Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta kembali menggelar Kelas Tafsir Tartibi pada Jumat, 22 Mei 2026, bersama Syaikh Mohammad Sharifani. Dalam kajian kali ini, beliau membahas tafsir Surah Al-Baqarah ayat 216 yang berbicara tentang kewajiban berperang, hikmah di balik sesuatu yang tidak disukai manusia, serta pentingnya berserah diri kepada ilmu dan ketetapan Allah swt.
Pada awal kajian, Syaikh Mohammad Sharifani membacakan firman Allah swt:
Kutiba ‘alaikumul-qitālu wa huwa kurhul lakum, wa ‘asā an takrahū syai’an wa huwa khairul lakum, wa ‘asā an tuḥibbū syai’an wa huwa syarrul lakum, wallāhu ya‘lamu wa antum lā ta‘lamūn
“Diwajibkan atas kalian berperang, padahal itu tidak kalian sukai. Boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal itu baik bagi kalian, dan boleh jadi kalian menyukai sesuatu padahal itu buruk bagi kalian. Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216)
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa kata kutiba dalam ayat tersebut berasal dari kata kataba yang berarti “menulis”, sedangkan kutiba bermakna “ditetapkan” atau “diwajibkan”. Menurut beliau, penggunaan kata tersebut memiliki dua kemungkinan makna.
Pertama, kutiba dapat dipahami sebagai ketetapan alam atau sunnatullah dalam kehidupan manusia. Dalam pengertian ini, peperangan dan kesulitan merupakan bagian dari kehidupan yang tidak mungkin sepenuhnya dihindari manusia. Beliau menjelaskan bahwa kehidupan manusia memang akan selalu dipenuhi ujian, tantangan, dan kesulitan sebagaimana perang yang secara fitrah tidak disukai manusia.
Kedua, kata kutiba juga dapat dimaknai sebagai kewajiban syariat. Dalam konteks ini, perang menjadi kewajiban ketika agama, kebenaran, dan masyarakat harus dipertahankan. Menurut beliau, Islam tidak mengajarkan peperangan sebagai tujuan utama, tetapi dalam kondisi tertentu jihad dan peperangan dapat menjadi kewajiban demi membela kebenaran dan mencegah kezaliman.
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menjelaskan bagian ayat yang menyebutkan bahwa manusia terkadang membenci sesuatu padahal hal tersebut baik baginya, dan sebaliknya menyukai sesuatu padahal justru buruk baginya. Menurut beliau, ayat ini merupakan salah satu prinsip penting dalam kehidupan manusia.
Beliau memberikan beberapa contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Menurut beliau, manusia tidak menyukai rasa sakit, pahitnya obat, atau tindakan operasi medis. Namun justru melalui rasa sakit tersebut seseorang dapat memperoleh kesembuhan dan kesehatan. Sebaliknya, manusia sering menyukai berbagai kenikmatan yang berlebihan, seperti makan secara berlebihan, padahal hal tersebut dapat menjadi sumber penyakit.
Syaikh Mohammad Sharifani juga mencontohkan ibadah puasa. Menurut beliau, secara naluriah manusia lebih menyukai makan dan minum tanpa batas. Namun Allah swt justru menjadikan puasa sebagai jalan kesehatan fisik dan spiritual. Beliau menjelaskan bahwa banyak hal yang tidak disukai manusia sebenarnya mengandung maslahat besar yang tidak disadari.
Karena itu, menurut beliau, solusi utama dalam menghadapi berbagai ketentuan hidup adalah meyakini firman Allah swt:
Wallāhu ya‘lamu wa antum lā ta‘lamūn
“Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.”
Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa manusia memiliki pengetahuan yang sangat terbatas, sedangkan Allah swt Maha Mengetahui seluruh hakikat kehidupan. Karena itu, seorang mukmin harus belajar berserah diri kepada ketetapan Allah, meskipun pada awalnya terasa berat atau tidak menyenangkan.
Dalam penjelasannya, beliau juga mengaitkan ayat tersebut dengan beberapa contoh lain dalam Al-Qur’an. Salah satunya adalah sifat kikir. Menurut beliau, manusia secara naluriah menyukai menahan hartanya dan enggan berinfak karena merasa hartanya akan berkurang.
Namun Al-Qur’an justru memperingatkan bahwa sifat kikir membawa keburukan bagi manusia. Syaikh Mohammad Sharifani membacakan firman Allah swt:
Wa lā yaḥsabannalladzīna yabkhalūna bimā ātāhumullāhu min faḍlihī huwa khairal lahum, bal huwa syarrul lahum
“Janganlah orang-orang yang kikir dengan karunia yang Allah berikan kepada mereka mengira bahwa kekikiran itu baik bagi mereka. Bahkan itu buruk bagi mereka.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 180)
Beliau menjelaskan bahwa seseorang mungkin merasa aman ketika menumpuk harta dan enggan membantu orang lain. Namun sikap tersebut justru dapat menimbulkan kebencian sosial, kerusakan hubungan masyarakat, bahkan membawa bahaya bagi dirinya sendiri.
Selain itu, Syaikh Mohammad Sharifani juga menjelaskan ayat Al-Qur’an yang memerintahkan suami untuk bersabar terhadap pasangannya dan memperlakukan pasangan dengan baik. Menurut beliau, seseorang mungkin tidak menyukai kekurangan yang ada pada pasangannya. Namun Allah swt menjanjikan banyak kebaikan bagi orang yang mampu bersabar dan mempertahankan akhlak mulia dalam rumah tangga.
Beliau kemudian membagikan sebuah kisah tentang seorang dokter yang bermimpi buruk dan meminta penafsiran kepada seorang ahli takwil mimpi yang saleh. Dalam kisah tersebut, sang penafsir mimpi meminta dokter itu segera menutup kliniknya meskipun klinik tersebut sangat ramai dan menjadi sumber penghasilan besar baginya.
Awalnya dokter tersebut merasa berat mengikuti nasihat tersebut karena khawatir kehilangan pemasukan dan pasien. Namun karena percaya kepada nasihat orang saleh tersebut, ia akhirnya memutuskan menutup kliniknya dan pindah ke tempat lain. Beberapa hari kemudian bangunan klinik lamanya roboh. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, kisah ini menunjukkan bahwa sesuatu yang tampak tidak menyenangkan terkadang justru menjadi jalan keselamatan yang tidak diketahui manusia sebelumnya.
Dalam lanjutan tafsirnya, beliau menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an tentang peperangan di bulan haram. Syaikh Mohammad Sharifani menerangkan bahwa dalam Islam terdapat empat bulan haram, yaitu Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab. Bulan-bulan tersebut memiliki kehormatan khusus karena berkaitan dengan ibadah haji dan penghormatan terhadap syiar-syiar Allah.
Beliau membacakan firman Allah swt:
Yas’alūnaka ‘anis-syahril-ḥarāmi qitālin fīh, qul qitālun fīhi kabīr
“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah: berperang pada bulan itu adalah dosa besar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 217)
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, Islam pada dasarnya melarang peperangan di bulan-bulan haram karena bulan tersebut memiliki kehormatan tersendiri. Namun apabila kaum muslimin diserang dan dihalangi dari Masjidil Haram, maka mereka diperbolehkan bahkan diwajibkan membela diri.
Beliau menjelaskan bahwa Al-Qur’an juga menegaskan bahwa menghalangi manusia dari jalan Allah dan mengusir mereka dari Masjidil Haram merupakan dosa yang lebih besar daripada peperangan itu sendiri.
Dalam kajian tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani juga menyinggung ayat yang menjelaskan permusuhan kaum kafir terhadap umat Islam. Beliau membacakan firman Allah swt:
Wa lā yazālūna yuqātilūnakum ḥattā yaruddūkum ‘an dīnikum inistaṭā‘ū
“Mereka tidak akan berhenti memerangi kalian sampai mereka dapat mengembalikan kalian dari agama kalian, jika mereka mampu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 217)
Menurut beliau, ayat tersebut menunjukkan bahwa selalu ada upaya berkelanjutan dari pihak-pihak yang memusuhi Islam untuk menjauhkan kaum muslimin dari agamanya. Syaikh Mohammad Sharifani mengaitkan ayat tersebut dengan kondisi dunia saat ini, termasuk berbagai konflik dan tekanan yang dialami umat Islam di berbagai wilayah.
Beliau kemudian menjelaskan pembahasan tentang murtad sebagaimana disebutkan dalam lanjutan ayat tersebut. Menurut beliau, Al-Qur’an menegaskan bahwa orang yang keluar dari Islam lalu meninggal dalam keadaan kafir akan gugur seluruh amal baiknya dan menjadi penghuni neraka.
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa dalam ajaran Islam terdapat dua jenis murtad, yaitu murtad fitri dan murtad milli. Murtad fitri adalah orang yang sejak lahir berasal dari keluarga muslim lalu keluar dari Islam, sedangkan murtad milli adalah orang yang sebelumnya nonmuslim, kemudian masuk Islam, lalu kembali keluar dari Islam.
Menurut beliau, murtad fitri dipandang lebih berat karena orang tersebut sejak kecil telah hidup dalam lingkungan Islam dan memiliki dasar keislaman yang lebih kuat. Karena itu, dampak sosial dan spiritual dari kemurtadannya dianggap lebih besar dibandingkan murtad milli.
Syaikh Mohammad Sharifani juga menjelaskan pertanyaan yang sering muncul mengenai mengapa dosa tertentu dapat menghapus pahala amal baik seseorang. Beliau menegaskan bahwa Allah swt tidak pernah menyia-nyiakan amal baik manusia, sebagaimana firman-Nya:
Innā lā nuḍī‘u ajra man aḥsana ‘amalā
“Sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Kahfi [18]: 30)
Menurut beliau, amal baik tetap tercatat sebagai amal baik. Namun dosa tertentu dapat menghalangi dampak dan keberkahan dari amal tersebut. Dengan kata lain, nilai kebaikan amal tidak hilang sebagai fakta sejarah, tetapi pengaruh spiritual dan pahala akhirnya dapat terhapus akibat dosa besar yang dilakukan seseorang.
Di akhir kajian, Syaikh Mohammad Sharifani kembali menegaskan pentingnya berserah diri kepada ilmu dan ketetapan Allah swt. Menurut beliau, manusia sering kali tidak mengetahui hikmah di balik berbagai kejadian yang dialaminya. Karena itu, seorang mukmin harus meyakini bahwa apa yang ditetapkan Allah swt pada akhirnya merupakan yang terbaik bagi dirinya, meskipun pada awalnya terasa berat dan tidak menyenangkan.



