Kultum Malam ke-20 Ramadhan disampaikan oleh Syaikh Mohammad Sharifani di ICC Jakarta pada Rabu, 11 Maret 2026. Dalam tausiyah tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani melanjutkan pembahasan tentang peristiwa Perjanjian Hudaibiyah dan berbagai keberkahan yang lahir darinya. Menurut beliau, hingga pembahasan malam itu telah disebutkan sekitar dua puluh satu berkah dari perjanjian tersebut, yang menunjukkan bahwa peristiwa yang pada awalnya tampak berat bagi kaum muslimin justru membawa dampak besar bagi perkembangan Islam.
Salah satu keberkahan penting dari Perjanjian Hudaibiyah, menurut Syaikh Mohammad Sharifani, adalah datangnya kemenangan besar yang menghasilkan ghanimah atau harta rampasan perang bagi kaum muslimin. Setelah perjanjian tersebut, kaum muslimin menghadapi Perang Khaibar, sebuah peperangan penting yang berakhir dengan kemenangan di pihak kaum muslimin. Dari kemenangan itu, mereka memperoleh ghanimah yang sangat besar, yang sekaligus memperkuat posisi kaum muslimin secara sosial dan ekonomi.
Keberkahan lain dari perjanjian tersebut juga dijelaskan melalui firman Allah SWT:
yâ ayyuhalladzîna âmanudzkurû ni‘matallâhi ‘alaikum idz hamma qaumun ay yabsuthû ilaikum aidiyahum fa kaffa aidiyahum ‘angkum
Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah nikmat Allah (yang dianugerahkan) kepadamu ketika suatu kaum bermaksud hendak menyerangmu dengan tangannya, lalu Dia menahan tangan (mencegah) mereka dari kamu.
Al-Ma’idah · Ayat 11.
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, ayat tersebut mengingatkan kaum beriman agar selalu menyadari nikmat Allah yang melindungi mereka dari berbagai ancaman. Setelah Perjanjian Hudaibiyah, kemampuan musuh untuk mengganggu dan melemahkan kaum muslimin semakin berkurang. Musuh tidak lagi memiliki kekuatan yang sama untuk menekan atau menghina kaum muslimin, sehingga situasi tersebut justru membuka ruang yang lebih luas bagi dakwah Islam untuk berkembang.
Beliau juga menjelaskan bahwa perjanjian tersebut menjadi pelajaran penting bagi kaum muslimin tentang arti berpegang teguh pada janji Allah. Ketika kaum muslimin tetap memegang komitmen terhadap perjanjian yang telah disepakati dan bersandar kepada petunjuk Ilahi, pada akhirnya mereka memperoleh kemenangan atas kaum kafir. Peristiwa ini menunjukkan bahwa kemenangan tidak selalu datang melalui konfrontasi langsung, tetapi dapat muncul melalui kesabaran, strategi, dan ketaatan terhadap perintah Allah.
Lebih jauh, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa Perjanjian Hudaibiyah juga memiliki makna historis yang sangat besar karena menjadi titik perubahan dalam perjalanan sejarah Islam. Setelah perjanjian tersebut, umat Islam memasuki fase baru yang akhirnya mengantarkan pada peristiwa besar Fathul Makkah, yaitu pembebasan Kota Makkah. Peristiwa itu tidak hanya menjadi kemenangan militer, tetapi juga menjadi petunjuk bagi banyak orang yang sebelumnya belum memeluk Islam untuk mengenal jalan yang lurus atau shirathal mustaqim.
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, rangkaian peristiwa yang terjadi setelah Perjanjian Hudaibiyah menunjukkan bahwa apa yang tampak sebagai kompromi atau kelemahan pada awalnya justru menjadi strategi yang membawa kemenangan besar di kemudian hari. Karena itu, kaum muslimin perlu memahami bahwa rencana Allah sering kali bekerja melalui proses yang tidak selalu terlihat jelas pada awalnya.
Di akhir kultumnya, Syaikh Mohammad Sharifani juga menegaskan bahwa Al-Qur’an menunjukkan adanya sunnatullah atau hukum Ilahi dalam sejarah. Salah satu di antaranya adalah bahwa ketika kaum kafir memaksakan peperangan melawan kaum mukmin yang berada di jalan Allah, mereka pada akhirnya tidak akan memperoleh kemenangan sejati. Orang-orang yang berpaling dari jalan Allah tidak akan menemukan ketenangan dan keberhasilan yang hakiki. Sunnatullah tersebut, menurut beliau, merupakan hukum yang berlaku sepanjang zaman: ketika kaum muslimin berpegang teguh pada ajaran Islam dan komitmen terhadap janji Ilahi, pada akhirnya mereka akan memperoleh kemenangan, sementara pihak yang memerangi kebenaran akan mengalami kekalahan.



