Skip to main content

Kegiatan Ihya’ Lailatul Qadar Malam ke-23 Ramadhan diselenggarakan di ICC Jakarta pada Kamis, 12 Maret 2026 dengan penceramah Syaikh Mohamamad Sharifani. Dalam ceramahnya, beliau mengajak jamaah untuk menyadari keagungan malam Lailatul Qadar dan mempersiapkan diri untuk bermunajat kepada Allah swt dengan penuh kekhusyukan.

Dalam penjelasannya, Syaikh Mohamamad Sharifani menyampaikan bahwa malam ini merupakan salah satu malam paling istimewa dalam setiap tahunnya. Berdasarkan riwayat-riwayat yang ada, malam ke-23 bulan Ramadan memiliki kemungkinan besar sebagai Lailatul Qadar. Oleh karena itu, beliau mengajak jamaah untuk menggunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya, berbicara kepada Allah swt dengan lebih khusyuk agar menyadari betapa pentingnya malam tersebut.

Beliau menjelaskan bahwa untuk mengetahui keagungan Lailatul Qadar, hal pertama yang perlu diperhatikan adalah penamaannya. Kata “qadr” dalam bahasa Arab memiliki makna keagungan. Allah swt ketika menjelaskan Lailatul Qadar dalam ayat-ayat-Nya tidak memaparkan secara rinci, seakan-akan memberikan pesan bahwa keagungan malam tersebut tidak akan mampu dipahami sepenuhnya oleh manusia. Namun Allah swt tetap memberikan gambaran bahwa malam ini lebih utama dibandingkan dengan seribu bulan, yang berarti lebih dari 83 tahun. Dengan demikian, dalam satu malam seseorang dapat menempuh perjalanan spiritual yang biasanya ditempuh dalam puluhan tahun, bahkan dapat mengubah nasibnya dari keadaan yang layak mendapatkan azab menjadi hamba yang berhak memperoleh ampunan dan surga melalui tobat.

Makna lain dari qadr yang dijelaskan beliau adalah sempit. Dalam bahasa Arab, sesuatu yang diqadarkan juga dapat berarti disempitkan. Malam ini disebut sempit karena para malaikat turun ke bumi dalam jumlah yang sangat banyak hingga seakan-akan bumi menjadi penuh. Tidak ada malam lain yang seperti ini, di mana seluruh malaikat berdatangan ke bumi. Selain itu, beliau menjelaskan bahwa Lailatul Qadar memiliki kedudukan seperti imam bagi seluruh malam di bulan Ramadan, sehingga satu malam ini seakan-akan menyamai keseluruhan bulan tersebut.

Syaikh Mohamamad Sharifani kemudian menjelaskan bahwa Allah swt merahasiakan waktu pasti Lailatul Qadar karena keagungannya. Sesuatu yang sangat berharga tidak akan ditampakkan di hadapan umum, sebagaimana seseorang menyimpan emasnya di tempat yang tersembunyi. Oleh karena itu, orang-orang yang benar-benar menginginkan Lailatul Qadar akan bersungguh-sungguh menghidupkan malam-malam yang dianjurkan, yaitu malam ke-19, 21, dan 23, bahkan ada yang menghidupkan seluruh malam Ramadan tanpa tidur demi meraih malam tersebut. Dengan cara ini, hanya mereka yang benar-benar layak yang akan mendapatkannya.

Beliau juga menjelaskan bahwa jika malam Lailatul Qadar diketahui secara pasti, maka orang-orang yang terbiasa dalam kemaksiatan akan menunda tobat hingga malam tersebut, lalu kembali bermaksiat setelahnya. Karena itu Allah swt merahasiakannya agar hanya orang-orang yang benar-benar bersungguh-sungguh yang dapat meraihnya.

Dalam penjelasannya, beliau menekankan bahwa orang-orang yang menghidupkan malam Lailatul Qadar adalah mereka yang berpuasa di siang hari. Puasa menjadi salah satu bentuk kelayakan untuk mendapatkan malam tersebut. Untuk menunjukkan keagungan puasa, beliau menyampaikan berbagai contoh dari kehidupan orang-orang suci, seperti Imam Ali Zainal Abidin as yang selama puluhan tahun lebih banyak berpuasa di siang hari, serta Hamzah bin Abdul Muthalib dan Ja’far At-Tayyar yang gugur dalam keadaan berpuasa.

Beliau juga mengisahkan Sayidah Nafisah yang selama 40 tahun berpuasa di siang hari dan mengkhatamkan Al-Qur’an ribuan kali. Bahkan beliau menggali kubur di dalam rumahnya sebagai pengingat kematian, dan menjelang wafatnya tetap mempertahankan puasanya meskipun dalam kondisi lemah. Ketika ditawari minum untuk menguatkan tubuhnya, beliau menolak dengan mengatakan bahwa sepanjang hidupnya ia berharap meninggal dalam keadaan berpuasa. Setelah wafat, jasadnya sempat ingin dipindahkan ke Madinah untuk dimakamkan di Baqi, namun masyarakat menolaknya. Dalam mimpi, suaminya bertemu Rasulullah saw yang memerintahkan agar beliau dimakamkan di tempat wafatnya karena keberkahan yang akan diberikan kepada negeri tersebut.

Syaikh Mohamamad Sharifani juga menyampaikan kisah seseorang yang meminta kepada Rasulullah saw agar ditunjukkan amalan yang dapat menjauhkannya dari neraka. Rasulullah saw menjawab bahwa ia harus berpuasa. Orang tersebut kemudian mengajak istrinya untuk berpuasa sepanjang hidup mereka demi dijauhkan dari api neraka, dan keduanya melakukannya hingga akhir hayat.

Setelah menjelaskan keagungan Lailatul Qadar dan puasa, beliau mengajak jamaah untuk memahami apa yang harus dilakukan pada malam tersebut. Beliau menegaskan bahwa setiap orang harus berbicara kepada Allah swt dan mengikat janji dengan-Nya. Hal pertama yang harus dilakukan adalah membersihkan hati dari dendam dan permusuhan. Seseorang harus memaafkan orang lain dan menyatakan kepada Allah bahwa dirinya telah membersihkan hati, agar munajat yang dilakukan benar-benar berasal dari hati yang suci.

Selanjutnya, beliau mengajak jamaah untuk kembali kepada Allah swt. Manusia yang dipenuhi dosa diibaratkan seperti sesuatu yang tergadaikan, sehingga untuk membebaskannya diperlukan tebusan. Tebusan itu adalah diri sendiri yang diserahkan kepada Allah swt melalui tobat. Dalam hal ini, manusia lari dari Allah menuju Allah, menghindari murka-Nya dengan kembali kepada-Nya.

Beliau kemudian menjelaskan pentingnya dua bentuk pengakuan dalam munajat, yaitu pengakuan atas dosa sebagai hamba dan pengakuan atas kebesaran Allah sebagai Tuhan. Ungkapan seperti “aku hamba yang penuh dosa” dan “Engkau Tuhan yang Maha Pengampun” menjadi jalan untuk kembali terhubung dengan Allah swt.

Untuk memperjelas hal tersebut, beliau menyampaikan kisah seorang nabi yang diperintahkan Allah untuk mencari orang paling buruk dan paling baik. Orang yang sama pada pagi hari menjadi yang terburuk, namun pada malam hari menjadi yang terbaik karena dua pengakuan: mengakui luasnya dosa dirinya dan mengakui bahwa rahmat Allah swt lebih luas daripada dosa tersebut. Karena dua pengakuan itu, Allah mengangkat derajatnya.

Dalam penutupnya, Syaikh Mohamamad Sharifani mengajak jamaah untuk bermunajat, membaca doa, memanggil Allah dengan nama-nama-Nya, serta bertawasul dengan Al-Qur’an dan ahlul bait as sebagai wasilah terbaik. Beliau juga menekankan pentingnya meneteskan air mata, meskipun hanya satu tetes, karena nilainya sangat besar di sisi Allah swt. Mengutip sabda Rasulullah saw kepada Abu Dzar, beliau menyampaikan bahwa Allah swt telah menyiapkan tempat yang tinggi di surga bagi hamba yang meneteskan air mata karena takut kepada-Nya, dan bahwa air mata tersebut tidak dapat ditimbang sebagaimana amal lainnya.