Skip to main content

ICC Jakarta menyelenggarakan Majelis Aza Imam Husain as malam kesepuluh yang bertepatan dengan malam Asyura pada Rabu, 24 Juni 2026. Mengawali ceramahnya, Syaikh Mohammad Sharifani memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt serta selawat kepada Rasulullah saw beserta keluarga suci beliau. Beliau mengingatkan sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa seluruh ahlul bait as pada hakikatnya adalah bahtera keselamatan, namun bahtera keselamatan Abu Abdillahil Husain as melaju jauh lebih cepat dibandingkan yang lainnya. Pada malam yang penuh keistimewaan sekaligus malam terakhir kehidupan Imam Husain as tersebut, penceramah mengajak jamaah untuk merenungkan sebuah pertanyaan besar dalam lembaran sejarah umat manusia. Beliau mempertanyakan mengapa revolusi atau perang-perang berskala global yang melibatkan jutaan manusia, seperti Perang Dunia Pertama dan Kedua, pada akhirnya meredup dan pudar dari jiwa manusia, sementara kebangkitan Imam Husain as di Karbala yang hanya diikuti oleh sekitar tujuh puluhan hingga seratusan orang saja mampu terus bergelora dan menciptakan gaung yang abadi meski telah berlalu hampir 1.400 tahun. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah saw yang menegaskan bahwa di dalam kalbu kaum mukminin senantiasa terdapat gelora panas atas kesyahidan Imam Husain as yang tidak akan pernah padam hingga hari kiamat.

Menjawab fenomena keabadian tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani menguraikan faktor pertama, yakni iradah atau kehendak Allah swt. Beliau menjelaskan bahwa peristiwa Karbala adalah manifestasi nyata dari kuasa Allah swt yang mampu mewujudkan hal-hal yang di luar nalar manusia. Sebagai analogi, Allah swt berkehendak mencabut sifat panas api sehingga tidak membakar Nabi Ibrahim as, serta menganugerahkan putra bernama Yahya kepada Nabi Zakaria as dan putra kepada Siti Sarah di usia yang sudah sangat senja. Demikian pula dalam tragedi Karbala, ketika Imam Husain as didesak oleh berbagai pihak, baik keluarga maupun sahabat, untuk tidak meninggalkan Madinah, beliau dengan penuh keteguhan menjawab bahwa Allah swt berkehendak melihatnya terbunuh dan keluarganya tertawan. Kepasrahan total pada kehendak ilahi ini memberikan pelajaran berharga tentang kemurnian tauhid, di mana manusia menyadari bahwa segala sesuatu hanya terjadi atas izin-Nya. Penceramah juga menganalogikan konsep iradah ilahiah ini dengan ketahanan Revolusi Islam di Iran, yang secara kalkulasi matematis manusiawi seharusnya hancur akibat boikot, embargo, dan perang selama puluhan tahun, namun tetap langgeng karena adanya campur tangan kehendak Allah swt.

Lebih lanjut, penceramah membedah faktor kedua yang menyokong keabadian peristiwa Karbala, yaitu fondasi amal saleh. Berpegang pada firman Allah swt dalam Surah Maryam, beliau menjelaskan bahwa Allah swt akan menanamkan benih cinta di hati umat manusia terhadap orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Imam Husain as beserta para sahabat setia beliau di Karbala adalah representasi paripurna dari keikhlasan amal saleh tersebut. Untuk mendekatkan pemahaman ini dengan realitas keseharian, Syaikh Mohammad Sharifani mengambil contoh kitab doa Mafatihul Jinan karya Syaikh Abbas Qummi. Dari sekian banyak kitab doa yang ditulis oleh para ulama sepanjang sejarah, kitab tersebut menjadi bacaan wajib di hampir seluruh masjid dan rumah pecinta ahlul bait as karena sang penulis memiliki keikhlasan yang luar biasa, di mana beliau selalu mengamalkan terlebih dahulu setiap doa yang hendak ditulisnya. Ketulusan inilah yang membuat nama dan karyanya dicintai umat, menegaskan bahwa kualitas kesalehan suatu amal jauh lebih penting untuk difokuskan daripada sekadar kuantitasnya.

Sebagai faktor ketiga, Syaikh Mohammad Sharifani menyoroti kedudukan sentral sosok Imam Husain as itu sendiri sebagai seorang imam yang maksum. Di dalam sebuah gerakan atau peristiwa bersejarah, keabadian sangat ditentukan oleh siapa figur yang menjadi porosnya. Apabila sebuah kebangkitan tidak dipimpin oleh sosok manusia agung dan suci, maka gerakan tersebut, sebesar apa pun skalanya di berbagai belahan dunia seperti di Afghanistan, Irak, atau Suriah, niscaya akan layu dan dilupakan zaman. Sebaliknya, ketika sebuah perjuangan berporos pada tokoh-tokoh besar yang memiliki kedudukan spiritual istimewa, gerakan tersebut akan memiliki daya tahan yang melampaui batas waktu, karena kepemimpinan yang berlandaskan kesucian jiwa selalu berhasil mengakar kuat di dalam sanubari para pengikutnya.

Faktor keempat yang menjadikan revolusi Karbala terus hidup adalah saratnya nilai-nilai akhlak dan norma budi pekerti luhur di dalamnya. Syaikh Mohammad Sharifani menerangkan bahwa tidak seperti masalah akidah atau fikih yang kerap memicu perbedaan pandangan, keindahan akhlak memiliki daya tarik universal yang dapat diterima oleh semua kalangan manusia. Secara fitrah, masyarakat akan lebih menaruh rasa hormat kepada seseorang yang jujur meskipun ia memiliki kekurangan dalam ibadah, dibandingkan dengan seseorang yang rajin beribadah namun gemar berdusta. Pemandangan di Karbala mempertontonkan benturan yang sangat kontras antara kubu Imam Husain as yang dipenuhi dengan kemuliaan, keberanian, kesetiaan, serta pengorbanan, melawan kubu Ubaidillah bin Ziyad yang sepenuhnya hampa dari nilai moral. Puncak keindahan akhlak ini diukir dengan tinta emas oleh Abul Fadl Abbas as yang menolak meminum air Sungai Efrat demi kesetiaannya mengingat rasa haus yang mendera Imam Husain as dan anak-anak beliau. Kesetiaan tingkat tinggi juga ditunjukkan oleh Sayidah Zainab as yang sengaja tidak keluar dari kemahnya untuk menyambut jasad kedua putra kandungnya, Aun dan Muhammad, semata-mata agar Imam Husain as tidak merasa bersalah atau malu di hadapannya.

Faktor kelima sekaligus pilar penutup dari pemaparan beliau adalah dimensi emosional yang menyelimuti seluruh rangkaian tragedi Karbala. Syaikh Mohammad Sharifani menganalogikan bahwa tangisan keras seorang anak kecil akan jauh lebih cepat menyita perhatian dan simpati masyarakat ketimbang seseorang yang melakukan ibadah salat sunah tanpa henti hingga subuh. Tragedi Asyura dipenuhi dengan momen-momen yang merobek dan membakar emosi kemanusiaan, mulai dari kepala-kepala suci yang diarak di atas ujung tombak, jeritan kehausan anak-anak kecil dari dalam perkemahan, hingga syahidnya seorang bayi yang lehernya tertembus anak panah. Pemandangan seorang kakek berusia 90 tahun bernama Habib bin Mazahir yang bertempur di medan laga, ketabahan para wanita suci, serta kesaksian Imam Sajjad as yang menyatakan bahwa ayahnya dibunuh dalam keadaan haus yang sangat dahsyat, semuanya merajut sebuah mahakarya duka yang mustahil untuk diabaikan oleh hati nurani manusia mana pun.

Menutup majelis pada malam yang penuh kepiluan tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani menceritakan suasana perkemahan Imam Husain as di malam Asyura. Pada malam tersebut, perkemahan dipenuhi dengan suara munajat dan lantunan ayat suci Al-Qur’an dari lisan para sahabat yang berdengung bagaikan lebah, di bawah penjagaan ketat Abul Fadl Abbas as. Namun, pemandangan yang damai itu berubah menjadi duka nestapa keesokan harinya, tatkala jeritan pilu keluarga ahlul bait as memanggil-manggil nama Rasulullah saw dan Imam Ali as melihat jasad-jasad suci bergelimpangan. Tangan perkasa sang penjaga kemah tertebas, dan pada siang hari Asyura, Imam Husain as harus berdiri sebatang kara memandangi sekelilingnya mencari sahabat-sahabatnya sambil menyerukan panggilan abadi meminta pertolongan.