Skip to main content

Kelas Tafsir Maudhu’i ICC Jakarta yang digelar pada Kamis, 28 Mei 2026, membahas tema tentang harapan, keinginan, dan angan-angan dalam kehidupan manusia bersama Syaikh Mohammad Sharifani. Pada kesempatan tersebut, beliau menjelaskan perbedaan antara harapan yang benar dan angan-angan yang berlebihan, serta dampaknya terhadap kehidupan spiritual dan sosial seseorang.

Mengawali kajian, Syaikh Mohammad Sharifani mengutip hadis dari Imam Shadiq as yang mengingatkan agar manusia menghindari angan-angan yang berlebihan dan tidak realistis. Menurut beliau, harapan yang berada di luar kemampuan diri atau di luar ketentuan yang telah ditetapkan Allah swt hanya akan membawa dampak negatif bagi kehidupan seseorang.

Beliau mencontohkan keinginan yang tidak disertai usaha, kemampuan, ataupun sebab-sebab yang wajar untuk mencapainya. Keinginan semacam itu, menurut beliau, membuat seseorang kehilangan kebahagiaan dan menjauh dari rasa syukur atas nikmat yang telah Allah swt berikan.

Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa ketika seseorang terlalu banyak menginginkan sesuatu yang berada di luar batas kemampuannya, ia akan terus melihat kekurangan dalam hidupnya. Akibatnya, ia tidak lagi mampu mensyukuri berbagai nikmat yang sesungguhnya telah dimiliki. Selain itu, orang tersebut akan merasa rendah diri dan terus membandingkan dirinya dengan keadaan yang belum mampu ia capai.

Beliau menambahkan bahwa angan-angan yang berlebihan juga dapat melahirkan keadaan yang disebut sebagai hasrah, yaitu kesedihan yang terus-menerus karena merasa apa yang dimiliki selalu kurang. Karena itu, Imam Shadiq as mengingatkan agar manusia tidak membiasakan diri hidup dalam harapan-harapan yang melampaui nikmat yang telah Allah swt anugerahkan.

Selanjutnya, Syaikh Mohammad Sharifani mengutip hadis Rasulullah saw yang menyebutkan dua perkara yang paling dikhawatirkan menimpa umat. Pertama adalah mengikuti hawa nafsu, dan kedua adalah panjang angan-angan.

Menurut beliau, seseorang yang mengikuti hawa nafsu akan sulit mencapai kebenaran yang hakiki. Adapun orang yang terlalu tenggelam dalam angan-angan akan melupakan kehidupan akhirat dan semakin takut menghadapi kematian. Karena itu, kedua hal tersebut dipandang sebagai ancaman besar bagi kehidupan spiritual manusia.

Beliau kemudian menyampaikan pandangan Imam Ali as mengenai bahaya angan-angan yang panjang. Angan-angan yang tidak sesuai dengan kemampuan dan hukum sebab-akibat dapat menjerumuskan seseorang ke dalam kesalahan berpikir. Selain itu, angan-angan yang berlebihan juga dapat melahirkan kesombongan, karena seseorang merasa berhak mendapatkan sesuatu yang sebenarnya belum layak ia peroleh.

Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa Islam mengajarkan manusia untuk memiliki cita-cita dan harapan, tetapi harapan tersebut harus dibangun di atas usaha, kemampuan, dan ketentuan yang telah Allah swt tetapkan.

Beliau juga mengutip hadis Rasulullah saw yang menjelaskan faktor-faktor yang membangun dan merusak masyarakat. Menurut hadis tersebut, sebuah masyarakat akan menjadi kuat apabila tidak berlebihan mencintai dunia dan memiliki keyakinan yang kuat terhadap hari kiamat.

Ketika masyarakat tidak berlebihan dalam mencintai dunia, mereka akan terbiasa hidup sederhana dan tidak berlebih-lebihan. Sementara keyakinan terhadap hari akhir akan mendorong mereka untuk lebih taat kepada Allah swt dan lebih bertanggung jawab dalam menjalani kehidupan.

Sebaliknya, hadis tersebut juga menyebutkan dua hal yang dapat merusak tatanan masyarakat, yaitu sifat kikir dan angan-angan yang panjang. Sifat kikir membuat seseorang enggan berbagi dengan mereka yang membutuhkan, sedangkan angan-angan yang berlebihan membuat masyarakat hanya sibuk berkhayal tanpa melakukan tindakan nyata untuk mewujudkan kebaikan dan kemajuan bersama.

Pada bagian berikutnya, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa tidak semua keinginan bersifat negatif. Menurut beliau, Al-Qur’an juga mengajarkan adanya harapan-harapan yang baik dan terpuji.

Beliau mengutip firman Allah swt:

Huwa alladzi khalaqakum min nafsin wahidatin wa ja‘ala minha zawjaha liyaskuna ilaiha

“Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan darinya Dia menciptakan pasangannya agar dia merasa tenteram kepadanya.” (QS. Al-A‘raf [7]: 189)

Beliau menjelaskan bahwa ayat tersebut menggambarkan harapan yang baik dalam kehidupan keluarga, termasuk keinginan memperoleh pasangan yang membawa ketenangan dan harapan memiliki anak yang saleh atau salehah. Menurut beliau, keinginan untuk mendapatkan rumah yang layak, kehidupan yang baik, serta berbagai kebutuhan yang mendukung kehidupan juga termasuk bentuk harapan yang dibenarkan.

Selain itu, beliau menjelaskan bahwa keinginan memperoleh syahadah di jalan Allah swt juga merupakan harapan yang mulia. Dalam kaitan ini, beliau mengutip firman Allah swt:

Wa laqad kuntum tamannawnal mauta min qabli an talqauhu faqad ra’aitumuhu wa antum tanzhurun

“Sungguh, sebelumnya kamu benar-benar mengharapkan kematian (syahid), sebelum kamu menghadapinya. Maka sungguh, sekarang kamu telah melihatnya, sedangkan kamu menyaksikannya.” (QS. Ali Imran [3]: 143)

Menurut beliau, keinginan untuk memperoleh syahadah merupakan harapan yang baik karena berangkat dari kecintaan kepada Allah swt dan perjuangan di jalan-Nya.

Beliau juga menyebut harapan memperoleh syafaat para kekasih Allah sebagai salah satu bentuk harapan yang terpuji. Namun demikian, beliau mengingatkan bahwa harapan tersebut harus dibangun di atas ketaatan dan amal saleh, bukan sekadar angan-angan kosong.

Untuk menjelaskan hal itu, Syaikh Mohammad Sharifani mengutip firman Allah swt mengenai orang-orang yang menyesal pada hari kiamat:

Fahal lana min syufa‘aa’a fayasyfa‘u lana au nuraddu fana‘mala ghairalladzi kunna na‘mal

“Maka adakah bagi kami para pemberi syafaat yang dapat memberi syafaat kepada kami, atau dapatkah kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami dapat beramal tidak seperti yang pernah kami kerjakan dahulu?” (QS. Al-A‘raf [7]: 53)

Beliau menjelaskan bahwa ayat tersebut menggambarkan penyesalan orang-orang yang selama hidupnya mengabaikan petunjuk para rasul. Ketika hari kiamat tiba, mereka berharap dapat kembali ke dunia untuk memperbaiki amal perbuatan mereka. Namun harapan itu tidak lagi mungkin terwujud karena kesempatan telah berakhir.

Menutup kajian, Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan pentingnya membedakan antara harapan yang baik dan angan-angan yang menyesatkan. Harapan yang benar akan mendorong manusia untuk berusaha, bersyukur, dan semakin dekat kepada Allah swt. Sebaliknya, angan-angan yang berlebihan hanya akan melahirkan kesedihan, kesombongan, serta menjauhkan manusia dari kehidupan akhirat. Beliau menyampaikan bahwa pembahasan mengenai bentuk-bentuk keinginan dan harapan yang buruk akan dilanjutkan pada pertemuan berikutnya.