Pada Majelis Aza Ali Asghar a.s di ICC Jakarta, Jumat, 19 Juni 2026, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan bahwa Karbala yang diperingati oleh para jemaah, khususnya anak-anak dan para ibu, merupakan peristiwa yang memadukan akal dan kelembutan dalam bentuk yang paling agung. Menurut beliau, dua unsur itu tampak jelas dalam dua tokoh utama Karbala, yakni Al-Hurr dan Ali Asghar. Al-Hurr, kata beliau, menjadi contoh bagaimana akal dapat menuntun seseorang meninggalkan pihak kebatilan dan berpihak kepada Imam Husain as. Sementara itu, Ali Asghar menjadi contoh tertinggi dari cinta dan kelembutan yang diwujudkan dalam pengorbanan paling suci di tengah peristiwa Karbala.
Beliau menjelaskan bahwa pada diri Al-Hurr terlihat hukum akal yang membawanya kepada kebenaran. Walaupun pada awalnya berada di barisan musuh, Al-Hurr akhirnya menyadari bahwa kebenaran berada bersama Imam Husain as. Karena itu, ia memilih bergabung dengan pihak yang benar. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, pilihan Al-Hurr merupakan hasil dari akal yang sehat, yang mampu membaca kebenaran dan tidak tunduk pada kesalahan yang sedang berlangsung di sekelilingnya.
Berbeda dengan itu, Ali Asghar, menurut beliau, menjadi lambang kelembutan dan cinta yang paling tinggi dalam sejarah Karbala. Ketika Imam Husain as membawa jasad mungilnya ke tengah pasukan, peristiwa itu menggambarkan puncak pengorbanan dan kasih sayang seorang ayah, sekaligus menunjukkan betapa dalamnya tragedi yang menimpa keluarga Rasulullah saw. Beliau menyebut bahwa Ali Asghar adalah syahid termuda dalam peristiwa Karbala, dan kehadirannya menjadi simbol keindahan yang sangat agung di tengah kepedihan yang mendalam.
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian mengaitkan dua dimensi itu dengan kehidupan rumah tangga. Menurut beliau, apabila suami menjadi simbol akal dan istri menjadi simbol kelembutan, lalu keduanya menjalankan perannya dengan baik, maka keluarga akan menjadi tempat yang paling indah dan paling menyenangkan untuk membina kehidupan. Dari Karbala, kata beliau, umat dapat belajar bahwa akal tanpa kelembutan akan kering, sedangkan kelembutan tanpa akal akan kehilangan arah. Keduanya harus berjalan bersama agar kehidupan menjadi seimbang.
Beliau juga menjelaskan bahwa agama Islam memiliki syiar dan simbol yang menjaga kehidupan agama tetap hidup di tengah umat. Masjid, azan, salat, dan salat berjamaah, menurut beliau, adalah bagian dari syiar yang membuat agama terus hadir dalam kehidupan sehari-hari. Di antara syiar agama yang paling agung, kata beliau, adalah Imam Husain as dan Karbala. Imam Husain as menjadi simbol keberanian yang paling luhur, sedangkan Ali Asghar menjadi simbol keindahan dan kelembutan yang paling murni dalam peristiwa Karbala.
Dalam pandangan beliau, program internasional yang diselenggarakan untuk mengenang Ali Asghar merupakan salah satu sarana terbaik untuk mengenalkan Islam di era modern. Beliau melihat adanya pengaruh sosial yang sangat luas dari penyelenggaraan program tersebut, terutama dalam konteks tabligh agama Islam. Kehadiran anak-anak dan para ibu, menurut beliau, bukan hanya memperkuat suasana majelis, tetapi juga menjadi jaminan bahwa jiwa-jiwa generasi mendatang akan tetap terjaga dan tidak terlepas dari ajaran Islam.
Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa acara seperti ini memiliki dampak yang besar bagi kehidupan sosial dan spiritual umat. Menurut beliau, sejak usia kanak-kanak, manusia sangat dipengaruhi oleh apa yang mereka lihat dan dengar. Karena itu, menghadirkan anak-anak dalam majelis yang mengingat Karbala dan Ali Asghar adalah langkah penting untuk menanamkan nilai-nilai iman, pengorbanan, dan kecintaan kepada Ahlulbait as sejak dini.
Menutup sambutannya, beliau berpesan agar umat berusaha keras mengambil pelajaran dari seluruh sisi peristiwa Karbala. Bagi generasi muda, menurut beliau, teladan paling tepat adalah Ali Akbar. Bagi para perempuan, teladan dapat diambil dari Sayidah Zainab as dan Sayidah Ummu Kultsum as. Bagi anak-anak kecil, Ali Asghar adalah teladan yang paling dekat dan menyentuh. Adapun bagi orang-orang tua dan mereka yang telah lanjut usia, pengorbanan Imam Husain as menjadi contoh keteguhan yang paling agung. Beliau berharap agar seluruh jamaah mampu meneladani sosok-sosok tersebut dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.



