Kelas Tafsir Maudhu’i ICC Jakarta yang digelar pada Kamis, 23 Juli 2026, menghadirkan Syaikh Mohammad Sharifani yang mengangkat tema tentang tadaruk, yaitu sikap merendahkan diri dan mengakui kelemahan di hadapan Allah swt. Dalam kajian tersebut, beliau menjelaskan bahwa tadaruk merupakan salah satu akhlak terpenting yang harus dimiliki seorang mukmin karena menjadi pintu untuk mendekat kepada Allah swt serta membersihkan jiwa dari kesombongan.
Syaikh Mohammad Sharifani mengawali pembahasannya dengan menerangkan bahwa secara bahasa tadaruk bermakna menunjukkan kelemahan dan mengakui bahwa manusia tidak memiliki apa pun di hadapan Allah swt. Seorang hamba hendaknya menyadari seluruh kekurangan yang dimilikinya sehingga tidak pernah merasa mampu berdiri sendiri tanpa pertolongan Allah swt. Adapun secara istilah, tadaruk merupakan keadaan ketika seseorang yang tertimpa musibah, kesulitan, atau berbagai persoalan kehidupan secara fitrah mencari pertolongan kepada Dzat yang paling layak dimintai bantuan, yakni Allah swt. Namun, menurut beliau, tidak sedikit manusia yang justru lupa memohon kepada Allah swt ketika ujian datang menghampiri.
Untuk menjelaskan hal tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani mengutip firman Allah swt dalam Surah Al-An’am ayat 42–43.
Wa laqad arsalnā ilā umamim min qablika fa akhażnāhum bil-ba’sā’i waḍ-ḍarrā’i la’allahum yataḍarra’ūn. Fa law lā iż jā’ahum ba’sunā taḍarra’ū wa lākin qasat qulūbuhum wa zayyana lahumusy-syaiṭānu mā kānū ya’malūn.
“Sungguh, Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat sebelum engkau. Lalu Kami timpakan kepada mereka kesengsaraan dan penderitaan agar mereka merendahkan diri. Mengapa ketika azab Kami datang kepada mereka, mereka tidak merendahkan diri? Akan tetapi hati mereka telah menjadi keras dan setan menjadikan terasa indah bagi mereka apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am [6]: 42–43)
Beliau menjelaskan bahwa kesulitan, kemiskinan, peperangan, pertumpahan darah, maupun berbagai musibah yang Allah swt berikan kepada umat-umat terdahulu bukanlah semata-mata hukuman, melainkan sarana agar mereka kembali menyadari kelemahannya dan memohon pertolongan kepada Allah swt. Kesulitan seharusnya menjadi jalan untuk memperkuat hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.
Namun, ayat tersebut juga menggambarkan kenyataan yang berbeda. Ketika musibah datang, sebagian umat justru tidak melakukan tadaruk. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, penyebab utamanya adalah hati mereka telah mengeras sehingga tidak lagi mampu merasakan kebutuhan kepada Allah swt. Kekerasan hati itu muncul karena setan menghiasi berbagai dosa sehingga manusia memandang kemaksiatan sebagai sesuatu yang indah dan menyenangkan. Ketika dosa telah terasa nikmat, hati perlahan kehilangan kelembutannya dan seseorang tidak lagi terdorong untuk berdoa ataupun memohon kepada Allah swt.
Beliau kemudian menerangkan bahwa keadaan tersebut merupakan sunnatullah yang terus berulang sepanjang sejarah. Setiap kali Allah swt mengutus seorang nabi kepada suatu kaum, kaum tersebut lebih dahulu diuji dengan berbagai kesulitan agar mereka menyadari kelemahan dirinya. Peperangan, kesempitan hidup, dan berbagai ujian menjadi sarana yang mengantarkan manusia kembali kepada para nabi serta menguatkan hubungan mereka dengan Allah swt. Setelah mereka kembali kepada-Nya dan memohon dengan penuh kerendahan hati, Allah swt mengganti keadaan yang sulit dengan ketenangan, keluasan rezeki, dan berbagai kenikmatan.
Meski demikian, Syaikh Mohammad Sharifani mengingatkan bahwa banyak umat terdahulu gagal memahami pola tersebut. Ketika keadaan telah kembali baik, mereka menganggap semua kenikmatan itu sebagai sesuatu yang biasa sehingga kembali lalai dari Allah swt. Akibatnya, nikmat yang telah diberikan dicabut kembali karena mereka tidak menjadikannya sebagai sarana untuk semakin mendekat kepada-Nya. Menurut beliau, inilah pelajaran penting yang harus direnungkan oleh setiap mukmin agar tidak mengulangi kesalahan umat-umat terdahulu.
Syaikh Mohammad Sharifani selanjutnya mengutip kandungan Surah Al-Mu’minun ayat 64–66 yang menjelaskan bahwa orang-orang yang keras hati dan enggan kembali kepada Allah swt pada akhirnya akan menghadapi azab yang pedih. Mereka telah menyaksikan ayat-ayat Allah swt, tetapi tetap mengikuti jalan nenek moyang yang keliru dan menolak mengambil pelajaran darinya. Sikap itulah yang menyebabkan mereka tidak memperoleh pertolongan ketika menghadapi kehidupan akhirat.
Beliau juga mengingatkan bahwa kebiasaan manusia sering kali baru mengingat Allah swt ketika ditimpa kesulitan. Padahal Allah swt telah menegaskan bahwa seluruh nikmat berasal dari-Nya.
Wa mā bikum min ni’matin fa minallāh, ṡumma iżā massakumuḍ-ḍurru fa ilaihi taj’arūn.
“Segala nikmat yang ada pada kamu berasal dari Allah. Kemudian apabila kamu ditimpa kemudaratan, kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.” (QS. An-Nahl [16]: 53)
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, ayat tersebut mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak boleh hanya datang kepada Allah swt ketika mengalami kesulitan. Hubungan dengan Allah swt harus dibangun dalam setiap keadaan, baik ketika memperoleh kelapangan maupun saat menghadapi ujian. Seorang hamba yang benar-benar mengenal Tuhannya akan senantiasa berdoa, bersyukur, dan merendahkan diri tanpa menunggu datangnya musibah.
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian mengajak jamaah menelaah sejumlah riwayat yang menjelaskan bagaimana tadaruk mampu membersihkan jiwa manusia. Beliau mengawali dengan sebuah hadis dari Imam Ja’far Shadiq as yang meriwayatkan sabda Rasulullah saw mengenai pentingnya bersiwak. Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa bersiwak merupakan sunah yang sangat dianjurkan karena membawa keridaan Allah swt serta memiliki banyak manfaat bagi kesehatan lahir maupun kebersihan batin seseorang. Bersiwak menghilangkan kotoran yang melekat pada gigi sehingga menjaga kebersihan mulut dan kesehatan tubuh.
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, Rasulullah saw kemudian memberikan sebuah perumpamaan yang sangat indah. Sebagaimana siwak membersihkan kotoran yang tampak pada gigi, demikian pula tadaruk, doa yang dipanjatkan dengan penuh kerendahan hati, salat tahajud, serta istigfar pada waktu sahur akan membersihkan kotoran-kotoran batin yang berasal dari dosa. Beliau menjelaskan bahwa dosa-dosa meninggalkan bekas pada ruh manusia sebagaimana makanan meninggalkan kotoran pada gigi. Jika kotoran lahir dibersihkan dengan siwak, maka najis batin dibersihkan melalui munajat kepada Allah swt yang disertai ketundukan dan kekhusyukan. Dengan cara itulah hati menjadi bersih kembali dan perlahan terbebas dari berbagai penyimpangan yang tidak disadari oleh manusia.
Beliau menegaskan bahwa kerendahan hati dalam berdoa bukan sekadar amalan lisan, melainkan proses penyucian jiwa. Semakin seseorang menyadari kelemahannya di hadapan Allah swt, semakin mudah baginya membersihkan hati dari berbagai penyakit rohani yang selama ini menghalangi kedekatannya dengan Sang Pencipta.
Syaikh Mohammad Sharifani selanjutnya menerangkan bahwa salah satu ibadah yang paling efektif untuk menumbuhkan tadaruk adalah puasa. Beliau mengutip sebuah hadis qudsi yang menyatakan bahwa Allah swt sendiri akan memberikan ganjaran bagi orang yang berpuasa.
“Puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberikan balasannya.”
Beliau menjelaskan bahwa puasa memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pembinaan jiwa. Ibadah tersebut mematikan hawa nafsu, melemahkan syahwat, menghidupkan hati, sekaligus menyucikan lahir dan batin manusia. Selain itu, puasa juga menumbuhkan rasa syukur atas nikmat Allah swt, mendorong seseorang lebih mudah berbuat baik kepada kaum fakir, serta mempererat hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, salah satu buah terpenting dari puasa adalah lahirnya sifat tadaruk. Orang yang berpuasa akan lebih mudah merasakan kekhusyukan dalam ibadah, lebih mudah menangis karena takut kepada Allah swt, dan lebih mudah bermunajat dengan penuh ketulusan. Puasa juga mematahkan dominasi hawa nafsu sehingga manusia semakin ringan menjalani hisab pada hari kiamat. Beliau menegaskan bahwa orang yang ingin memiliki hati yang lembut hendaknya memperbanyak puasa, baik puasa wajib maupun puasa sunah, karena ibadah tersebut melatih manusia menyadari kelemahan dirinya di hadapan Allah swt.
Setelah menjelaskan hubungan antara puasa dan tadaruk, Syaikh Mohammad Sharifani mengutip sebuah riwayat Imam Ja’far Shadiq as mengenai akhlak para nabi. Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa Allah swt mengkhususkan para rasul dengan akhlak-akhlak mulia, kemudian memerintahkan manusia untuk menguji dirinya. Apabila sifat-sifat tersebut telah ada dalam dirinya, hendaknya ia bersyukur kepada Allah swt karena itu merupakan karunia yang sangat besar. Sebaliknya, jika sifat-sifat tersebut belum dimiliki, seseorang harus memohon kepada Allah swt dengan sungguh-sungguh agar diberi taufik untuk menghias dirinya dengan akhlak para nabi.
Beliau kemudian menguraikan satu per satu sifat yang disebutkan dalam hadis tersebut. Sifat pertama adalah keyakinan yang kokoh kepada Allah swt. Kedua ialah merasa cukup terhadap rezeki yang Allah swt berikan. Ketiga adalah sabar dalam menghadapi berbagai keadaan, sedangkan yang keempat ialah syukur atas seluruh nikmat-Nya. Berikutnya adalah kelembutan dalam bersikap, diikuti akhlak yang baik kepada sesama manusia. Selanjutnya terdapat sifat dermawan, yaitu mudah menginfakkan harta di jalan Allah swt. Sifat berikutnya adalah menjaga kehormatan dan kesucian keluarga. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, seorang suami hendaknya menjaga kehormatan istrinya dan tidak mempertontonkan sesuatu yang semestinya dijaga kepada khalayak. Setelah itu terdapat sifat keberanian dalam membela kebenaran, serta menjaga diri dari segala sesuatu yang haram dan merendahkan martabat seorang mukmin.
Beliau menambahkan bahwa dalam riwayat lain, Imam Ja’far Shadiq as menyempurnakan daftar akhlak tersebut dengan dua sifat lagi, yaitu kejujuran dan menunaikan amanah kepada yang berhak. Dengan demikian, seluruhnya berjumlah dua belas sifat yang menjadi karakter para nabi dan rasul. Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa apabila seorang mukmin merasa belum memiliki sifat-sifat tersebut, jalan terbaik bukanlah berputus asa, melainkan memperbanyak doa, memohon kepada Allah swt dengan penuh kerendahan hati, serta terus berusaha menghiasi diri dengan akhlak mulia sebagaimana dicontohkan oleh para utusan Allah swt.



