Skip to main content

Pada Jumat, 19 Juni 2026, dalam Majelis Duka Imam Husain as ICC Jakarta malam keempat, Ustaz Hafidh Alkaf membuka pemaparannya dengan mengingatkan ungkapan yang dikenal dalam Ziarah Asyura, bahwa peristiwa itu adalah musibah yang sangat berat dan sangat agung, sebuah kejadian yang tidak dapat dipandang biasa. Dalam riwayat, beliau menyebut bahwa langit hanya menangis darah dua kali sepanjang sejarah, yakni ketika Nabi Yahya as dibunuh dan ketika Imam Husain as dibunuh. Menurut beliau, karena besarnya tragedi itu, para pecinta Ahlul Bait as menjelang Muharam telah menyiapkan hati untuk menyambut bulan tersebut, sebab di dalamnya ada peristiwa agung yang wajib dibesarkan dan diagungkan.

Beliau lalu menjelaskan bahwa kehadiran jamaah di majelis Imam Husain as harus berangkat dari cinta, tetapi cinta itu tidak boleh berhenti pada emosi. Cinta, menurut beliau, harus naik menjadi mawaddah, lalu meningkat lagi menjadi wilayah, hingga seorang mukmin berusaha menjadi insan Husaini. Beliau menegaskan bahwa insan Husaini adalah insan yang terhormat, dan manusia pada dasarnya memang dilahirkan dalam keadaan mulia. Untuk menjelaskan kehormatan itu, beliau mengajak jamaah menengok kisah penciptaan Nabi Adam as. Setelah Allah swt menciptakan Nabi Adam as, Allah swt mengajarkan kepadanya nama-nama, lalu memerintahkan para malaikat untuk sujud kepada Adam. Beliau menyebut firman Allah swt:

Wa ʿallama Ādama al-asmā’a kullahā
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama semuanya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 31)

Beliau juga menyinggung firman Allah swt:

Wa idh qulna lil-malā’ikati usjudū li-Ādama fasajadū illā Iblīs
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ Maka mereka pun sujud, kecuali Iblis.” (QS. Al-Baqarah [2]: 34)

Dalam penjelasan beliau, kemuliaan Nabi Adam as tampak dari perintah sujud itu. Para malaikat adalah makhluk yang sangat mulia, tidak pernah bermaksiat kepada Allah swt, dan selalu melaksanakan apa pun yang diperintahkan. Namun, meskipun malaikat begitu mulia, Allah swt tetap memerintahkan mereka untuk sujud kepada Adam. Dari sini, kata beliau, terlihat bahwa manusia memiliki potensi kemuliaan yang sangat tinggi, karena Allah swt sendiri yang memuliakannya.

Ustaz Hafidh Alkaf kemudian membahas makna kemuliaan itu secara lebih luas. Beliau menjelaskan bahwa ada kemuliaan yang memang melekat pada zat sesuatu, dan ada kemuliaan yang datang karena penetapan dari pihak lain. Untuk memperjelas, beliau memberi contoh uang kertas. Menurut beliau, uang kertas secara zat hanyalah kertas biasa. Kertas itu baru memiliki nilai karena diberi nilai oleh negara. Beliau menceritakan pengalamannya beberapa tahun lalu ketika masih berada di Tehran, saat ada seorang dari Indonesia datang membawa produk kertas khusus untuk pembuatan uang. Dari situ beliau menyadari bahwa uang kertas memang benar-benar kertas, tetapi nilainya muncul karena negara menetapkannya demikian. Setelah dicetak, ditandatangani, dan diakui oleh otoritas, kertas itu bernilai. Namun ketika negara menggantinya dengan bentuk baru dan menyatakan yang lama tidak berlaku, maka nilai kertas itu ikut hilang. Beliau juga menceritakan pengalaman kedatangan tamu dari Iran ke Indonesia yang membawa uang dalam jumlah sangat besar, tetapi petugas mengira nilainya seperti mata uang Saudi. Dari peristiwa itu beliau menegaskan bahwa sebuah benda bisa bernilai tinggi di satu tempat, tetapi tidak bernilai sama sekali di tempat lain jika nilai itu hanya berasal dari pengakuan pihak tertentu.

Dari contoh itu beliau melanjutkan dengan penjelasan tentang manusia. Ada manusia yang dihormati karena nasab, karena jabatan, atau karena kekayaan, tetapi kemuliaan seperti itu bisa hilang begitu faktor yang menempel padanya hilang. Orang bisa dihormati selama menjadi pejabat, tetapi setelah pensiun tak ada lagi yang menoleh. Orang bisa diagungkan karena kaya, tetapi ketika bangkrut, kemuliaannya ikut runtuh. Karena itu, menurut beliau, kemuliaan yang hakiki adalah kemuliaan yang berasal dari zatnya, bukan yang menempel karena kondisi luar. Islam datang, kata beliau, dengan menegaskan bahwa manusia itu mulia. Kemuliaan manusia bukan sekadar karena status sosial, melainkan karena Allah swt sendiri memuliakan Bani Adam.

Beliau kemudian menyinggung firman Allah swt:

Wa laqad karramnā banī Ādama
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak-cucu Adam.” (QS. Al-Isra [17]: 70)

Beliau menekankan bahwa yang dimuliakan adalah Bani Adam, yakni seluruh spesies manusia. Karena itu, menurut beliau, manusia harus menjaga kehormatan yang telah Allah swt anugerahkan kepadanya. Semua hukum syariat Islam, kata beliau, mengedepankan kemuliaan manusia. Larangan gibah dimaksudkan untuk menjaga kehormatan orang lain. Larangan memaki dan memberi julukan yang merendahkan juga berhubungan dengan penjagaan harga diri. Bahkan ketika seorang anak perempuan hendak menikah, harus ada izin wali, karena kehormatan keluarga dan kehormatan ayah perlu dijaga. Dalam pandangan beliau, Islam sangat serius menjaga martabat manusia. Karena itu, orang tidak boleh merusak kehormatan orang lain, sebab kehormatan adalah sesuatu yang sangat mahal.

Beliau lalu mengaitkan semua itu dengan pesan Imam Husain as. Menurut beliau, Imam Husain as ingin mengajarkan kepada umat melalui darah dan pengorbanannya bahwa kemuliaan harus dipertahankan. Beliau menyinggung ungkapan agung Imam Husain as yang terkenal:

“Jauh kehinaan dari kami.” atau “Pantang hina.”

Beliau menjelaskan bahwa saat Imam Husain as dihadapkan pada pilihan pedang atau kehinaan, beliau memilih pedang. Bagi Imam Husain as, hidup dalam kehinaan tidak layak diterima. Beliau juga menyinggung dialog Imam Husain as dengan Qasim pada malam Asyura. Ketika Qasim bertanya tentang kematian, beliau menjawab bahwa kematian baginya lebih manis daripada madu. Menurut Ustaz Hafidh Alkaf, jawaban itu lahir dari keyakinan bahwa kematian di jalan kebenaran justru membawa seseorang kepada kehidupan yang lebih luas dan lebih mulia. Beliau mengutip pula ungkapan Imam Husain as:

“Aku tidak melihat kematian kecuali kebahagiaan.”

Dan beliau menjelaskan bahwa bagi Imam Husain as, hidup bersama orang-orang zalim adalah penderitaan. Karena itu, ketika dihadapkan pada pilihan untuk menerima kehinaan atau bangkit melawan kebatilan, beliau memilih kehormatan.

Dari sana beliau menjelaskan mengapa orang-orang husaini datang ke majelis-majelis duka. Menurut beliau, manusia yang hadir di majelis Imam Husain as ibarat air yang terkena najis dan ingin disucikan kembali. Dalam fikih, kata beliau, air sedikit yang terkena najis akan menjadi najis, dan untuk menyucikannya harus disambungkan kepada air yang banyak. Begitu pula manusia yang kotor ingin tersambung kepada sumber kesucian, yaitu Imam Husain as, agar ikut suci dan ikut mulia. Karena itu, hadir di majelis Imam Husain as bukan sekadar datang untuk mendengar, tetapi untuk mendekat kepada sumber kemuliaan. Beliau menegaskan bahwa ketika seseorang keluar dari rumah pejabat, itu mungkin dianggap terhormat. Namun ketika seseorang keluar dari majelis Imam Husain as, lalu ditanya dari mana datangnya, seharusnya ia bangga menjawab bahwa ia datang dari majelis Imam Husain as. Menurut beliau, kebanggaan itu jauh lebih tinggi daripada kebanggaan duniawi apa pun, karena Imam Husain as adalah raja tanpa mahkota, raja hati yang menguasai pemikiran dan perasaan para pecintanya.

Dalam bagian berikutnya, beliau menekankan adab ketika memasuki majelis Imam Husain as. Para ulama, katanya, mengingatkan agar seseorang tidak masuk ke majelis Imam Husain as tanpa wudu. Beliau juga menegaskan bahwa yang menjadi tuan rumah di majelis itu bukan ICC, bukan para penceramah, bukan pula para pengurus, melainkan Imam Husain as sendiri bersama Sayidah Zahra as. Karena itu, jamaah harus menjaga kesopanan dan tata krama. Jika ada jamuan yang kurang atau sederhana, jamaah seharusnya tidak sibuk mempersoalkannya, sebab tujuan utama hadir adalah untuk mendapatkan pelajaran dari Imam Husain as. Beliau menyampaikan pula bahwa setelah menghadiri majelis selama sepuluh hari, insyaallah seseorang akan ditempa menjadi insan yang lain, menjadi insan Husaini.

Menurut beliau, insan Husaini bukan hanya mengucapkan hayhāt minnā al-dhillah, tetapi pikirannya, geraknya, dan hidupnya memancarkan sikap pantang hina. Di zaman modern, lanjut beliau, banyak orang mengukur kemuliaan dari jumlah pengikut dan tanda suka di media sosial. Siapa yang banyak pengikutnya dianggap mulia, siapa yang banyak disukai dianggap berhasil, dan siapa yang banyak ditolak merasa hina. Padahal ukuran itu sangat rapuh. Dalam pandangan beliau, kemuliaan sejati tidak ditentukan oleh algoritma. Karena itu, beliau mengajak jamaah melihat kembali Karbala: jumlah pasukan Imam Husain as sangat sedikit, sementara pasukan lawan sangat besar. Namun kemuliaan tidak berada pada jumlah yang besar, melainkan pada pihak yang telah terbebas dari belenggu dunia, ego, dan kehinaan.

Beliau lalu menyebut nama-nama seperti Hur, Habib bin Muzahir, Abul Fadl Abbas, dan Zuhair bin Alqain sebagai contoh manusia yang memilih kemuliaan. Tentang Abul Fadl Abbas, beliau menjelaskan bahwa beliau bisa saja meminum air untuk menghilangkan dahaganya, tetapi beliau menolak. Beliau membuang air itu karena teringat Imam Husain as yang kehausan di kemah, juga anak-anak Imam Husain as yang kehausan. Menurut beliau, tidak ada yang akan mencela Abul Fadl Abbas jika beliau meminum air itu, tetapi beliau memilih tidak meminumnya karena seluruh orientasinya telah terlepas dari dunia. Tentang Zuhair bin Alqain, beliau mengisahkan bahwa beliau adalah orang yang disebut-sebut memiliki harta dan kedudukan. Namun ketika dipanggil oleh Imam Husain as, beliau akhirnya bergabung dan mengatakan kepada istrinya bahwa seluruh hartanya diserahkan kepadanya, lalu beliau memilih mati bersama Imam Husain as. Istrinya justru bersedih karena beliau tidak mengajaknya meraih kemuliaan bersama Imam Husain as. Dari kisah itu, menurut beliau, tampak bahwa Imam Husain as memberi kehormatan kepada siapa saja yang layak menerimanya.

Ustaz Hafidh Alkaf kemudian menjelaskan bahwa di Karbala Imam Husain as mengumpulkan orang-orang dari beragam latar belakang untuk memberi pelajaran kepada umat. Ada dari Bani Hasyim, ada yang sejak awal setia kepada Imam Husain as seperti Habib bin Muzahir dan Muslim bin Ausajah, tetapi ada pula yang sebelumnya bukan dari barisan Ahlul Bait as. Beliau menyinggung istilah Utsmani dalam literatur sejarah dan rijal, yaitu sebutan bagi mereka yang tidak bersama Imam Ali bin Abi Thalib as, lalu berkembang menjadi istilah bagi mereka yang condong kepada Bani Umayyah.

Salah seorang dari rombongan Imam Husain as, menurut beliau, berasal dari kelompok itu. Orang tersebut pada awalnya justru menghindar dari Imam Husain as, bahkan ketika berjalan bersama rombongan beliau, beliau berusaha tidak bertemu dengan Imam Husain as. Akan tetapi, ketika utusan Imam Husain as datang memanggilnya, istrinya mendorong beliau agar setidaknya mendengarkan panggilan putra Fatimah as itu. Setelah beliau pergi menghadap Imam Husain as, terjadi perubahan besar dalam dirinya. Beliau akhirnya memilih bergabung dengan Imam Husain as dan syahid bersama beliau. Ustaz Hafidh Alkaf menegaskan bahwa ini menunjukkan betapa Imam Husain as mampu memberi kemuliaan bahkan kepada orang yang awalnya berada di kubu berbeda.

Pada bagian penutup, beliau mengaitkan semua itu dengan suasana sejarah umat Islam. Beliau menyinggung peristiwa hampir pecahnya perang antara kaum Muhajirin dan Anshar pada masa Rasulullah saw, ketika Rasulullah saw menegur mereka dengan pertanyaan, “Apakah kalian kembali kepada seruan jahiliah, padahal aku masih berada di tengah-tengah kalian?” Beliau juga menyinggung firman Allah swt dalam Surah Al-Munafiqun bahwa kemuliaan hanyalah milik Allah swt, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin:

Wa lillāhi al-ʿizzah wa li-rasūlihi wa lil-mu’minīn
“Padahal segala kemuliaan itu hanyalah milik Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin.” (QS. Al-Munafiqun [63]: 8)

Menurut beliau, bila seseorang ingin mendapatkan kemuliaan, maka ia harus berpegang kepada Allah swt, berpegang kepada Rasulullah saw, dan untuk sampai kepada Rasulullah saw, jalannya adalah melalui ahlul bait as. Karena itu, beliau menegaskan bahwa hadir di majelis-majelis seperti ini, baik secara langsung maupun melalui media daring, merupakan bagian dari ikhtiar untuk meraih kemuliaan yang sejati, kemuliaan yang tidak bergantung pada dunia, tetapi bersambung kepada Imam Husain as.