Skip to main content

ICC Jakarta menyelenggarakan ibadah salat Jumat pada 6 Maret 2026 dengan menghadirkan Syaikh Mohammad Sharifani sebagai penceramah dan Ustaz Hafidh Alkaf sebagai penerjemah. Mengawali khutbahnya, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan pesan takwa sekaligus ungkapan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada kaum mukminin, khususnya masyarakat Indonesia. Beliau memberikan apresiasi tinggi atas solidaritas luar biasa yang ditunjukkan bangsa Indonesia kepada bangsa Iran atas syahidnya seorang pejuang sejati, ulama besar, dan pembela keadilan dunia, Ayatullah Uzma Imam Khamenei. Ucapan duka cita tersebut beliau tujukan kepada Imam Zaman AS, para ulama, serta seluruh pencinta kebenaran di mana pun berada.

Dalam uraiannya, Syaikh Mohammad Sharifani menekankan betapa sulitnya mengungkapkan sosok Imam Khamenei secara utuh melalui kata-kata. Beliau menjelaskan bahwa diperlukan waktu puluhan tahun bagi lembaga pendidikan hauzah ilmiah untuk dapat mencetak tokoh dengan kapasitas sebesar beliau, yang mampu mengintegrasikan berbagai dimensi keunggulan dalam satu kepribadian. Imam Khamenei bukan hanya seorang fakih yang menguasai ilmu fikih dan Islam secara mendalam di tingkat tinggi, tetapi beliau juga seorang mufasir Al-Qur’an yang produktif. Puluhan buku tafsir yang beliau tulis menjadi bukti kreativitas ilmiah yang sangat jarang ditemukan tandingannya. Selain itu, beliau adalah seorang sastrawan komprehensif yang menguasai sastra Arab dan Persia. Hal ini terbukti dalam Kongres Sastra Hafiz di Iran, di mana materi yang beliau sampaikan diakui oleh para pakar sebagai presentasi yang tiada bandingnya. Kedekatan beliau dengan dunia sastra juga terlihat dari tradisi tahunan beliau mengundang para penyair untuk bertemu, membacakan karya, dan menganalisisnya secara mendalam di bulan Ramadan.

Syaikh Mohammad Sharifani juga menyoroti kecintaan masyarakat Indonesia terhadap Al-Qur’an, yang memiliki kemiripan dengan perhatian besar Imam Khamenei terhadap kitab suci tersebut. Beliau mencatat bahwa Imam Khamenei adalah seorang qari yang memiliki gaya tilawah khas dan tersendiri. Sangat jarang ditemukan seorang ulama yang memiliki kedalaman ilmu fikih dan tafsir, namun di saat yang sama mahir dalam metode bacaan Al-Qur’an secara spesifik. Beliau juga dikenal sebagai orator dan khatib Jumat yang paling unggul di Iran. Kemampuan beliau berbicara tanpa kesalahan sedikit pun, tanpa getaran suara, serta dengan kelancaran dan ketegasan yang luar biasa di atas podium menjadi standar kepiawaian yang sulit disamai oleh khatib lainnya.

Meskipun berada di puncak kekuasaan dengan kesibukan yang luar biasa, Imam Khamenei tetap dikenal sebagai sosok yang memiliki minat baca atau mutalaah yang sangat tinggi. Setiap tahun pada Pameran Buku Internasional di Iran, beliau meluangkan waktu berjam-jam untuk meninjau literatur baru. Wawasan luas yang didapat dari membaca inilah yang membuat beliau selalu mampu memberikan pandangan cerdas dan lantang dalam berbagai forum, mulai dari isu ekonomi, sosial, akademik, hingga masalah perempuan dan anak-anak. Di sisi lain, meski beliau seorang ulama dan sastrawan, beliau memiliki pengetahuan militer yang sangat mendalam sebagai pimpinan tertinggi angkatan bersenjata. Stabilitas Iran yang tetap terjaga meskipun sering kehilangan jenderal-jenderal tinggi akibat serangan musuh disebut sebagai mukjizat yang terjadi berkat bantuan Allah SWT, inayah Imam Mahdi AFS, serta kendali kepemimpinan beliau yang mumpuni dalam menghadapi kondisi kritis sejak awal kemenangan Revolusi Islam.

Pada bagian khutbah kedua, Syaikh Mohammad Sharifani menyinggung sisi karakter pribadi Imam Khamenei yang sangat rendah hati. Meskipun memegang kekuasaan besar, beliau rutin meluangkan waktu setiap minggunya untuk duduk bersama dan menerima masyarakat umum. Beliau juga dikenal sebagai sosok revolusioner yang tidak pernah mengenal rasa takut dan menghindari kalkulasi diplomatik yang rumit saat harus mengambil tindakan tegas bagi kebenaran. Beliau sering menyatakan bahwa dirinya adalah seorang revolusioner, bukan sekadar diplomat. Ketegaran ini beliau buktikan dengan tetap hadir di medan tempur selama perang delapan tahun melawan rezim Ba’ath Irak dan tidak pernah meninggalkan tempat tugasnya atau bersembunyi di bunker meskipun ancaman serangan musuh sedang memuncak, termasuk beberapa hari menjelang kesyahidannya saat beliau masih menghadiri majelis Al-Qur’an.

Kesederhanaan hidup Imam Khamenei menjadi teladan utama bagi setiap pemimpin dunia. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa di tengah pengawasan ketat mata dunia dan jejak digital, tidak ada satu pun orang yang berhasil menemukan noda hitam dalam kehidupan beliau. Beliau menjalani hidup yang sangat bersahaja dan tidak meninggalkan sejengkal tanah pun sebagai warisan pribadi. Gaji atau pendapatan yang beliau terima dari negara seluruhnya diinfakkan di jalan Allah, tanpa ada sedikit pun yang diambil untuk kepentingan keluarga. Sosok beliau disebut sebagai representasi nyata kezuhudan Imam Ali bin Abi Thalib AS di zaman modern. Menutup khutbahnya, Syaikh Mohammad Sharifani mendoakan agar Allah SWT membalas perbuatan kaum zalim yang telah menorehkan duka ini, serta memohon kepada Imam Zaman AS agar memberikan inayah khusus bagi bangsa Iran untuk melanjutkan perjuangan yang telah dirintis, dengan harapan bahwa kesyahidan Imam Khamenei akan menjadi awal bagi sejarah yang lebih cerah bagi umat Islam dan seluruh kemanusiaan.