ICC Jakarta menggelar majelis aza Imam Husain as pada malam kedua, Rabu, 17 Juni 2026. Dalam kesempatan itu, Ustaz Abdullah Hinduan menyampaikan bahwa manusia hidup di zaman ketika ilmu pengetahuan dan teknologi mencapai puncak kemajuan, tetapi kemajuan tersebut akan menjadi sebab terpuruknya umat manusia ke dalam penyakit ruhani apabila tidak ditopang oleh landasan teologis dan metafisik yang bersumber dari wahyu. Beliau mengawali dengan mengingatkan firman Allah swt tentang hakikat manusia:
Innal-insāna khuliqa halū‘ā
“Sesungguhnya manusia diciptakan dengan sifat keluh kesah lagi kikir.” (QS. Al-Ma‘ārij [70]: 19)
Idzā massahusy-syarru jazū‘ā
“Apabila ditimpa keburukan (kesusahan), ia berkeluh kesah.” (QS. Al-Ma‘ārij [70]: 20)
Wa idzā massahul-khairu manū‘ā
“Apabila mendapat kebaikan (harta), ia amat kikir.” (QS. Al-Ma‘ārij [70]: 21)
Illal-mushallīn
“Kecuali orang-orang yang mengerjakan salat.” (QS. Al-Ma‘ārij [70]: 22)
Alladzīna hum ‘alā shalātihim dā’imūn
“Yaitu orang-orang yang selalu setia mengerjakan salatnya.” (QS. Al-Ma‘ārij [70]: 23)
Beliau menjelaskan bahwa ketika seorang hamba terhubung dengan Allah swt, kekosongan ruhani akan terisi oleh cahaya ilahi. Dalam pandangan Ustaz Abdullah Hinduan, salah satu obat utama manusia dari kegelisahan adalah apa yang diajarkan Imam Husain as melalui munajatnya: Mādhā wajada man faqadak, wa mādhā faqada man wajadak, yang bermakna, “Apa yang didapat oleh orang yang kehilangan-Mu, dan apa yang hilang dari orang yang menemukan-Mu?” Menurut beliau, orang yang mencari pengganti selain Allah swt sesungguhnya adalah orang yang merugi, sementara mereka yang meninggalkan Allah swt akan menghadapi kesengsaraan paling besar. Karena itu, beliau menegaskan bahwa keterpisahan dari Allah swt merupakan azab utama dan penyakit paling berat yang diderita umat manusia.
Dari sana, Ustaz Abdullah Hinduan menegaskan bahwa solusi atas krisis moral dan krisis mental di tengah kemajuan teknologi adalah memperbaiki hubungan dengan Allah swt. Praktik itu, menurut beliau, terlihat nyata dalam madrasah Karbala. Para ulama menyebut Karbala sebagai madrasah yang mengajarkan manusia hidup bermakna di tengah penderitaan, meraih kehormatan, dan memenangkan kehidupan abadi dengan pengorbanan sejati. Beliau kemudian mengajak hadirin merenungi madrasah Karbala melalui pandangan Imam Khomeini, yang menjelaskan bahwa Imam Husain as telah berhasil mendirikan sekolah jihad dan syahadah. Dalam pandangan beliau, setelah materialisme merasuk, sekolah Karbala justru semakin dibutuhkan. Beliau juga mengingatkan bahwa Imam Khomeini, yang mendirikan Republik Islam Iran dan meruntuhkan tirani, menegaskan bahwa gerakan beliau bersumber dari madrasah Karbala. Imam Khomeini bahkan mengatakan, “Jagalah Muharram dan Safar karena kejayaan Republik Islam Iran terbangun dari madrasah Karbala.”
Beliau lalu menyoroti bahwa Barat yang maju dalam perkembangan teknologi justru kehilangan arah hidup karena menjadikan manusia semata-mata sebagai makhluk materi. Padahal, menurut beliau, jasmani dan rohani sama-sama memerlukan santapan. Kemajuan medis, sekalipun sangat tinggi, tidak akan mampu mengatasi persoalan ruhani seseorang jika manusia tidak kembali kepada madrasah Karbala yang mengajarkan pengorbanan di jalan Allah swt. Ustaz Abdullah Hinduan menambahkan bahwa Imam Ali Khamenei menegaskan madrasah Karbala terbuka bagi seluruh umat manusia di setiap zaman. Madrasah Karbala, menurut beliau, bukan hanya mengajarkan syahadah, tetapi juga mengajarkan kehidupan yang cemerlang di dunia dan di akhirat. Karena itu, kesedihan Husaini bukanlah kesedihan yang melumpuhkan, melainkan kesedihan yang membangkitkan semangat perlawanan. Karbala, menurut beliau, mengajarkan manusia untuk melawan hawa nafsu dan juga musuh di luar diri. Beliau juga mengutip penjelasan Imam Mojtaba Khamenei bahwa manusia modern sedang terjangkit penyakit akut berupa nihilisme, yaitu kehidupan tanpa makna, dan Karbala adalah obat bagi nihilisme karena mampu memberi makna bahkan di puncak penderitaan.
Dalam penjelasannya, beliau menyebut bahwa kesedihan para pecinta Imam Husain as di seluruh dunia menjadi sarana untuk membangun keterikatan emosional lintas generasi dan menegaskan komitmen terhadap nilai. Ustaz Abdullah Hinduan kemudian menyinggung filosofi perjuangan Imam Husain as yang menyatakan bahwa beliau keluar untuk memperbaiki umat kakeknya, menegakkan amar makruf dan nahi munkar, serta mengembalikan sirah Rasulullah saw dan Ali bin Abi Thalib as. Menurut beliau, Imam Husain as memiliki tujuan transenden, yakni islah umat Nabi Muhammad saw, dan tidak mencari kekuasaan ataupun popularitas. Beliau menekankan bahwa ketika gerak manusia sesuai dengan kehendak Allah swt, gerakan itu akan abadi sebagaimana gerakan Imam Husain as. Dari situ, beliau menegaskan bahwa mengenal tujuan hidup adalah obat paling ampuh untuk mengatasi kegelisahan manusia modern yang serba materialistis dan terjebak dalam nihilisme.
Ustaz Abdullah Hinduan kemudian menguraikan tiga pelajaran besar dari madrasah Karbala. Pelajaran pertama adalah transformasi diri. Menurut beliau, ketika Al-Hurr mengetahui tujuan revolusi Imam Husain as, ia menyatakan tekadnya untuk memilih surga dan tidak memilih neraka, sekalipun harus dipotong dan dibakar. Beliau menjelaskan bahwa madrasah Karbala mengajarkan manusia untuk menjadi merdeka dan tidak diperbudak oleh kepentingan materi semata. Al-Hurr al-Riyahi, yang semula berada di barisan Yazid dan ikut mengepung kafilah Imam Husain as, berpaling dari pasukan itu dan bergabung dengan kafilah suci Imam Husain as. Dari kisah itu, beliau menegaskan bahwa kesalahan masa lalu bukanlah penghalang bagi manusia untuk kembali kepada kebenaran. Taubat, menurut beliau, memerlukan keberanian, dan keputusan Al-Hurr untuk bertaubat serta bergabung dengan Imam Husain as bukanlah keputusan sederhana, melainkan hasil keikhlasan yang tumbuh setelah dialog dengan Imam Husain as.
Pelajaran kedua adalah peran Sayidah Zainab sa dalam menghadapi tragedi Karbala. Ustaz Abdullah Hinduan menjelaskan bahwa Sayidah Zainab sa, sebagai seorang wanita yang ditimpa musibah sangat besar, mengajarkan ketahanan pascatrauma. Beliau mengingatkan bagaimana Sayidah Zainab sa berdiri di hadapan Yazid dan menegaskan dengan tegas bahwa apakah Yazid mengira keluarga Rasulullah saw hina di sisi Allah swt sementara Yazid mulia. Beliau juga menyinggung jawaban Sayidah Zainab sa atas cibiran Yazid mengenai nasib Imam Husain as, ketika beliau berkata bahwa dirinya tidak pernah menyaksikan apa yang diperbuat Allah swt kecuali keindahan semata. Menurut Ustaz Abdullah Hinduan, keteguhan Sayidah Zainab sa memberikan pelajaran kepada umat untuk mengambil hikmah dari setiap kejadian.
Pelajaran ketiga adalah bahwa pengkajian lebih dalam terhadap madrasah Karbala akan menghidupkan pesan abadi bahwa setiap hari adalah Asyura dan setiap tempat adalah Karbala. Ustaz Abdullah Hinduan menegaskan bahwa dari Karbala umat memperoleh semangat untuk melawan kezaliman di luar diri dan juga hawa nafsu di dalam diri. Dengan demikian, menurut beliau, madrasah Karbala bukan sekadar kenangan sejarah, melainkan sumber hidup yang membentuk makna, keteguhan, dan keberanian umat dalam menghadapi zaman.



