Pembahasan mengenai tema harapan berlanjut dalam Kelas Tafsir Maudhu’i ICC Jakarta pada Kamis, 16 Juli 2026. Syaikh Mohammad Sharifani mengajak peserta kajian memahami bahwa Al-Qur’an membedakan harapan menjadi dua kelompok, yaitu harapan yang baik dan harapan yang buruk. Melalui sejumlah ayat Al-Qur’an, beliau menerangkan bahwa harapan yang baik senantiasa mengantarkan manusia kepada hidayah Allah swt, sedangkan harapan yang buruk berujung pada penyesalan yang tidak lagi berguna.
Pada awal pembahasannya, Syaikh Mohammad Sharifani mengingatkan bahwa pada pertemuan sebelumnya telah dijelaskan mengenai makna harapan atau cita-cita. Menurut beliau, harapan yang baik adalah harapan yang dimiliki oleh para nabi karena seluruh keinginan mereka diarahkan untuk membimbing manusia menuju jalan Allah swt.
Beliau kemudian membacakan firman Allah swt:
Wa mā arsalnā min qablika mir rasūliw wa lā nabiyyin illā iżā tamannā alqasy-syaiṭānu fī umniyyatih, fa yansakhullāhu mā yulqisy-syaiṭān, ṡumma yuḥkimullāhu āyātih, wallāhu ‘alīmun ḥakīm.
“Kami tidak mengutus seorang rasul dan tidak pula seorang nabi sebelum engkau, melainkan apabila dia mempunyai suatu harapan, setan memasukkan godaan terhadap harapan itu. Akan tetapi, Allah menghapus apa yang dimasukkan setan itu, kemudian Allah mengukuhkan ayat-ayat-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS. Al-Hajj [22]: 52)
Dalam penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani mengatakan bahwa seluruh nabi memiliki harapan agar agama Allah swt tegak di muka bumi dan mampu mengantarkan manusia menuju kemuliaan serta petunjuk. Menurut beliau, setan tidak pernah berhenti berusaha menggagalkan harapan tersebut dengan membisikkan berbagai keraguan dan penyimpangan.
Namun, Allah swt tidak membiarkan para nabi berada di bawah pengaruh godaan setan. Beliau menjelaskan bahwa Allah swt menghapus seluruh bisikan dan keraguan yang diarahkan kepada para nabi sehingga mereka tetap mampu menyampaikan wahyu dan hukum-hukum ilahi secara benar kepada umat manusia. Menurut beliau, apabila Allah swt tidak menjaga para nabi dari gangguan tersebut, manusia dapat menerima ajaran yang keliru. Akan tetapi, kemaksuman para nabi merupakan jaminan bahwa risalah Allah swt tersampaikan tanpa penyimpangan.
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian mengangkat kisah Nabi Luth as sebagai contoh lain mengenai harapan yang baik.
Beliau membacakan firman Allah swt ketika Nabi Luth as menghadapi kaumnya yang telah lama melakukan perbuatan keji.
Wa jā’ahu qaumuhū yuhra’ūna ilaih, wa min qablu kānū ya’malūnas sayyi’āt. Qāla yā qaumi hā’ulā’i banātī hunna aṭharu lakum, fattaqullāha wa lā tukhzūni fī ḍaifī, alaisa minkum rajulur rasyīd.
“Kaumnya datang kepadanya dengan tergesa-gesa. Sejak dahulu mereka memang selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Dia (Luth) berkata, ‘Wahai kaumku, inilah putri-putriku. Mereka lebih suci bagimu. Bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mempermalukan aku terhadap tamuku. Tidakkah ada di antaramu seorang laki-laki yang berakal?'” (QS. Hud [11]: 78)
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, ayat tersebut menunjukkan betapa besar keinginan Nabi Luth as untuk menyelamatkan masyarakatnya dari penyimpangan moral. Beliau menjelaskan bahwa Nabi Luth as rela menawarkan putri-putrinya untuk dinikahi secara sah demi menghindarkan kaumnya dari perbuatan sesama jenis yang diharamkan Allah swt. Sikap tersebut, menurut beliau, menunjukkan besarnya pengorbanan seorang nabi dalam membimbing umat menuju jalan yang benar.
Beliau menambahkan bahwa Nabi Luth as juga berharap kaumnya memiliki rasa takwa kepada Allah swt dan tidak mempermalukan beliau di hadapan para tamunya. Nabi Luth as bahkan berharap masih ada seorang laki-laki yang berakal dan mampu mencegah masyarakat melakukan kemungkaran.
Harapan mulia Nabi Luth as juga tergambar dalam firman Allah swt:
Qāla lau anna lī bikum quwwatan aw āwī ilā ruknin syadīd.
“Dia (Luth) berkata, ‘Seandainya aku mempunyai kekuatan untuk menghadapi kamu atau dapat berlindung kepada kekuatan yang sangat kokoh.'” (QS. Hud [11]: 80)
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa ucapan tersebut bukan menunjukkan kelemahan Nabi Luth as, melainkan besarnya keinginan beliau untuk menghentikan kemungkaran yang dilakukan kaumnya. Dalam sejumlah riwayat, lanjut beliau, disebutkan bahwa Nabi Luth as juga memohon kepada Allah swt agar menghadirkan Imam Mahdi af untuk menegakkan keadilan dan menghapus berbagai kerusakan di muka bumi. Menurut beliau, doa tersebut mencerminkan harapan seorang nabi terhadap terwujudnya masyarakat yang dipenuhi keadilan ilahi.
Setelah menjelaskan harapan para nabi, Syaikh Mohammad Sharifani beralih kepada harapan yang dimiliki para mujahid dan orang-orang yang berjuang di jalan Allah swt.
Beliau membacakan firman Allah swt:
Wa laqad kuntum tamannaunal mauta min qabli an talqauh, faqad ra’aitumūhu wa antum tanẓurūn.
“Sungguh, dahulu kamu benar-benar mengharapkan kematian (syahid) sebelum menghadapinya. Kini kamu benar-benar telah melihatnya, sedangkan kamu menyaksikannya sendiri.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 143)
Dalam penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani mengatakan bahwa orang-orang yang berjihad dengan ikhlas tidak mengharapkan kematian karena putus asa, melainkan berharap memperoleh derajat syahid ketika mempertahankan agama Allah swt. Harapan tersebut lahir dari keyakinan bahwa syahid merupakan kemuliaan yang Allah swt anugerahkan kepada hamba-hamba pilihan-Nya.
Sebagai contoh, beliau mengisahkan doa yang pernah dipanjatkan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei ketika memandikan jenazah Syahid Ibrahim Raisi. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, pada saat itu beliau memohon kepada Allah swt agar dianugerahi kesyahidan. Beliau kemudian menyampaikan bahwa doa tersebut akhirnya dikabulkan oleh Allah swt sehingga menjadi salah satu teladan tentang harapan seorang mukmin yang sepenuhnya dipersembahkan di jalan Allah swt.
Menutup bagian pertama kajian, Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa harapan para nabi maupun para mujahid selalu berorientasi kepada keselamatan manusia, tegaknya agama Allah swt, dan terwujudnya masyarakat yang hidup di bawah petunjuk-Nya. Menurut beliau, itulah contoh harapan yang patut dimiliki setiap mukmin dalam menjalani kehidupan.
Pembahasan kemudian beralih kepada harapan-harapan yang buruk, yakni keinginan yang lahir dari kekufuran, kemusyrikan, dan kemunafikan. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa harapan seperti ini pada akhirnya hanya melahirkan penyesalan karena muncul ketika kesempatan untuk bertobat telah berakhir.
Contoh pertama yang beliau sampaikan adalah harapan orang-orang kafir pada hari kiamat. Ketika seluruh amal mereka diperlihatkan di hadapan Allah swt dan tidak ada lagi satu pun perbuatan yang dapat disembunyikan, mereka berharap seandainya dahulu tidak pernah diciptakan atau tidak pernah hidup di dunia.
Beliau kemudian membacakan firman Allah swt:
Yauma’iżiy yawaddullażīna kafarū wa ‘aṣawur rasūla lau tusawwā bihimul arḍ, wa lā yaktumūnallāha ḥadīṡā.
“Pada hari itu orang-orang yang kafir dan mendurhakai Rasul berharap sekiranya mereka disamakan dengan tanah. Mereka tidak dapat menyembunyikan suatu kejadian pun dari Allah.” (QS. An-Nisa’ [4]: 42)
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa keinginan tersebut muncul setelah mereka menyaksikan seluruh dosa dan kezaliman yang pernah dilakukan selama hidup di dunia. Menurut beliau, mereka berharap tidak pernah diciptakan menjadi manusia atau menjadi tanah saja agar tidak perlu menghadapi hisab dan azab Allah swt. Namun, harapan itu tidak lagi mungkin terwujud karena kehidupan dunia telah berakhir dan pintu amal telah tertutup.
Beliau menegaskan bahwa keadaan tersebut menjadi pelajaran bagi setiap mukmin agar tidak menunda tobat. Selama masih hidup, manusia memiliki kesempatan memperbaiki diri. Akan tetapi, ketika hari pembalasan telah tiba, tidak ada lagi kesempatan untuk kembali ke dunia.
Selanjutnya, Syaikh Mohammad Sharifani mengulas harapan orang-orang musyrik sebagaimana digambarkan dalam Surah Al-Baqarah. Beliau menjelaskan bahwa pada hari kiamat akan terjadi saling menyalahkan antara para pemimpin kesesatan dan para pengikut mereka.
Beliau membacakan firman Allah swt:
Iż tabarra’allażīnattubi’ū minallażīnattaba’ū wa ra’awul ‘ażāba wa taqaṭṭa’at bihimul asbāb.
“Ketika orang-orang yang diikuti berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, mereka melihat azab, dan putuslah segala hubungan di antara mereka.” (QS. Al-Baqarah [2]: 166)
Dalam penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani memberikan ilustrasi tentang seorang pemimpin zalim yang selama hidupnya mengajak banyak orang mengikuti jalan kebatilan. Ketika azab Allah swt datang, para pengikutnya menyalahkan pemimpin tersebut karena telah menyesatkan mereka. Sebaliknya, pemimpin itu pun berlepas diri dan menyatakan bahwa para pengikutnya sendiri yang memilih untuk mengikutinya.
Beliau kemudian melanjutkan ayat berikutnya:
Wa qālallażīnattaba’ū lau anna lanā karratan fanatabarra’a minhum kamā tabarra’ū minnā.
“Orang-orang yang mengikuti berkata, ‘Seandainya kami dapat kembali ke dunia, tentu kami akan berlepas diri dari mereka sebagaimana mereka kini berlepas diri dari kami.'” (QS. Al-Baqarah [2]: 167)
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa penyesalan tersebut sama sekali tidak bermanfaat. Menurut beliau, seluruh sebab yang dahulu menghubungkan mereka telah terputus dan tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.
Beliau kemudian membacakan penutup ayat tersebut:
Yuṛīhimullāhu a’mālahum ḥasarātin ‘alaihim, wa mā hum bikhārijīna minan nār.
“Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal-amal mereka menjadi penyesalan bagi mereka. Mereka tidak akan pernah keluar dari neraka.” (QS. Al-Baqarah [2]: 167)
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, ayat tersebut menunjukkan bahwa saling menyalahkan tidak akan mengurangi azab sedikit pun. Baik pemimpin kesesatan maupun para pengikutnya sama-sama memikul tanggung jawab atas pilihan yang mereka ambil selama hidup di dunia.
Pembahasan berikutnya mengulas harapan orang-orang munafik. Beliau menjelaskan bahwa salah satu ciri utama kemunafikan ialah keinginan agar orang-orang beriman meninggalkan keimanannya dan menjadi sama seperti mereka.
Syaikh Mohammad Sharifani membacakan firman Allah swt:
Waddū lau takfurūna kamā kafarū fatakūnūna sawā’an.
“Mereka ingin agar kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah kafir sehingga kamu menjadi sama dengan mereka.” (QS. An-Nisa’ [4]: 89)
Beliau menjelaskan bahwa orang-orang munafik tidak merasa cukup dengan kesesatan yang mereka pilih. Mereka justru berharap orang-orang beriman ikut meninggalkan jalan Allah swt sehingga tidak ada lagi perbedaan antara orang beriman dan orang munafik.
Karena itu, Allah swt memperingatkan kaum mukmin agar tidak menjadikan mereka sebagai pemimpin ataupun penolong sebelum mereka benar-benar kembali kepada jalan Allah swt.
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, prinsip tersebut tetap relevan dalam kehidupan saat ini. Beliau mencontohkan bahwa seorang pemimpin yang terbiasa melakukan kezaliman pada hakikatnya ingin agar masyarakat mengikuti perilakunya. Semakin banyak orang melakukan keburukan yang sama, semakin mudah baginya menganggap kezaliman sebagai sesuatu yang biasa.
Sebagai ilustrasi, beliau menyinggung tindakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, berbagai bentuk pembunuhan, perampasan hak, dan kezaliman yang dilakukan terhadap rakyat Palestina menunjukkan karakter seorang pemimpin yang mengajak manusia kepada jalan kebatilan. Karena itu, beliau mengingatkan agar umat Islam tidak menjadikan orang-orang yang menentang nilai-nilai ilahi sebagai panutan dalam kehidupan.
Mengakhiri kajian, Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa Al-Qur’an memperlihatkan dua jalan yang sangat berbeda. Harapan para nabi, orang-orang saleh, dan para mujahid selalu mengarah kepada hidayah, keselamatan, dan keridaan Allah swt. Sebaliknya, harapan orang-orang kafir, musyrik, dan munafik hanya berujung pada penyesalan ketika seluruh kesempatan telah berlalu. Oleh sebab itu, beliau mengajak seluruh peserta kajian agar senantiasa memelihara cita-cita yang dibangun di atas iman sehingga seluruh harapan yang dimiliki menjadi jalan menuju rahmat Allah swt.



