Pada Minggu, 21 Juni 2026, dalam Majelis Aza Imam Husain as ICC Jakarta malam keenam, Ustaz Miftah Fauzi Rakhmat menyampaikan bahwa peristiwa Asyura memiliki kedudukan yang istimewa dalam sejarah manusia karena ia bukan hanya terjadi, tetapi juga dituliskan, dikabarkan, disebarluaskan, dan terus berkekalan dari generasi ke generasi. Beliau menegaskan bahwa di tengah jutaan peristiwa yang setiap hari terjadi di dunia, hanya sedikit yang dicatat, lebih sedikit lagi yang diberitakan, dan jauh lebih sedikit yang tetap hidup dalam ingatan umat sepanjang zaman. Menurut beliau, Asyura menjadi pengecualian yang luar biasa, sebab tragedi Imam Husain as terus bertahan bukan karena kecanggihan teknologi atau kekuatan media, melainkan karena langkah kaki para ibu dan bapak yang hadir di majelis-majelis Muharram, membawa anak-anak mereka, dan menjaga agar ingatan atas peristiwa itu tidak pernah padam.
Beliau menyampaikan bahwa tidak ada peristiwa dalam sejarah umat manusia yang seperti Asyura, terutama dalam rincian kesaksiannya yang begitu hidup dan diwariskan turun-temurun. Dalam penjelasannya, beliau mengaitkan hal itu dengan keharuan hadir di majelis duka Imam Husain as, sebab menurut beliau, kehadiran di majelis seperti itu bukan sekadar partisipasi emosional, tetapi juga bagian dari penjagaan sejarah dan penjagaan ingatan kolektif umat. Beliau bahkan mengajukan pertanyaan reflektif tentang apakah ada kenikmatan yang kelak akan dirindukan oleh penghuni surga, lalu menjawabnya dengan keyakinan bahwa salah satu kenikmatan yang akan sangat dirindukan adalah duduk di majelis-majelis Muharram Imam Husain as. Menurut beliau, majelis duka Ahlul Bait as adalah raudhah min riyadhil jannah, sepotong taman surga, sehingga orang yang hadir di dalamnya sebenarnya sedang berada dalam limpahan pandangan dan keberkahan para maksum as.
Dalam penjelasannya, beliau lalu menyinggung tema kesehatan mental yang menurutnya menjadi isu besar di masa kini. Beliau menjelaskan bahwa manusia memiliki tubuh, ruh, lahir, dan batin, sehingga sakit tidak hanya terjadi pada tubuh, tetapi juga pada jiwa dan batin. Menurut beliau, banyak gangguan seperti kecemasan, kegelisahan, dan ketidaktenangan yang kini diakui sebagai persoalan kesehatan mental. Karena itu, beliau mengajukan pertanyaan tentang bagaimana hakikat zikir yang sesungguhnya, sebab banyak orang merasa telah berzikir tetapi tetap tidak menemukan ketenangan batin. Beliau lalu mengaitkan makna zikir dengan firman Allah swt dalam Surah At-Talaq ayat 10 dan 11. Beliau menegaskan makna ayat itu secara naratif sebagai berikut: “Allah telah menyiapkan bagi mereka azab yang keras. Maka bertakwalah kepada Allah, wahai orang-orang yang berakal dan beriman. Sungguh, Allah telah menurunkan kepadamu zikir, yaitu seorang rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah.” (QS. At-Talaq [65]: 10–11). Dari sana beliau menegaskan bahwa zikir tidak berhenti pada pengucapan lisan, melainkan terhubung dengan Rasulullah saw, ahlul bait as, dan teladan suci yang membimbing manusia menuju ketenangan.
Beliau kemudian menjelaskan bahwa “ala bidzikrillahi tatmainnul qulub” dapat dimaknai sebagai ketenangan hati yang lahir dari mengenang, memperingati, dan meneladani jalan hidup Nabi saw beserta keluarga sucinya. Menurut beliau, orang yang benar-benar memahami zikir akan menemukan bahwa duduk di majelis-majelis Muharram, mendengarkan kisah Imam Husain as, dan menelusuri teladan beliau adalah bagian dari zikir yang menenteramkan batin. Karena itu, beliau menilai bahwa para penghuni surga pun kelak akan merindukan majelis seperti ini. Beliau menguatkan pandangan tersebut dengan menyebut doa para imam as dan riwayat Imam Ja’far Shadiq as yang mendoakan mereka yang menghidupkan ingatan atas Ahlul Bait as.
Dalam bagian berikutnya, beliau menguraikan makna kata qatilul abarat yang terdapat dalam ziarah Arba’in. Menurut beliau, kata buka dalam bahasa Arab menunjuk pada tangisan yang disertai suara, jeritan, dan rintihan; sedangkan dumu’ adalah tangisan tanpa teriakan; dan abarat adalah bentuk tangisan yang paling dalam, ketika kesedihan begitu besar sampai tubuh seakan menjerit meski suara dan air mata tidak lagi mampu mengungkapkannya. Beliau menjelaskan bahwa Imam Husain as disebut qatilul abarat karena beliau adalah sosok yang gugur dalam peristiwa yang membuat manusia menangis dengan berbagai tingkatan duka. Beliau juga menafsirkan kata itu dalam makna lain, yakni bahwa siapa pun yang mengingat Imam Husain as semestinya mengambil ibrah atau pelajaran. Menurut beliau, Imam Husain as disebut qatilul abarat karena ingatan kepada beliau tidak boleh berhenti pada kesedihan, tetapi harus melahirkan kesadaran, hikmah, dan pelajaran iman.
Beliau kemudian menautkan makna itu dengan pembahasan tentang jah, jahalah, dan jahiliah. Menurut beliau, jah adalah ketidaktahuan, jahalah adalah mengetahui tetapi tidak mengikuti pengetahuan itu, sedangkan jahiliah adalah keadaan jahalah yang sudah melembaga dan menjadi sistem. Dalam penjelasannya, beliau menyatakan bahwa Imam Husain as melalui kalimat “mitsli la yubayi‘u mitslah” menegaskan garis sejarah yang panjang, bahwa akan selalu ada kekuatan yang memaksa manusia tunduk kepada kehendaknya. Namun, beliau menegaskan bahwa perjuangan Imam Husain as bukan sekadar penolakan personal, melainkan penolakan terhadap seluruh bentuk penundukan yang bertentangan dengan kebenaran. Karena itu, siapa pun yang mengingat Imam Husain as semestinya juga mengambil pelajaran untuk tidak tunduk kepada jahiliah dalam bentuk apa pun, baik yang tampak dalam struktur sosial, politik, maupun dalam kebiasaan batin manusia.
Beliau juga menyinggung bahwa Asyura adalah jawaban bagi mereka yang tertindas dan tidak bersuara, termasuk mereka yang menangis dalam senyap namun tidak didengar oleh dunia. Dalam konteks ini, beliau mengaitkan tragedi Karbala dengan penderitaan umat tertindas di masa kini, termasuk rakyat Palestina di Gaza. Menurut beliau, Imam Husain as adalah representasi dari segala tangis yang tak terwakili, dari segala jerit yang tak terdengar, dan dari setiap duka yang diabaikan oleh manusia. Karena itu, hadir dalam majelis Imam Husain as berarti turut mengambil bagian dalam tangisan kolektif terhadap kezaliman, sekaligus menyambung ingatan umat terhadap para syuhada dan kaum tertindas sepanjang sejarah.
Di akhir penjelasannya, beliau kembali menegaskan bahwa majelis Muharram bukan sekadar ruang untuk menangis, tetapi madrasah untuk memahami zikir, sabar, ibrah, dan keberpihakan kepada kebenaran. Beliau mengajak hadirin untuk terus menghadiri majelis-majelis duka Ahlul Bait as, karena di sanalah ingatan kepada Imam Husain as dijaga, ketenangan batin dibentuk, dan kesadaran iman dikuatkan. Menurut beliau, siapa pun yang bergabung dalam majelis seperti itu sesungguhnya sedang menempatkan dirinya di tengah bentangan sejarah Asyura yang tidak akan pernah padam, dan sedang menapaki jalan para pecinta ahlul bait as yang sejak awal telah diwariskan untuk terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.



