Skip to main content

Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta menggelar Kelas Tafsir Tartibi pada Jumat, 1 Mei 2026, bersama Ustaz Umar Shahab yang melanjutkan pembahasan tafsir Surah Al-Baqarah terkait Nabi Ibrahim as. Dalam kajiannya, beliau menjelaskan makna Islam sebagai ketundukan total kepada Allah swt, perbedaan antara Islam sebagai substansi ajaran para nabi dan Islam sebagai nama agama yang dibawa Rasulullah saw, serta makna “millah Ibrahim” sebagai jalan hidup dan cara pandang tauhid yang diwariskan Nabi Ibrahim as.

Pada awal kajian, Ustaz Umar Shahab mengingatkan kembali pembahasan sebelumnya mengenai wasiat Nabi Ibrahim as kepada keturunannya agar meninggal dalam keadaan berserah diri kepada Allah swt. Beliau membacakan firman Allah swt:

Wa waṣṣā bihā Ibrāhīmu banīhi wa ya‘qūbu yā baniyya innallāhaṣṭafā lakumuddīna falā tamūtunna illā wa antum muslimūn

“Dan Ibrahim mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya‘qub. ‘Wahai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untuk kalian, maka janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 132)

Beliau menjelaskan bahwa kata “Islam” secara bahasa berarti tunduk, patuh, taat, dan berserah diri. Namun menurut beliau, dalam penggunaannya terdapat perbedaan antara Islam sebagai nama agama dan islam sebagai substansi ajaran seluruh nabi. Beliau menerangkan bahwa Islam dengan huruf besar merujuk pada agama yang dibawa Nabi Muhammad saw, sedangkan islam sebagai makna ketundukan merupakan inti ajaran seluruh nabi sejak Nabi Adam as hingga Nabi Muhammad saw.

Menurut beliau, seluruh nabi membawa ajaran yang sama, yaitu tauhid dan ketundukan kepada Allah swt. Akan tetapi, hanya agama yang dibawa Rasulullah saw yang secara resmi dinamakan “Islam”, karena menurut beliau bentuk ketundukan yang paling sempurna dan final terwujud dalam syariat Nabi Muhammad saw.

Pembahasan kemudian berlanjut pada konsep “millah Ibrahim” yang disebut dalam Surah Al-Baqarah ayat 135. Ustaz Umar Shahab membacakan firman Allah swt:

Wa qālū kūnū hūdan au naṣārā tahtadū qul bal millata ibrāhīma ḥanīfā wa mā kāna minal musyrikīn

“Dan mereka berkata, ‘Jadilah kalian penganut Yahudi atau Nasrani, niscaya kalian mendapat petunjuk.’ Katakanlah, ‘Tidak, tetapi kami mengikuti millah Ibrahim yang hanif, dan dia bukanlah termasuk orang-orang musyrik.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 135)

Beliau menjelaskan bahwa ayat tersebut turun sebagai bantahan terhadap klaim kelompok Yahudi dan Nasrani yang menganggap keselamatan hanya dimiliki kelompok mereka. Menurut beliau, Al-Qur’an tidak menjadikan nama formal suatu kelompok sebagai ukuran kebenaran, tetapi menilai kebenaran dari substansi ajaran dan ketundukan kepada Allah swt.

Beliau kemudian mengutip ayat lain:

Wa qālū lan yadkhulal jannata illā man kāna hūdan au naṣārā tilka amāniyyuhum qul hātū burhānakum in kuntum ṣādiqīn

“Dan mereka berkata, ‘Tidak akan masuk surga kecuali orang-orang Yahudi atau Nasrani.’ Itu hanyalah angan-angan mereka. Katakanlah, ‘Tunjukkan bukti kalian jika kalian orang-orang yang benar.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 111)

Menurut beliau, Al-Qur’an mengajarkan bahwa klaim kebenaran harus disertai argumentasi dan bukti, bukan sekadar identitas formal. Karena itu, beliau menegaskan bahwa hakikat agama bukan terletak pada nama kelompok, melainkan pada nilai tauhid dan ketundukan sejati kepada Allah swt.

Dalam penjelasannya, Ustaz Umar Shahab menafsirkan “millah Ibrahim” sebagai jalan hidup, cara pandang, atau way of life Nabi Ibrahim as. Beliau menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim as disebut sebagai “Khalilullah” karena kedekatan dan ketundukannya yang sempurna kepada Allah swt. Menurut beliau, inti millah Ibrahim adalah kepatuhan total kepada perintah Allah tanpa memperturutkan ego dan hawa nafsu.

Untuk menjelaskan hakikat tauhid dan ketundukan tersebut, beliau kemudian menyinggung kisah iblis yang menolak bersujud kepada Nabi Adam as. Menurut beliau, terdapat sebagian orang yang mencoba menggambarkan iblis sebagai “muwahid sejati” dengan alasan ia tidak mau sujud kepada selain Allah swt. Namun beliau menegaskan bahwa pandangan seperti itu bertentangan dengan Al-Qur’an, karena iblis justru disebut sebagai kafir akibat menolak perintah Allah swt.

Beliau membacakan firman Allah swt:

Wa iż qulnā lil-malāikatisjudū liādama fasajadū illā iblīsa abā wastakbara wa kāna minal kāfirīn

“Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kalian kepada Adam,’ maka mereka pun sujud kecuali iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah [2]: 34)

Menurut beliau, kekafiran iblis bukan karena tidak mengakui Allah swt, tetapi karena tidak tunduk kepada perintah Allah swt. Beliau menegaskan bahwa tauhid sejati adalah “sam‘inā wa aṭa‘nā”, yaitu mendengar dan taat sepenuhnya kepada Allah swt tanpa membangkang dengan alasan hawa nafsu dan kesombongan diri.

Dalam kajian tersebut, Ustaz Umar Shahab juga menjelaskan puncak ketundukan Nabi Ibrahim as yang tampak ketika beliau diperintahkan menyembelih putranya, Nabi Ismail as. Beliau menerangkan bahwa Nabi Ibrahim as memperoleh keturunan setelah usia sangat tua dan melalui penantian panjang, tetapi ketika Allah swt memerintahkan penyembelihan Ismail as, Nabi Ibrahim as tetap patuh tanpa keraguan.

Beliau membacakan firman Allah swt:

fa lammâ balagha ma‘ahus-sa‘ya qâla yâ bunayya innî arâ fil-manâmi annî adzbaḫuka fandhur mâdzâ tarâ

“Maka ketika anak itu sampai pada usia sanggup berusaha bersama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.’” (QS. Ash-Shaffat [37]: 102)

Beliau kemudian melanjutkan jawaban Nabi Ismail as:

Qāla yā abatif‘al mā tu’mar satajidunī insyāallāhu minaṣ-ṣābirīn

“Ismail berkata, ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’” (QS. Ash-Shaffat [37]: 102)

Menurut beliau, dialog tersebut bukan menunjukkan keraguan Nabi Ibrahim as, melainkan bentuk komunikasi kepada putranya mengenai perintah Allah swt. Justru jawaban Nabi Ismail as menunjukkan kesempurnaan ketundukan keluarga Nabi Ibrahim as kepada Allah swt.

Ustaz Umar Shahab menjelaskan bahwa “millah Ibrahim” dapat dipahami sebagai ideologi dan jalan hidup yang berlandaskan tauhid dan pengorbanan. Beliau menyebut bahwa ideologi bukan sesuatu yang negatif, tetapi sebuah keyakinan dan sistem nilai yang diyakini serta diperjuangkan seseorang dalam hidupnya. Karena itu, menurut beliau, Islam juga merupakan ideologi dalam arti jalan hidup yang mengatur cara berpikir dan bertindak manusia.

Beliau kemudian menyinggung munculnya kelompok-kelompok tertentu yang mengatasnamakan “millah Ibrahim” namun justru memisahkan diri dari Islam. Menurut beliau, pemahaman seperti itu keliru karena millah Ibrahim justru mencapai kesempurnaan dalam ajaran Rasulullah saw.

Dalam penjelasannya, beliau juga menyinggung fenomena kelompok ekstrem seperti ISIS yang mengklaim diri sebagai pembawa tauhid sejati. Menurut beliau, klaim semacam itu mirip dengan klaim Yahudi dan Nasrani dalam Al-Qur’an yang merasa paling benar hanya berdasarkan nama dan identitas kelompok. Padahal menurut beliau, kebenaran tidak diukur dari slogan atau nama formal, tetapi dari substansi ajaran dan perilaku nyata yang sesuai dengan tauhid dan ketundukan kepada Allah swt.

Beliau juga menyinggung fenomena viral lagu berjudul “Tabbat Yadaini Iran” yang dibuat sebagian pihak untuk menyerang Iran dan mengklaim diri sebagai kelompok tauhid sejati. Menurut beliau, penggunaan simbol-simbol agama dan slogan tauhid tidak otomatis menunjukkan kebenaran apabila tidak disertai akhlak, keadilan, dan ketundukan sejati kepada Allah swt.

Pada bagian akhir kajian, Ustaz Umar Shahab kembali menegaskan bahwa ajaran para nabi pada hakikatnya satu, yaitu tauhid dan kepasrahan kepada Allah swt. Karena itu, beliau mengajak jamaah untuk memahami Islam secara substansial, bukan sekadar formalitas identitas. Menurut beliau, ukuran keimanan bukan pada nama kelompok, melainkan pada sejauh mana seseorang benar-benar menjalani “millah Ibrahim”, yaitu jalan hidup yang dipenuhi ketundukan, ketaatan, dan pengorbanan demi Allah swt.