Nya. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa segala sesuatu ada timbangannya kecuali air mata yang menetes karena takut kepada Allah SWT.

Nikmat batin lainnya yang beliau sebutkan adalah kesehatan, keamanan, dan lupa. Terkait lupa, beliau mengutip riwayat Amirul Mukminin AS bahwa seandainya tidak ada lupa, manusia akan binasa. Sifat lupa memungkinkan seseorang yang kehilangan orang tercinta untuk melupakan musibah seiring waktu dan menjalani hidup dengan normal. Syaikh Mohammad Sharifani juga menjelaskan bahwa bala atau bencana adalah nikmat batin karena di baliknya tersimpan berkah. Riwayat menyebutkan jika Allah SWT mencintai hamba-Nya, maka Ia akan menenggelamkannya dalam bala, sebagaimana para Nabi yang menghadapi bencana dari Allah SWT. Termasuk nikmat batin adalah saat doa tidak segera dikabulkan, karena di balik penundaan itu terdapat nikmat yang ditunjukkan Allah SWT agar manusia tidak menyesal di kemudian hari ketika hajat yang ia paksa justru mendatangkan keburukan.

Salah satu nikmat batin yang paling utama adalah hati yang bisa menerima ketentuan Allah SWT. Beliau menceritakan kisah Nabi Daud AS yang bertanya kepada Allah SWT mengenai siapa temannya di surga. Melalui wahyu, Allah SWT memerintahkan beliau melihat seorang orang tua yang membawa kayu bakar di pintu kota. Saat Nabi Daud AS bertanya tentang pekerjaannya, orang tua itu menjawab bahwa ia mengumpulkan ranting untuk dijual. Nabi Daud AS kemudian bertanya apakah ia memiliki ibadah khusus seperti salat atau puasa yang banyak, namun ia menjawab ibadahnya biasa saja sebagaimana orang lain. Saat ditanya mengapa Allah SWT memuliakannya, orang tua itu menjawab bahwa ia memiliki satu pedoman hidup: “Aku menerima apa yang Allah SWT berikan kepadaku.” Atas dasar keridaan itulah, wahyu turun kepada Nabi Daud AS menyatakan bahwa Allah mengangkat derajatnya menjadi teman Nabi Daud AS di surga.

Pada khutbah kedua, Syaikh Mohammad Sharifani kembali mengingatkan tentang nikmat datangnya bulan Ramadan yang sering disalahpahami sebagai beban, padahal Ramadan adalah bulan terbaik. Beliau menceritakan riwayat ketika seseorang hanya menyebut “datang bulan Ramadan”, Rasulullah SAW bersabda bahwa ia harus membayar kafarah karena ketidaksopanan terhadap bulan ini. Beliau menjelaskan bahwa Ramadan seharusnya disebut dengan gelar mulia seperti bulan rahmah, bulan taubat, atau bulan penuh berkah, sebagaimana kita menyematkan gelar saat memanggil sosok yang dihormati. Beliau juga menegaskan bahwa manusia akan menghendaki sepanjang tahun menjadi Ramadan seandainya mereka mengetahui apa yang ada di dalamnya.

Beliau memaparkan bahwa Ramadan adalah pintu untuk menggapai alam gaib di mana tabir-tabir penutup akan terangkat. Beliau menyebutkan amalan dari para ulama dan urafa, yakni membaca Surah Ad-Dukhan 100 kali atau Surah Al-Qadr 1.000 kali setiap malam Ramadan untuk menyingkap tabir tersebut. Beliau memberikan contoh nyata pada Ayatullah Sayid Abul Qasim Khui yang pada usia 25 tahun mengamalkan hal ini. Di malam 23 Ramadan, beliau menyaksikan penyingkapan seluruh fase hidupnya: menjadi pimpinan hauzah di Najaf, mencetak banyak ulama, menulis buku, hingga mendengar pengumuman wafatnya sendiri di usia 90 tahun dalam keadaan terasing karena kondisi Irak saat itu. Penyingkapan ini terjadi karena kemuliaan bulan Ramadan. Sebagai penutup, beliau mengajak jamaah memanfaatkan program spiritual di ICC seperti tadarus satu juz per hari, salat berjamaah, iftar, doa Abu Hamzah al-Tsumali, doa Iftitah, ceramah, hingga iktikaf di sepuluh hari terakhir agar jiwa tersinari dan berimbas positif pada seluruh lini kehidupan.