Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta menggelar Kelas Tafsir Maudhu’i pada Kamis, 7 Mei 2026, bersama Ustaz Zaki Amami yang melanjutkan pembahasan tafsir Surah Ali Imran ayat ke-15. Dalam kajiannya, beliau menjelaskan tentang perbandingan antara kenikmatan dunia dan kenikmatan akhirat, hakikat surga sebagai tempat kedamaian abadi, makna ridha Allah swt sebagai nikmat tertinggi, serta pentingnya takwa dan kesucian dalam kehidupan seorang mukmin.
Pada awal kajian, Ustaz Zaki Amami mengulas kembali pembahasan ayat sebelumnya mengenai ujian manusia terhadap kecintaan duniawi. Menurut beliau, manusia diciptakan Allah swt dengan berbagai kecenderungan terhadap syahwat dan keindahan dunia, seperti kecintaan kepada wanita, anak-anak, harta, emas, perak, hewan ternak, dan berbagai bentuk kenikmatan dunia lainnya. Namun beliau menegaskan bahwa seluruh keindahan dunia bersifat sementara dan sering kali membuat manusia tertipu.
Beliau kemudian menjelaskan bahwa dunia bukan tujuan akhir kehidupan manusia, melainkan tempat menanam amal dan ujian keimanan. Karena itu, menurut beliau, orang-orang yang memahami hakikat kehidupan akan memilih akhirat sebagai tujuan utama, sebab di sanalah manusia akan menuai hasil dari seluruh amal perbuatannya.
Dalam pembahasan inti kajian, Ustaz Zaki Amami membacakan firman Allah swt dalam Surah Ali Imran ayat 15:
Qul a’unabbi’ukum bikhairim min żālikum lillażīnattaqau ‘inda rabbihim jannātun tajrī min taḥtihal-anhāru khālidīna fīhā wa azwājum muṭahharatun wa riḍwānum minallāh, wallāhu baṣīrum bil-‘ibād
“Katakanlah, ‘Maukah aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang lebih baik dari itu semua?’ Bagi orang-orang yang bertakwa di sisi Tuhan mereka tersedia surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan mereka memperoleh pasangan-pasangan yang disucikan serta keridaan Allah. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali Imran [3]: 15)
Menurut beliau, ayat tersebut diawali dengan bentuk pertanyaan yang bersifat mengajak dan menggugah hati manusia. Beliau menjelaskan bahwa dalam metode dakwah Al-Qur’an terdapat penggunaan kalimat pertanyaan untuk menarik perhatian dan membuka hati manusia terhadap kebenaran. Kalimat “maukah aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang lebih baik dari itu semua?” merupakan bentuk ajakan yang lembut agar manusia membandingkan kenikmatan dunia dengan kenikmatan akhirat.
Beliau menerangkan bahwa kata “jannāt” dalam ayat tersebut menggambarkan taman-taman yang indah, hijau, dan penuh ketenangan. Menurut beliau, Al-Qur’an menggunakan gambaran yang dekat dengan fitrah manusia agar manusia dapat memahami keindahan surga sesuai kemampuan imajinasinya.
Untuk menggambarkan suasana tersebut, Ustaz Zaki Amami menceritakan pengalamannya ketika berada di Iran yang terkenal dengan suasana sungai dan taman yang indah. Beliau menjelaskan bagaimana gemericik air, taman hijau, dan suasana tenang dapat menghadirkan rasa damai dalam jiwa manusia. Namun menurut beliau, seluruh keindahan dunia itu tidak dapat dibandingkan dengan keindahan surga yang dijanjikan Allah swt.
Beliau kemudian menyoroti frasa “khālidīna fīhā” yang berarti kekal di dalamnya. Menurut beliau, seluruh kenikmatan dunia memiliki keterbatasan dan pada akhirnya menimbulkan rasa bosan, lelah, atau kehilangan. Sebaliknya, kenikmatan surga bersifat abadi tanpa kekurangan sedikit pun. Beliau menjelaskan bahwa keindahan surga tidak akan pernah menimbulkan kejenuhan, rasa sakit, ataupun kekurangan sebagaimana yang terjadi pada kenikmatan dunia.
Dalam penjelasannya, beliau menyebut bahwa keyakinan terhadap kenikmatan akhirat inilah yang membuat para syuhada dan orang-orang saleh menghadapi kematian dengan penuh ketenangan dan kebahagiaan. Menurut beliau, para arif dan ulama memandang syahadah sebagai jalan menuju keindahan abadi yang telah dijanjikan Allah swt.
Pembahasan kemudian berlanjut pada frasa “wa azwājum muṭahharah”. Ustaz Zaki Amami menjelaskan bahwa pasangan-pasangan yang suci dalam surga bukan sekadar menggambarkan kenikmatan fisik, melainkan kesempurnaan dan kesucian yang bebas dari segala kekurangan duniawi. Menurut beliau, kenikmatan akhirat tidak boleh dipahami secara sempit hanya sebagai kenikmatan biologis, sebab nikmat yang Allah swt berikan jauh lebih tinggi dan lebih sempurna daripada apa yang dapat dibayangkan manusia.
Beliau kemudian menjelaskan bahwa puncak seluruh kenikmatan dalam ayat tersebut terdapat pada frasa “wa riḍwānum minallāh” atau keridaan Allah swt. Menurut beliau, ridha Allah merupakan nikmat tertinggi yang melampaui seluruh kenikmatan fisik dan material. Beliau mengutip penjelasan dalam Nahjul Balaghah bahwa orang-orang yang benar-benar mencintai Allah swt tidak lagi menjadikan kenikmatan dunia sebagai tujuan utama, melainkan mengharapkan keridaan Allah swt.
Menurut beliau, apabila Allah swt telah ridha kepada seorang hamba, maka hati hamba tersebut akan dipenuhi ketenangan dan kedamaian ketika mengingat Allah swt. Karena itu, ridha Allah dipandang sebagai tingkatan tertinggi dalam perjalanan spiritual seorang mukmin.
Dalam kajian tersebut, Ustaz Zaki Amami juga menjelaskan bahwa Allah swt menggunakan metode dakwah yang lembut dan menghormati manusia. Menurut beliau, penggunaan kalimat yang santun dan penuh penghormatan dalam Al-Qur’an menjadi teladan bagi para pendidik, orang tua, dan dai dalam membimbing manusia menuju kebaikan.
Beliau menjelaskan bahwa seseorang tidak seharusnya mendidik anak atau masyarakat dengan kemarahan dan ancaman semata, tetapi dengan kelembutan, empati, dan bahasa yang menggugah fitrah manusia. Menurut beliau, kelembutan bukan berarti kelemahan, melainkan kemampuan memahami perasaan orang lain dan menyampaikan kebenaran dengan kasih sayang.
Selain itu, beliau menegaskan bahwa standar untuk memperoleh nikmat surga dan ridha Allah adalah takwa. Menurut beliau, takwa bukan hanya menjaga perbuatan lahiriah, tetapi juga menjaga kebersihan pikiran dan hati dari segala bentuk keburukan. Beliau menekankan bahwa kesucian batin menjadi dasar bagi kesucian amal dan perilaku manusia.
Dalam pembahasannya, Ustaz Zaki Amami juga menyinggung pentingnya mengikuti jalan Ahlul Bait untuk meraih ridha Allah swt. Beliau menjelaskan bahwa manusia yang ingin memperoleh kesucian harus berusaha mengikuti jalan para nabi, Rasulullah saw, dan para imam yang suci dari dosa.
Beliau menerangkan bahwa manusia pada hakikatnya menginginkan kehidupan yang damai dan penuh kenikmatan. Karena itu, Allah swt memberikan gambaran surga dengan berbagai bentuk keindahan yang sesuai dengan fitrah manusia agar manusia termotivasi melakukan kebaikan.
Dalam penjelasan lainnya, beliau mengutip kisah Imam Ali Ar-Ridha as yang menggunakan pakaian indah dan bersih. Ketika sebagian orang mempertanyakan hal tersebut, Imam Ridha as menjelaskan bahwa Islam tidak melarang manusia menikmati keindahan dunia selama tidak berlebihan dan tidak terikat hatinya kepada dunia. Menurut beliau, seorang mukmin boleh menikmati nikmat dunia secara proporsional selama tetap menjaga ketakwaan dan tidak jatuh pada sikap berlebih-lebihan (israf).
Pada bagian akhir kajian, Ustaz Zaki Amami menyoroti pentingnya menjaga kesucian, khususnya bagi kaum perempuan. Menurut beliau, Islam memuliakan perempuan melalui penjagaan kesucian lahir dan batin, termasuk melalui hijab dan akhlak yang terjaga. Beliau menegaskan bahwa perempuan tidak boleh dipandang sebagai objek eksploitasi dan komoditas duniawi sebagaimana yang terjadi dalam budaya materialistik dan hedonistik.
Beliau juga mengingatkan pentingnya menjaga pandangan bagi laki-laki dan menjaga hijab bagi perempuan sebagai bentuk penjagaan moral masyarakat. Menurut beliau, kerusakan moral suatu masyarakat sering kali bermula dari hilangnya rasa malu dan hilangnya penjagaan terhadap kesucian diri.
Di akhir kajian, Ustaz Zaki Amami mengajak jamaah untuk menjadikan akhirat sebagai tujuan utama kehidupan dan tidak tertipu oleh kenikmatan dunia yang bersifat sementara. Beliau menegaskan bahwa kenikmatan sejati bukan sekadar keindahan fisik, melainkan kedekatan dan keridaan Allah swt yang abadi. Karena itu, beliau mengajak seluruh jamaah untuk meningkatkan ketakwaan, menjaga kesucian diri, serta menata hidup berdasarkan orientasi akhirat agar memperoleh surga dan ridha Allah swt.



