Skip to main content

ICC Jakarta menyelenggarakan ibadah salat Jumat pada 13 Maret 2026 dengan menghadirkan Syaikh Mohammad Sharifani sebagai penceramah dan Ustaz Hafidh Alkaf sebagai penerjemah. Dalam khutbah pertamanya, Syaikh Mohammad Sharifani mengajak jamaah untuk mengenal lebih dekat sosok Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib AS. Beliau mengutip sabda Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa pada diri Imam Ali bin Abi Thalib AS terdapat seribu sunnah para nabi, yang seolah-olah menjadikan beliau sebagai jelmaan dari seribu nabi. Kedekatan dan keutamaan Imam Ali bin Abi Thalib AS juga ditegaskan melalui pesan Rasulullah SAW kepada Abu Dzar, di mana beliau memerintahkan agar jika seluruh manusia di timur dan barat menempuh jalan yang berbeda dengan Imam Ali bin Abi Thalib AS, maka jalan beliau pulalah yang harus diikuti. Hal ini menunjukkan bahwa secara individu, Imam Ali bin Abi Thalib AS memiliki keunggulan mutlak dibandingkan seluruh manusia di muka bumi.

Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan kedalaman ilmu Imam Ali bin Abi Thalib AS yang pernah menyatakan bahwa beliau mengetahui apa yang telah, sedang, dan akan terjadi. Imam Ali bin Abi Thalib AS bahkan mengaku lebih mengenal lorong-lorong di langit dibandingkan jalanan di bumi, termasuk mengenal setiap malaikat yang ada di sana. Beliau memberikan contoh konkret mengenai kemampuan berita gaib Imam Ali bin Abi Thalib AS melalui sebuah riwayat saat beliau berada di wilayah yang sekarang disebut Najaf. Saat itu, Imam Ali bin Abi Thalib AS memberitahukan bahwa beliau melihat sebuah jenazah sedang dibawa dari Yaman menuju tempat tersebut. Meskipun awalnya diragukan oleh orang-orang, tiga hari kemudian datanglah rombongan dari Yaman membawa jenazah sang ayah yang berpesan agar dimakamkan di tempat yang ditunjuk oleh Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib AS.

Selain keluasan ilmu, sisi zuhud Imam Ali bin Abi Thalib AS menjadi sorotan utama dalam khutbah ini. Meskipun memegang kekuasaan negara yang sangat luas dan memegang kunci Baitul Mal, beliau hidup dengan sangat sederhana. Beliau pernah menunjukkan sepatunya yang penuh tambalan kepada para sahabat dan menegaskan bahwa nilai dunia di mata beliau lebih rendah daripada sepatu yang tidak berharga tersebut. Kehidupan beliau hanya berlandaskan pada dua kerat roti dan sehelai kain sebagai pakaian. Sifat zuhud ini berpadu dengan keberanian luar biasa di medan perang, mulai dari Badar, Uhud, Khandaq, hingga Khaibar. Imam Ali bin Abi Thalib AS dikenal sebagai satria yang menjebol benteng Khaibar dan menumbangkan Amr bin Abdul Wudd yang kekuatannya setara seribu orang. Imam Ali bin Abi Thalib AS menegaskan bahwa beliau tidak pernah sekalipun memunggungi lawan atau lari dari medan laga.

Keimanan Imam Ali bin Abi Thalib AS digambarkan sebagai puncak keyakinan yang tidak mengenal keraguan. Beliau pernah menyatakan bahwa seandainya seluruh tabir gaib disingkapkan di hadapannya, keyakinan beliau tidak akan bertambah sedikit pun karena sudah mencapai kesempurnaan. Dalam bidang sastra dan retorika, karya-karya beliau dalam Nahjul Balaghah menjadi bukti keindahan kata-kata dan kedalaman makna, mulai dari tema ketakwaan, manajerial negara dalam surat kepada Malik Asytar, hingga poin-poin pendidikan dalam surat kepada putranya, Imam Al-Hasan AS. Meskipun memiliki wibawa yang sangat besar, beliau tetap rendah hati dengan gelar Abu Turab, yang menunjukkan kebiasaannya duduk di tanah bersama kaum fakir, yatim, dan orang-orang papa. Keagungan sifat yang saling bertentangan—seperti keberanian di medan perang yang berpadu dengan kelembutan hati—diakui bahkan oleh musuh-musuh bebuyutannya seperti Muawiyah dan Amr bin Ash.

Pada khutbah kedua, Syaikh Mohammad Sharifani mengenang gagasan Imam Khomeini mengenai perlawanan terhadap kezaliman global melalui penetapan Hari Quds Internasional pada Jumat terakhir bulan Ramadan. Beliau mengkritik rezim zionis Israel yang terus melakukan ribuan pelanggaran hukum internasional dan hak asasi manusia tanpa mendapatkan sanksi yang adil dari dunia internasional. Beliau memaparkan kekejaman yang terjadi di Palestina, termasuk genosida, penghancuran infrastruktur sipil, rumah sakit, dan sekolah yang dilakukan melalui serangan udara terhadap warga sipil. Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa tindakan tersebut bukanlah bentuk keberanian, melainkan tindakan keji yang dilakukan di depan mata dunia. Beliau mengapresiasi masyarakat Indonesia yang tetap teguh menyuarakan keadilan dan menentang agresi zionis tersebut.

Menutup khutbahnya, Syaikh Mohammad Sharifani menyinggung masa berkabung tiga hari atas syahadah Imam Ali bin Abi Thalib AS. Beliau menjelaskan tradisi unik dalam keluarga Nabi yang cenderung memakamkan jenazah di malam hari secara tersembunyi, mulai dari Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah Az-Zahra, hingga Imam Ali bin Abi Thalib AS sendiri. Beliau menceritakan pesan terakhir Imam Ali bin Abi Thalib AS kepada keluarganya agar membiarkan bagian depan keranda bergerak sendiri menunjukkan tempat pemakaman yang telah disiapkan oleh Nabi Adam dan Nabi Nuh. Di tengah prosesi pemakaman malam hari tersebut, beliau menggambarkan duka mendalam Sayyidah Zainab yang telah kehilangan ibu dan ayahnya, serta kelak akan menghadapi tragedi kesyahidan Imam Al-Hasan AS dan puncaknya di Karbala bagi Imam Husain AS. Beliau berharap agar jamaah dapat mengambil ibrah dari keteguhan dan perjuangan keluarga suci tersebut serta memohon inayah dari Imam Zaman AS bagi keselamatan umat.