Skip to main content

Dalam peringatan Idul Ghadir dan haul Imam Khomeini yang diselenggarakan di Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta pada Rabu, 3 Juni 2026, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan tiga poin utama mengenai kemuliaan manusia dengan meneladani sosok Imam Khomeini dan Imam Ali Khamenei. Menurut beliau, kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh harta maupun kedudukan yang dimilikinya, melainkan oleh sifat-sifat luhur, karakter mulia, serta perjuangan yang dijalani sepanjang hidupnya.

Pada awal pemaparannya, Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa abad modern telah menyaksikan dua tokoh besar yang menampilkan berbagai keutamaan akhlak dan pengorbanan dalam hidup mereka, yaitu Imam Khomeini dan Imam Ali Khamenei. Kedua tokoh tersebut, menurut beliau, merupakan teladan yang menunjukkan bagaimana kemuliaan manusia dibangun melalui nilai-nilai spiritual dan perjuangan, bukan melalui kekuasaan ataupun kekayaan.

Salah satu sifat mulia yang dibahas oleh Syaikh Mohammad Sharifani adalah keberanian. Beliau menjelaskan bahwa keberanian merupakan sifat yang sangat luhur, sedangkan lawannya, yaitu rasa takut yang berlebihan, merupakan sifat yang tidak pantas dipelihara oleh seorang mukmin.

Menurut beliau, hampir setiap manusia memiliki rasa takut terhadap kematian, baik orang biasa maupun para tokoh besar. Bahkan sebagian ulama pun, kata beliau, pernah mengakui adanya rasa takut terhadap kematian. Dalam kesempatan tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani mengutip kisah yang dinisbatkan kepada Ayatullah Syaikh Bahjat yang menceritakan seorang ulama besar pernah berdoa agar Allah meringankan sakaratul mautnya dan mewafatkannya dalam keadaan tidur. Doa tersebut, menurut riwayat yang beliau sampaikan, dikabulkan oleh Allah SWT.

Namun demikian, Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa pada diri Imam Khomeini dan Imam Ali Khamenei terlihat sikap yang berbeda. Menurut beliau, kedua pemimpin tersebut berkali-kali menyatakan tidak memiliki ketakutan terhadap kematian. Bahkan Imam Khomeini pernah menggambarkan kematian sebagai sesuatu yang dirindukan, sebagaimana seorang anak merindukan pelukan ibunya.

Beliau menjelaskan bahwa keberanian tersebut merupakan warisan spiritual dari Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib as, yang sepanjang hidupnya dikenal sebagai simbol keberanian, keteguhan, dan pengorbanan di jalan Allah SWT.

Poin kedua yang disampaikan Syaikh Mohammad Sharifani adalah pentingnya menjadi pribadi yang dicintai oleh banyak orang. Beliau mengutip ajaran Imam Ali Zainal Abidin as yang menunjukkan bahwa salah satu bentuk kemuliaan seseorang adalah ketika dirinya memperoleh tempat di hati masyarakat dan dicintai oleh banyak orang karena akhlak serta pengabdiannya.

Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, sifat tersebut tampak jelas pada diri Imam Khomeini dan Imam Ali Khamenei. Beliau menjelaskan bahwa ketika Imam Khomeini kembali ke Iran setelah masa pengasingan, jutaan rakyat menyambut kedatangannya. Demikian pula ketika beliau wafat, jutaan orang turut mengantarkan jenazahnya sebagai bentuk kecintaan dan penghormatan.

Syaikh Mohammad Sharifani juga menyebut bahwa Imam Ali Khamenei memperoleh kecintaan yang sangat besar dari masyarakat. Menurut beliau, banyak orang yang menyatakan kesediaannya untuk berkorban demi pemimpin tersebut. Fenomena itu, menurut beliau, menunjukkan adanya ikatan emosional dan kecintaan yang mendalam antara seorang pemimpin dengan rakyatnya.

Poin ketiga yang menjadi fokus pemaparan Syaikh Mohammad Sharifani adalah sikap zuhud dan ketidakbergantungan kepada dunia. Beliau menjelaskan bahwa salah satu tanda kemuliaan seorang manusia adalah kemampuannya melepaskan diri dari ketergantungan terhadap kenikmatan duniawi dan menjalani kehidupan secara sederhana.

Menurut beliau, kehidupan Imam Khomeini merupakan contoh nyata dari sikap tersebut. Meskipun memimpin sebuah negara selama bertahun-tahun, Imam Khomeini tetap hidup dalam kesederhanaan dan tidak menjadikan kekuasaan sebagai sarana untuk mengumpulkan kemewahan dunia. Rumah, perabotan, dan fasilitas yang digunakan beliau tetap sederhana hingga akhir hayatnya.

Syaikh Mohammad Sharifani menambahkan bahwa Imam Ali Khamenei juga menunjukkan pola kehidupan yang serupa. Meskipun memegang posisi tertinggi dalam pemerintahan selama puluhan tahun, beliau tetap menjalani kehidupan yang sederhana dan jauh dari kemewahan yang lazim dinikmati oleh para pemimpin dunia.

Beliau kemudian mengaitkan sikap tersebut dengan keteladanan Imam Ali bin Abi Thalib as. Dalam berbagai riwayat, Imam Ali as dikenal sebagai sosok yang memandang dunia sebagai sesuatu yang tidak layak dijadikan tujuan utama kehidupan. Syaikh Mohammad Sharifani mengingatkan ungkapan Imam Ali as yang menyatakan bahwa dunia tidak memiliki nilai yang berarti di hadapan dirinya dan bahwa beliau telah menceraikan dunia sebanyak tiga kali, sebagai simbol ketidakbergantungan terhadap kenikmatan duniawi.

Menutup pemaparannya, Syaikh Mohammad Sharifani mengajak para hadirin untuk meneladani nilai-nilai yang diwariskan oleh Imam Khomeini dan Imam Ali Khamenei, khususnya keberanian, kecintaan masyarakat yang lahir dari akhlak mulia, serta kehidupan yang sederhana dan zuhud. Beliau juga memanjatkan doa agar Allah SWT menempatkan Imam Khomeini dan Imam Ali Khamenei pada kedudukan yang mulia serta melimpahkan kebahagiaan dan rahmat-Nya kepada kedua tokoh tersebut.